Kisah Petani dan Kuda

Kisah Petani dan Kuda

Kisah Dari Tiongkok Lama

Alkisah…

Seorang petani tua dan seekor kudanya, di sebuah pedesaan di Tiongkok… pada zaman dahulu….

Pada suatu hari, kuda itu lari, menghilang di pegunungan… Semua tetangga berbela sungkawa… berempati sambil mengasihani si petani sambil beranggapan bahwa nasib buruk sedang menimpa si petani…

Si petani menjawab: Nasib buruk? Nasib baik? Siapa tahu?

Seminggu kemudian kuda itu pulang sambil membawa teman-temannya (kuda juga tentunya), sekawanan kuda liar, puluhan ekor banyaknya…. Para tetangga mengucapkan selamat kepada si petani karena si petani dianggap beruntung…

Gumam si petani: Nasib baik? Nasib buruk? Siapa tahu?

Kemudian, anak si petani mencoba menjinakkan salah seekor dari kuda liar itu, ia terjatuh dari punggung kuda dan patah kakinya. Semua orang merasa kali ini sungguh nasib malang menimpa si petani !

Tidak demikian dengan anggapan si petani. Tanggapannya: “Nasib buruk? Nasib baik? Siapa tahu?”

Beberapa minggu kemudian setelah peristiwa itu, masuklah serombongan tentara ke desa si petani. Mereka mendaftar semua orang muda yang sehat dan tidak cacat, untuk diikutkan wajib militer !

Ketika mereka melihat seorang pemuda yang patah kaki, mereka melepaskan pemuda itu.

Apakah itu nasib baik? Nasib buruk? Siapa tahu?

Sumber: Anthony de Mello, “Sejenak Bijak”.

Setiap hal, sepintas tampaknya buruk, bisa jadi (menjadi) baik setelahnya atau baik secara terselubung. Demikian juga sebaliknya. Dan peristiwa ini terjadi berterusan, bentur membentur membentuk jalinan peristiwa ke depan yang tak bisa divonis begitu saja.

Peristiwa di kehidupan ini tidak pernah terjadi sebagai “kejadian tunggal”. Ia hadir senantiasa bersinggungan dengan peristiwa lain. Kadang ia merupakan penyebab dari peristiwa berikutnya. Baik atau buruk hanyalah penilaian pikiran. Hanyalah ‘persepsi’!

Bersama dengan peristiwa (yang kita anggap) “buruk”, selalu ada ‘peristiwa baik’ (yang boleh jadi kita belum tahu).

Coba deh inget-inget… Dan juga, sebaliknya. Bersama dengan kejadian (yang kita anggap) “baik, menguntungkan”, boleh jadi mengandung peluang “keburukan” (yang juga kita tidak tahu).

Karena itulah kawan, kita tak boleh berterusan sedih, juga tak boleh berterusan gembira, apalagi sampai pongah. Waspadalah ! Waspada is the best policy, kawan!

Karena yang biasanya terjadi pada pikiran kita adalah: kita membuat persepsi atas peristiwa yang terjadi pada kita. Dan, keburu membuat kesimpulan, dan penghakiman!

Semua hanya bikinan dan tergantung persepsi (dan reaksi) kita terhadap hal-hal (yang kita persepsi sebagai) “baik” atau “buruk” tersebut. Karena ihwal yang kita lihat, dengar dan rasakan sesungguhnya hasil refleksi kita ke dalam pikiran, yang tercipta ke dalam pikiran, yang disebut “realitas internal”.

Realitas eksternal (dunia yang kita lihat), sesungguhnya adalah jelmaan dari ‘realitas internal’, yakni akumulasi persepsi-persepsi, yang kemudian menentukan reaksi selanjutnya.

Ya. Dunia hanyalah sekumpulan persepsi!

Sumber gambar ilustrasi: https://medium.com
Artikel ini pernah dimuat di www.MiracleWays.com

 

Lha yang di bawah ini adalah “Kisah Dari Tiongkok Lama” juga. Karya Kho Ping Hoo. Suka?

 

SERIAL PULAU ES

  1. Bu Kek Siansu
  2. Suling Emas
  3. Cinta Bernoda Darah
  4. Mutiara Hitam
  5. Istana Pulau Es
  6. Pendekar Bongkok
  7. Pendekar Super Sakti
  8. Sepasang Pedang Iblis
  9. Kisah Sepasang Rajawali
  10. Jodoh Rajawali
  11. Suling Emas dan Naga Siluman
  12. Kisah Para Pendekar Pulau Es
  13. Suling Naga
  14. Kisah Si Bangau Putih
  15. Kisah Si Bangau Merah
  16. Si Tangan Sakti
  17. Pusaka Pulau Es
Masalah? Renaturasi Aja!

Masalah? Renaturasi Aja!

Semua orang, siapa pun dan dimana pun, pasti pernah mengalami masalah. Beda orang, beda kebutuhan, beda pula masalah yang dialami. Seiring pertumbuhan dan perkembangan diri kita, masalah yang kita alami pun bervariasi.

Ketika kecil, masalah terbesar kita biasanya berkaitan dengan permainan, entah selalu kalah setiap bermain, selalu dicurangi, dll. Ketika kita beranjak remaja pun, masalah yang dialami pun bertambah kompleks, salah satu contoh paling umum yaitu yang berkaitan dengan asmara. Entah itu bertengkar dengan pacar, ditolak gebetan, maupun baper setelah bertemu mantan yang sudah lama tidak bersua. *Ehm* Begitu pula ketika kita telah mulai menjadi manusia dewasa, masalah yang dialami bukan hanya melulu soal cinta, tetapi juga berkembang menjadi seputar pekerjaan, entah bermasalah dengan bos atau rekan kerja, atau gaji yang dirasa terlalu kecil, dan masih banyak lagi.

Intinya, selama kita hidup kita pasti menghadapi suatu kondisi yang sangat tidak menyenangkan dan selalu merugikan kita: MASALAH. Berkaitan dengan masalah, lain orang lain pula caranya menyelesaikannya.

Reaksi yang paling umum kita lakukan ketika pertama kali mengalami masalah adalah: EMOSI. Ya, percaya atau tidak, kebanyakan orang langsung naik pitam, atau berubah menjadibad moodloyo, tidak semangat, ketika pertama kali mendapat masalah. Bahkan ada yang menjadi stress dan langsung berdampak negatif terhadap pekerjaan maupun kehidupan sosialnya. Hampir tidak ada orang yang langsung tenang atau kalem-kalem saja ketika menghadapi masalah, apalagi senyam-senyum/cengengesan. Minimal pasti langsung kesal atau kecewa.

Hal tersebut sebenarnya lumrah, selama tidak terlalu berlarut-larut dalam perasaan-perasaan negatif tersebut. Selama tidak terlalu terbuai oleh emosi yang, sebenarnya, tidak membantu sama sekali dalam pemecahan masalah kita. Yaah, tentu saja tidak ada satu orang pun yang mau terus menerus berlarut-larut dalam emosi negatif tersebut. Namun apa daya, mengembalikan mood dan semangat untuk beraktivitas saja susah, apalagi mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Susah berkali lipat!

Namun, ternyata kunci penyelesaiannya ada di diri kita sendiri. Lebih tepatnya ada di salah satu komponen yang dimiliki oleh setiap sel kita, dan ternyata kita turunkan ke keturunan kita: DNA.

kuliah tiongkok

DNA merupakan molekul yang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena di dalamnya terdapat informasi genetik, atau yang biasa disebut gen, yang menentukan ciri-ciri kita, seperti warna kulit, jenis rambut, warna mata, dll. Segala ciri-ciri yang ada di diri kita saat ini, sebagian besar berasal dari gen yang diwariskan oleh kedua orangtua kita, dan nantinya akan kita turunkan pula ke anak cucu kita.

Ketika berada di suhu yang cukup tinggi, molekul DNA akan pecah, rusak, tidak dapat berfungsi dengan baik. Namun, ketika suhu diturunkan, atau dengan kata lain, molekul DNA tersebut didinginkan, molekul-molekul DNA yang tadinya rusak bergabung kembali menjadi DNA yang utuh. Molekul DNA yang telah utuh kembali ini pun dapat berfungsi kembali.

Sama seperti DNA yang terdapat di setiap sel tubuh kita, ketika kita terlarut dalam emosi ketika menghadapi masalah, kita akan susah untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang kita alami. Diri kita sedang ter’denaturasi’. Bagaimana bisa mencari jalan keluar, jika kondisi diri kita sendiri saja tidak optimal?

Namun, jika kita bersedia untuk cooling down sejenak, menenangkan diri kita sendiri walaupun untuk sekejap saja, pasti ditunjukkan jalan keluarnya. Pasti ada saja jalan atau ‘hidayah’ yang kita terima, sehingga kita dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan baik. Intinya, kita harus ‘mendinginkan kepala’ kita terlebih dulu, agar diri kita ini ter-’renaturasi’ kembali, menjadi ‘satu kesatuan yang utuh’ kembali.

Cara me’renaturasi’ diri ini biasanya berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang melakukannya dengan beribadah, meditasi, membaca buku, main games, dan masih banyak lagi, tergantung dari kepribadiannya. Apapun cara yang ditempuh, tujuannya tetap satu: Menenangkan diri agar dapat menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Segala jawaban terhadap pertanyaan, keraguan, atau hal-hal lain yang mengusik kehidupan sehari-hari kita ternyata telah disediakan di dalam diri kita sendiri. Jika kita ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang tubuh kita, ternyata di dalamnya terdapat berbagai macam informasi penting yang mampu membantu kita dalam menjalani hidup sehari-hari.***

 

Tulisan ini pernah diterbitkan di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/02/masalah-renaturasi-aja.html

 

Jadi Tumor Masyarakat, Mau?

Jadi Tumor Masyarakat, Mau?

Setiap orang, terutama anak muda, pastinya kan punya keinginan untuk bebas mengembangkan dirinya. Bebas berkreasi, pengen membuktikan kalo dirinya bisa dan bukan orang sembarangan. Pengen membuktikan kalo dia itu bisa sukses. Termasuk saya, kamu, kalian juga, pasti ada keinginan semacam itu. Intinya aktualisasi diri agar diterima di lingkungan masyarakat.

Caranya ya tentu saja bervariasi, tergantung dari lingkungan mana yang pengen didapatkan pengakuannya. Kalo dia ingin terjun ke lingkungan yang menganggap orang pintar itu keren, tentunya yaa dia akan belajar segiat mungkin agar diterima oleh orang-orang di lingkungan itu. Kalo dia ingin masuk ke lingkungan yang mengaggap orang yang badannya bagus itu keren, pastinya yaa dia bakal lebih sering work out ke gym, bikin badannya jadi bagus, berotot dan ideal, agar diterima dilingkungan tersebut. Dan sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

Cuman, dalam upaya agar diterima di lingkungan masyarakat tertentu, ada orang-orang yang, istilahnya, kebablasan dalam berusaha. Saking kelewat pengennya dia agar diakui oleh masyarakat, dia jadi lose control, lupa diri dan malah melakukan sesuatu yang justru membahayakan dirinya.

kuliah tiongkokKasus-kasus seperti sekelompok pemuda yang overdose karena lagi pesta miras oplosan (itu merekanya yang emang udah gila siih, masa’ iya miras dicampur sama Baygon lah, sol sepatu lah), para muda-mudi yang memamerkan foto mereka sedang beradegan gak senonoh, bikin graffiti di tembok rumah orang pake gambar kemaluan ato bahasa-bahasa kasar, bisa jadi salah satu contohnya.

Biasanya anak-anak yang seperti itu kan mereka yang merasa gak dapet kasih saying di rumah, gak cukup dapet perhatian dari keluarga, ato justru anak-anak yang terlalu dikerasin sama ortunya. Intinya mereka yang gak bisa mengekspresikan diri mereka dengan cara yang bener, jadinya mereka memilih untuk melampiaskannya di luar. Caper ke orang-orang lain, tapi caranya salah. Berusaha untuk tumbuh dengan caranya sendiri, tapi kebablasan.

Persis seperti tumor.

Loh?

Kok tumor?

Iya, tumor kan sel yang tumbuhnya kelewat cepet. Ini bisa terjadi soalnya ada salah satu komponen sel, yang fungsinya cukup penting buat pembelahan sel, Protein Kinase C, kelebihan jumlahnya. Jadi pas sel-sel yang lain masih membelah diri jadi dua, empat sel, si sel tumor ini udah tumbuh jadi puluhan bahkan ratusan sel yang bikin kelompok sendiri.

Apa bagus?

Tenyata nggak.

Kumpulan sel-sel yang kebablasan pertumbuhannya itu ternyata bisa mengganggu dan menghambat pertumbuhan sel-sel normal di sekitarnya. Si sel-sel normal itu akhirnya jadi ‘kejepit’, gak bisa beraktifitas normal, dan ujung-ujungnya malah mati. Dan parahnya, kalo udah dalam tahap akut, si tumor ini nantinya juga bakal nyebar ke bagian tubuh yang lain, jadi kanker. Aktivitasnya yaa gak beda jauh dengan pas jadi tumor, mengganggu aktivitas sel-sel di sekitarnya.

kuliah tiongkok

Apa tubuh kita gak melakukan sesuatu untuk menghabisi si tumor ini? Tentu iya, cuman karena si sel tumornya ini yang udah kelewat kuat, jadi sel-sel pertahanan tubuh kita sendiri kewalahan.

Cara yang bisa ditempuh yaa akhirnya operasi. Membuang si tumor ini. Daripada mengacau di dalam tubuh, ya kan?

Naahh, sekarang siapa yang mau jadi kaya’ si tumor ini? Tentunya gak ada toh. Jangan sampai karena keinginan egois kita pribadi untuk mengembangkan diri kita, untuk menujukkan/memamerkan jati diri kita, kita jadi lupa diri, lupa untuk mengontrol diri kita sendiri. Emang ingin berkarya itu baik, tapi kudu tetep tau aturannya kan? Tetep harus memperhatikan norma-norma sosial yang ada di masyarakat kita. Kalo gak, yaa siap-siap aja kita disebut Tumor Masyarakat. Siap-siap aja bernasib sama seperti si tumor itu, di’operasi’ dari lingkungan masyarakat, alias dipaksa untuk keluar, dikucilkan. Alih-alih mendapat pengakuan yang kita idam-idamkan, yang kita dapat justru kecaman, hinaan dan caci-makian.

Karena yaa emang kitanya yang gak tau batas, malah mengganggu keamanan dan kenyamanan penduduk sekitar. Berkarya dengan baik, bahkan kalau perlu mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar, seperti ngadain kerja bakti bersihin kali kah, meramaikan langgar di kampung setempat kah.

Kan masih banyak aktivitas positif lain, yang selain bisa membantu kita menunjukkan ke masyarakat “siapa diri kita sebenarnya”, tetapi juga mendapat bantuan & dukungan dari orang-orang. Bikin mereka seneng, ato seenggaknya gak bikin mereka risih.

Bisa kan? Pasti bisa.

NB: Jika kalian merasa konten blog ini menarik, bisa like Facebook: CalonDokter, untuk update postingan berikutnya.

Ditunggu komentar, kritik & sarannya yaa agar CalonDokter semakin berkembang!

Terima kasih ^0^

 

Tulisan ini pernah dimuat di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/02/jadi-tumor-masyarakat-mau.html

 

Cellular Signal ‘Gosipping’ (English)

Hey, did you know? Last night when I was taking a stroll with Manish, suddenly we bumped into Neil and Riri. They were holding hands and then bla bla bla… And, ugh, after that I felt bla blueh bleh…

           The dialog shown above is one of the conversation, which I often heard, from my girl friends (not girlfriends, I don’t even have any at the moment, sadly speaking). The conversation which is, actually, capable to fills the gloomy and lonely days of ours. The conversation which had became a media for us to communicate and gather information. The conversation which, at a glimpse, seems to has no end and, strangely enough, would never run out of topic every day. The conversation which, seems had, became the first to check in our To-Do List, when we’re hanging out with friends, especially for the girls. What kind of conversation am I talking about, anyway?

Well, let me give you some clues:

Firstly, This conversation is widely popular among girls

Secondly, This conversation is commonly used by using this kind of system: Source of information/Informant à First Receiver à Second Receiver à Third, Fourth Receiver, and so on

Thirdly, The main function of this kind of conversation is to relay information from one source, which is the informant, to one another continuously. So that the majority of others know about it.

Yepp, the kind of conversation that I’m talking about is: Gossip, a kind of information gathering which depends on the continuously relay of information from one person to the others. Gossiping seems like to have already become something non-unfamiliar for us, whoever we are and wherever we are, it can be stated for sure that we had ever participated in it. No matter if we acknowledge it or not. No matter if we remember in doing so or not.

And, curiously speaking, the stereotype of gossiping had, since many years ago, become a distinct characteristic of females, although, in some cases, males are also willing to take a role in it. Or to be precise, are curious to know some up to date information from our surroundings.

Since the desire to know, based on advanced form of Maslow’s Hierarchy of Needs, is one of the things that we, as humans, considered to be important to be fulfilled. Thus, creating the overwhelming urge in ourselves, consciously or not, to gather as much information as we could. And gossip, for some people, provided the decent fulfillment for that necessity.

Although the authenticity and credibility of the information in gossip is highly questionable, but, well, that’s not the point here actually.

The point is the way or method of how the gossip was spread and being relayed is, in fact, pretty much similar to one of the metabolic process in our body, which called Cellular Signal Transduction/CST.  The main function of this process is to relay the information from the extra-cellular environment into the cell, which will then react accordingly to the information given.

For example: The glucagon hormone in the blood stream will tell the hepatocytes in our liver, whether it should increase the glycogen level or not.

And, the main and unique feature of this process, which is somewhat similar to gossip, is the continuously relay of information from one molecule to the others, which is called cascade. The continuously relay of information, which was started from the outer membrane-receptor, to the intracellular signal transducers (including second messenger and other proteins), then to the effecter protein, which then will have a specific reaction according to the information given, has the role of enhancing and strengthening the information’s signal.

In other words, the longer the cascade is, that means that the more important the information that was being relayed. Pretty much similar to gossip: the more people know about it, then the more interesting and ‘important’ the gossip really is, isn’t it?

Furthermore, the process of CST is somewhat resembled the one that of the gossip:

First, The first process of CST is the binding of information-carrying molecules, which is called ligand, to the specific outer membrane-receptors. There are a lot of ligands in our body, such as: hormones (Glucagon, Angiotensin, Vasopressin etc) Acetylcholine, etc. This process, simply speaking, is the analogy of the relay of gossip information from the informant to the first receiver.

Second, After the ligand has bind to the receptor, it will trigger the next molecules to active:intracellular signal transducers. This molecules, which is consisted of: second messenger, such as cGMP and cAMP (nucleotides), Calcium ion, DAG (lipid), etc; and other protein molecules, such as G-Protein, Adaptor Protein, Schaffold Protein, Protein Kinase/Phosphate, etc, served the role of enhancing and strengthening the information’s signal.  This is similar to the relay of the gossip news from the first receiver to the second receiver, or from the second receiver to the third receiver, and so on.

Third, The activation of the intracellular signal transducers will activate the other molecules, known as the effecter protein, which is functioned to give a response according to the information that has been relayed. This is the final process of the ‘gossip cascade’, when every related components have served their role in relaying the information and the accordingly response has been commenced.

Based on that simple explanation, it can be concluded that thanks to the ‘gossiping’ of the related components which composed our cells, we’re able to maintain our metabolic process, which has supported our life up until now. So, frankly speaking, are we being maintained and supported through gossip? Unfortunately, it seems so. But, as long as we use that ‘gossip’ for the good of others, it’s okay right? Just like how our body is ‘gossiping’ through the Cellular Signal Transduction pathways.

I’m joking, there’s basically no good in gossip.

But anyway, thanks for reading the article!

 

This article was also published in:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/01/cellular-signal-gosipping-english.html

 

Cellular Signal ‘Gossiping’

Cellular Signal ‘Gossiping’

 Eh La, lu tau gak siih semalem kan gue jalan sama si Manish. Eh, tiba-tiba ketemu sama si Riri & Neil gandengan tangan trus mereka bla bla bla.. Iiihh kan gue jadinya blueh blueh bleh…”



Kutipan dialog di atas merupakan percakapan, yang seringkali saya dengar, dari teman-teman saya, terutama perempuan, yang kerap kali mengisi hari-hari kami yang terkesan sunyi dan monoton. Percakapan yang acap kali menjadi media kita untuk berkomunikasi dan mengumpulkan informasi. Percakapan yang, sekilas, terkesan tiada henti dan, anehnya, tidak pernah kehabisan bahan setiap harinya. Percakapan yang, seolah, menjadi menu wajib yang pasti dilakukan setiap berkumpul bersama kawan, terutama oleh ibu-ibu arisan, dari kalangan mana pun. Percakapan apa sih yang dimaksud?

 

Well, mari saya beri petunjuk:

Satu, Percakapan tersebut umumnya dilakukan oleh perempuan;

Dua, Percakapan ini biasa dilakukan dengan sistem seperti berikut: Sumber informasi à Penerima pertama à Penerima kedua à Penerima ketiga, keempat dst.

Tiga, Fungsi dari percakapan sejenis dengan sistem seperti itu adalah penyampaian informasi dari satu sumber (informan) ke pihak-pihak lain secara beruntun, sehingga (hampir) semua orang mengetahuinya.

Yapp, percakapan yang saya maksud adalah: GosipGosip-menggosip seakan sudah menjadi hal yang tidak asing di keseharian kita, siapa pun dan di mana pun kita berada, sudah bisa dipastikan kita pasti pernah terlibat di dalamnya. Hayoo, akui saja sudah. Dan entah kenapa stereotip gosip selalu ‘dituduhkan’ kepada kaum Hawa, padahal tidak menutup kemungkinan beberapa golongan dari kaum Adam pun menyukainya. Atau lebih tepatnya, menyukai informasi yang dibawa melalui gosip tersebut, karena biasanya hal yang biasa digosipkan adalah informasi-informasi ter-up to date dari lingkungan sekitar. Tentu saja tidak ada yang mau dibilang kudet kan?

Salah satu karakteristik utama dari gosip, selain dari pelaku, yaitu dari mekanisme penyampaian informasinya, yang umumnya melibatkan: Sumber informasi/informan, Penerima Pertama, Penerima Kedua, Penerima Ketiga, Keempat, dst. Intinya adalah: Menyampaikan informasi secara beruntun dari satu pihak ke pihak lain, sehingga informasi tersebut dapat dengan mudah diketahui dan diakses oleh semua orang. Yaah, walaupun keabsahan informasi gosip memang patut dipertanyakan. But, well, that’s not the point.

 

Dan ternyata, dengan menggunakan prinsip yang sama, komponen-komponen penyusun sel-sel tubuh kita pun ber’gosip’ untuk menerima dan menyampaikan informasi dari luar sel. Proses ini dinamakan Transduksi Sinya Sel (Cellular Signal Transduction/CST). Fungsi dari proses ini adalah, tentu saja, menyampaikan informasi yang berasal dari lingkungan di luar sel (extracellular) ke protein terkait, sehingga menghasilkan reaksi yang sesuai dengan informasi yang diterima.

Contoh: Hormon Glukagon akan mengirimkan informasi ke dalam sel-sel hati (Hepatocytes) terkait kadar glikogen di dalam hati, apakah sebaiknya ditingkatkan atau diturunkan.

Dan, fitur unik dari proses ini adalah adanya serangkaian reaksi beruntun dalam penyampaian informasinya, atau yang biasa disebut dengan cascade. Penyampaian informasi secara beruntun, yang bermula dari reseptor/penerima yang terletak di membran luar sel,intracellular signal transducers (meliputi second messenger & protein lainnya), protein efektor, hingga menghasilkan respon yang sesuai, ini berfungsi untuk memperkuat sinyal informasi yang dibawa.

Dengan kata lain, semakin panjang dan rumit cascade yang ada, maka bisa dibilang semakin penting informasi yang dibawa. Kurang lebih sama kan dengan gosip: Semakin panjang rantai penerima berita gosip, berarti semakin menarik dan ‘penting’ lah gosip tersebut. Bukan begitu?

Selain itu, proses CST ini ternyata kurang lebih beti (beda tipis) loh dengan sistem gosip.

Satu, Proses pertama dari CST yaitu menempelnya molekul pembawa informasi dari luar sel, atau yang biasa disebut dengan ligan, ke reseptor yang terletak di membrane luar sel. Tahap ini bisa dianalogikan dengan penyampaian gosip dari Informan ke Penerima Pertama.

Dua, Melekatnya molekul ligan ke reseptor, akan mengaktifkan ‘pihak’ berikutnya yang disebutintracellular signal tranducers. Molekul ini, terdiri dari: second messenger, seperti ion kalsium/ Ca2+, DAG (lipid/lemak), cAMP & cGMP (nukleotid), dll;  serta protein lainnya seperti: G-Protein, Protein Adaptor, Protein Kinase/Phosphatase, dll, berfungsi untuk memperkuat sinyal informasi yang sedang disampaikan. Atau, dengan kata lain, tahap ini merupakan tahap penyampaian gosip dari Pihak Pertama ke Pihak Kedua, atau dari Pihak Kedua ke Pihak Ketiga, dst

Tiga, Aktivasi dari intracellular signal tranducers ini kemudian akan mengaktivasi senyawa protein efektor, yang berfungsi untuk menghasilkan reaksi terkait dengan informasi yang telah diterima. Senyawa ini dapat berupa enzim metabolik, protein regulator gen, atau pun protein cytoskeleton. Pada tahap ini, ‘gosip’ telah mencapai tahapan final ketika seluruh komponen terkait telah menerima informasi dan, bisa dipastikan, respon yang diinginkan telah terwujud.

Nah, berdasarkan penjelasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa komponen penyusun sel tubuh kita pun, ber’gosip’ untuk menyampaikan dan memperkuat informasi, sehingga terjadilah serangkaian proses metabolik yang menunjang kehidupan kita. Berarti, kita bisa tetap hidup dan beraktivitas, berkat gosip donk? Sayangnya, berdasarkan pengetahuan yang saya terima, iya. Namun, tetap lah perhatikan penggunaan dan penempatan gosip yang tepat. Marilah kita ‘bergosip’ untuk menyebarkan berita baik dan membawa manfaat bagi sesama, sama halnya dengan proses Cellular Signal Transduction di dalam tubuh kita.

Salam Ilmu Pengetahuan!

 

NB: Jika kalian merasa konten blog ini menarik, bisa like Facebook: CalonDokter, untuk update postingan berikutnya.

Ditunggu komentar, kritik & sarannya agar CalonDokter semakin berkembang!

Terima kasih ^0^

 

Tulisan ini pernah terbit di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/01/cellular-signal-gossiping.html

 

Salju Pertama Yang Kulihat dan Kunikmati!

Salju Pertama Yang Kulihat dan Kunikmati!

Pagi hari itu, harusnya sama dengan hari-hari lain. Namun, saya pun tak tahu kenapa, tiba-tiba saja terbangun, tanpa terpaksa dibangunkan oleh bunyi alarm HP yang, jujur, sangat mengusik. Tapi justru bunyi alarm itu yang tetap saya gunakan, karena berkat suara alarm, yang sebenarnya tidak terlalu keras namun bunyinya cukup memuakkan telinga, itu lah saya mampu untuk bangun tepat waktu setiap paginya. Yaahh, walaupun untuk jaga-jaga saya tetap memasang alarm lagi 2-3 jam setelah jam alarm yang pertama (hanya berlaku pas liburan saja siih).

musim salju di tiongkok

Tapi, entah kenapa pagi itu terasa berbeda. Selain karena tanpa bunyi alarm yang mengusik dan selalu memaksa saya bangun tersebut, tetapi badan saya juga terasa lebih segar, terasa nyenyak sekali rasanya tidur saya pada malam harinya. Entah apa yang terjadi.

Malam harinya, memang agak berbeda dari malam-malam yang lain. Sebab pada saat saya beranjak tidur, memang terdengar suara hujan, yang tidak seperti suara hujan biasanya. Hujan di Chongqing ini biasanya hanya sekedar gerimis kecil-kecil saja, sangat jarang hujan deras seperti di Indonesia. Tapi hujan di malam itu pun bukan tipe hujan deras, suaranya lebih seperti ada sesuatu yang lebih berat dan padat dari sekedar jutaan air yang berjatuhan. 

Ah bodo’ lah, udah ngantuk”, pikir saya.

Saya pun tertidur.

kuliah di tiongkok lihat salju

 

Saya terbangun keesokan harinya dengan kondisi tubuh yang, entah kenapa, terasa lebih segar. Dan, ketika saya membuka tirai jendela kamar, saya lebih terkejut lagi dengan kondisi luar kamar, yang secara menakjubkan diselimuti oleh tumpukan benda halus berwarna putih, yang tidak disangka-sangka, setelah sekitar 3 tahun, akan mampir ke Chonging pada hari itu. Ya, Chongqing bersalju! Jadi ini penyebab tubuh saya tiba-tiba segar! Ia tahu bahwa ada sesuatu yang menarik sedang terjadi, sesuatu yang sudah lama saya idam-idamkan, dan akhirnya terwujud! Tak terbayangkan betapa bahagianya saya saai itu!

kuliah tiongkok main sama salju

Salju pertama saya di kota yang terkenal sebagai salah satu kota terpanas di dataran China. Chongqing merupakan salah satu dari 4 kota munisipal terbesar di China, bersama dengan Beijing, Shanghai dan Tianjin, dan termasuk kota industri terbesar di sepanjang dataran Negeri Panda ini. Sebagai kota industri, pembangunan kota Chongqing lebih diutamakan ke pabrik-pabrik yang, berkat limbah polusi yang dihasilkan, menjadikan kota ini memiliki iklim yang cukup aneh.

Musim panas di sini memang sangat panas, dengan suhu mencapai 40°C tanpa adanya sinar matahari yang menyengat. Ya. Cuaca di Chongqing saat musim panas memang bisa mendung, terkadang hujan rintik-rintik, tetapi suhu udara tetap sekitar 32-35°C. Panas yang dihasilkan bukan panas karena terik matahari yang menyengat, tetapi lebih ke pengap, rasanya seperti kekurangan oksigen untuk bernapas. Dan, musim dingin di Chongqing biasanya ‘hanya’ mencapai 1-5°C, hanya dingin yang menusuk tulang tanpa adanya salju, paling menthok hujan yang lumayan deras.

kuliah di tiongkok main salju

Yaah, hal yang cukup mengecewakan saya pada awalnya. Karena saya berharap dapat melihat dan mengalami sendiri musim dingin bersalju, seperti yang biasa saya lihat di film-film. Dan ternyata, bukan hanya saya saja. Setiap pelajar asing, terutama dari Indonesia, yang saya kenal, pun agak kecewa karena tidak bisa menikmati salju musim dingin di Chongqing.

Namun, hari itu, sepertinya semua doa, harapan dan penantian kami pun terkabul. Jalanan Chongqing, di bagian Daxuecheng, tempat kampus kami berada, lebih tepatnya, diselimuti oleh kristal putih yang menumpuk dan terlihat sangat fluffyYuhuuu!!

jilat salju

Saya yang kelewat bahagia dan super excited langsung keluar dan menikmati salju perdana di Chongqing. Itu pertama kalinya saya melihat dan merasakan salju secara langsung. Melihat bagaimana setiap butiran kristal heksagonal salju berjatuhan dari langit, berusaha memegangnya dengan menengadahkan tangan saya, dan melihatnya mencair secara perlahan di telapak tangan saya. Merasakan pula bagaimana rasanya memegang tumpukan salju yang sudah menumpuk di permukaan tanah, mengambilnya dengan tangan saya sendiri, merasakan kelembutan teksturnya, yang kurang lebih mirip seperti menggenggam bunga es di freezerkulkas, hanya saja lebih lembut, untuk pertama kali.

Sungguh perasaan yang menakjubkan. Ya, setiap hal yang dilakukan pertama kali, terlebih lagi itu hal yang unik, dan kita menyukainya, pasti selalu menimbulkan perasaan yang menakjubkan. Ya ‘kan?

Tentu saja kesempatan itu tidak kami lewatkan sia-sia dengan mengabadikan momen tersebut. Hal yang langka seperti ini tentu saja tidak akan berlangsung lama. Pengalaman mengajarkan saya itu. Sok bijak!

salju tiongkok

 

Namun, tidak bisa berlama-lama pula kami mengabadikan momen itu karena kamera HP saya tiba-tiba error.  Teman saya, yang sempat merasakan pengalaman bersalju di Jerman, memberi saya pencerahan bahwa memang HP akan sedikit error ketika digunakan di suasana bersalju, dikarenakan cuaca yang terlalu dingin sehingga menghambat kinerja HP. Dia pun juga mengatakan bahwa sebaiknya saya menghindari penggunaan HP yang berlebihan dan menghangatkannya kembali agar tidak error.

 

Saya pun hanya manthuk-manthuk saja mengiyakan, karena memang selain kekatrokansaya yang pertama kali melihat salju, tetapi juga ketika di rumah dulu adik saya saja sampai harus nangkring di kulkas untuk memperoleh suasana sejuk. Maklum, kipas angin sudah tidak mempan dan membeli AC terlalu mahal. Maksudnya, kalau kulkas bisa dimanfaatkan sebagai AC, kenapa tidak? True Story (bergaya dengan memakai jas sambil menggoyang-goyangkan gelas kaki berisi jus anggur).

Setelah saya menghangatkan HP saya sejenak, dengan mendekapnya erat-erat,  berusaha memberikan kehangatan kepadanya, seperti saya mendekap kekasih hati saya, kalau dan semoga saja ada, suatu saat nanti (maklum, sudah terlalu lama jomblo. Abaikan), kami pun menuju flat kawan kami di kompleks seberang, mengajak dia dan junior, yang kebetulan menginap di sana, untuk bermain salju.

snow cat di tiongkok

Hari itu memang momen pertama bagi kami semua untuk menikmati salju. Jadi, tentu saja kami sangat bersemangat. Kelewat bersemangat, malah. Kami bermain perang salju, menggumpalkan salju dan melempar-lemparkannya sambil berteriak-teriak layaknya anak kecil. Bahkan, mungkin saking terlihat kekanakannya kami saat itu, anak-anak kecil di sekitar pun ikut bergabung dengan peperangan kami tersebut. Tak lupa, kami juga membuat boneka salju kami yang pertama. Yaahh, walaupun sama sekali berbeda dari model boneka salju mainstream, dikarenakan modifikasi di sana-sini, tapi kami cukup puas. Sangat puas malah.

 

Saya jadi berpikir, bahagia memang sederhana. Terkadang, hal-hal yang terlihat sepele, justru mampu menjadi kunci kebahagiaan bagi diri kita. Bukan apa yang dilakukan, sebenarnya, yang membuat bahagia, namun momen di saat kebahagiaan itu tercapailah yang membuat kita bahagia. Seperti ketika kita sangat mengharapkan sesuatu, tetapi kita harus menerima tamparan dari kenyataan yang pahit, dan kemudian di saat-saat desperate kita, ketika kita berpikir bahwa harapan itu tidak akan menjadi kenyataan, namun realita kehidupan kembali berbalik menyerang kita dengan mengabulkan apa yang sudah sejak lama kita harapkan itu, bisa menjadi hal paling membahagiakan yang pernah dirasakan.

Tak perlu membeli barang-barang mewah nan berkilau. Tak perlu bepergian, tamasya kesana-kemari untuk dapat mengecap kebahagiaan. Mencukupkan diri dengan apa yang ada, sembari sambil terus berusaha dan senantiasa berharap yang terbaik, namun juga mengantisipasi yang buruk, tentunya, justru akan membuat kebahagiaan itu sendiri yang mampir, datang ke kehidupan kita. Karena, memang, kehidupan selalu memiliki caranya tersendiri untuk membuktikan bahwa kita itu salah. For better or for worse.

salju tiongkok

Selamat berbahagia, teman-teman!

 

NB: Jika kalian merasa konten ini menarik, bisa like Facebook: CalonDokter, untuk update postingan berikutnya. 

Ditunggu komentar, kritik & sarannya agar CalonDokter semakin berkembang! 

Terima kasih ^0^   

Tulisan ini pernah terbit di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/01/salju-di-chongqing-akhirnya.html

 

Virus Zika: Keluarga Aedes Berulah Lagi

Virus Zika: Keluarga Aedes Berulah Lagi

Zika. Namanya bagus ya… Kayak nama artis yaa.. Eh.. Dunia pernah dihebohkan dengan ulahnya! Nah lo… Eh ini nama virus lhoh.. Virus baru ini cukup berbahaya lhoh gaess. Namanya, virus Zika. Ya, yang tadi itu. Bahaya virus ini seringkali disetarakan dengan bahaya virus Demam Berdarah. Salah satu penyebabnya, mungkin, karena agen penyebaran kedua virus ini yang sama: nyamuk AedesYa, lagi-lagi keluarga si kecil belang hitam putih ini berulah. Entah apakah nyamuk Aedes yang menyebarkan virus Zika ini memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan nyamuk Aedes aegypti, tapi yang jelas keberadaan virus ini patut diwaspadai. Bisa jadi, dalam kurun waktu yang gak begitu lama virus ini mulai menyerang Indonesia.

Virus Zika

Menurut data dari World Health Organization (WHO), awal mula munculnya virus Zika ini adalah ketika virus ini ditemukan di monyet rhesus di Uganda pada 1947. Virus ini kemudian mulai menyerang manusia, di negara yang sama, pada 1952. Ternyata, di tahun yang sama Zikagak hanya menyerang warga Uganda, tapi juga udah menyerang wilayah Tanzania. Sejauh ini, penyebaran virus ini meliputi negara-negara di kawasan Afrika, Amerika Latin dan negara-negara Pasifik.

kuliah kedokteran tiongkok

Gejala virus ini kurang lebih sama dengan DB, yaitu demam, nyeri sendi, danconjunctivitis (mata merah). Gejala lain yang umum ditemui yaitu nyeri otot dan sakit kepala. Gejala-gejala tersebut biasanya merupakan gejala yang sifatnya ringan, tapi bertahan sampai berminggu-minggu lamanya.

Sejauh ini, walaupun masih belum ditemukan kasus pasien yang meninggal karena Zika, tapi kita tetap harus berhati-hati, karena masa inkubasi dan informasi lain tentang virus ini yang belum diketahui, maka belum ada vaksin tertentu untuk mengobati virus ini.

Pencegahan dan Penanganan

Dikarenakan agen penyebaran virus ini yang sama dengan DB, maka mencegah virus ini menyebar sebenarnya cukup gampang: menghindari dan mengurangi gigitan nyamuk. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan 3M: Menguras tempat penyimpanan air, Menutup tempat penampungan Air, Menimbun barang-barang yang mampu menampung air. Intinya, jangan sampai tubuh kita sering-sering digigit nyamuk. Menggunakan raket listrik pembasmi nyamuk,lotion anti nyamuk atau obat anti nyamuk pun bisa menjadi cara yang cukup efektif untuk mengurangi gigitan nyamuk.

kuliah kedokteran tiongkok jelaskan zika

Bagi kalian yang lagi sakit atau gak enak badan, sebaiknya makan teratur, tidur yang cukup dan rajin minum air putih agar kekebalan tubuh meningkat. Jika sakit tetap berlanjut, langsung menghubungi dokter terdekat untuk mendapatkan pengobatan yang lebih lanjut.

Virus Zika & Microcephaly

Ketika terjadi penyebaran virus ini di Brazil pada 2015, pemerintah setempat telah menemukan adanya keterkaitan antara virus Zika dengan microcephalyMicrocephaly adalah salah satu penyakit kongenital yang menyebabkan bayi lahir dalam kondisi volume otak yang menyusut, lebih kecil daripada bayi-bayi normal. Hal ini menyebabkan perkembangan otak bayimicrocephaly yang cenderung cacat, yang berakibat pada kinerja otak yang tidak maksimal.

Sejauh ini, pada 2015 telah diduga ditemukannya 739 kasus microcephaly di Brazil, sangat jauh meningkat dibandingkan kasus microcephaly di Brazil pada tahun 2014, yang hanya mencapai 147 kasus. Oleh karenanya, diduga adanya keterkaitan antara meningkatnya kasus virus Zika dengan meningkatnya kasus microcephaly di Brazil. Walaupun hal ini sedang diteliti oleh Departemen Kesehatan setempat, sangat dihimbau bagi ibu-ibu hamil untuk sangat berhati-hati dalam menjaga kesehatannya.

Tapi, jika hal ini memang benar, maka virus Zika ini bisa jadi jauh lebih berbahaya daripada Demam Berdarah. Karena, selain menyerang orang dewasa dengan gejala yang berpotensi utuk sama bahayanya dengan DB, Zika juga menyerang janin ibu hamil, menyebabkan pengecilan volume otak bayi. Bayangkan, jika hampir seluruh ibu hamil terjangkit virus Zika ini, mereka nantinya akan melahirkan generasi-generasi penerus yang memiliki volume otak yang mengecil. Bahayanya apa? Kan cuma volume otak yang mengecil? Justru di situ lah bahayanya.

Otak merupakan pusat kendali dari segala kegiatan tubuh, ia mengendalikan seberapa cepat jantung harus berdetak, mengontrol pertumbuhan dan perkembangan sel-sel tubuh, dan berbagai macam proses metabolik tubuh lainnya. Selain itu, beberapa daerah di otak bertanggungjawab atas kemampuan kita untuk berpikir, berkomunikasi, berbahasa, dan segala macam keterampilan lainnya. Jika terjadi kerusakan pada otak, misal kerusakan pada Wernicke’s area di otak akan menyebabkan terganggunya kemampuan berbahasa kita.

kuliah kedokteran tiongkok

Microcephaly bukan hanya dapat menurunkan kemampuan otak di bagian tertentu, tapi dapat menyebabkan menurunnya kemampuan otak secara keseluruhan, mengakibatkan berkurangnya kemampuan untuk beraktifitas secara normal, seperti berpikir, berkomunikasi, dll. Bisa dibayangkan kondisi Indonesia dan dunia 20-30 tahun lagi jika virus ini tetap menyebar. Kenyataan bahwa virus ini bukan hanya menyerang orang dewasa dan generasi saat ini, tetapi juga berpotensi menyerang generasi-generasi penerus, menjadi alasan kuat bagi kita untuk mencegah meluasnya penyebaran virus ini.

Oleh karena itu, mari jaga diri, keluarga dan generasi penerus kita dari penyakit berbahaya seperti virus Zika ini.

Semoga bermanfaat!

NB: Jika kalian merasa konten blog ini menarik, bisa like Facebook: CalonDokter, untuk update postingan berikutnya.

Ditunggu komentar, kritik & sarannya agar CalonDokter semakin berkembang!

Terima kasih ^0^

 

Tulisan ini pernah muncul di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/01/virus-zika-keluarga-si-kecil-aedes.html

 

Balap Karung di Tiongkok

Balap Karung di Tiongkok

Siapa bilang kuliah di Tiongkok gak bisa main balap karung?  Kami anak-anak Indonesia tak kehilangan “jati diri bangsa” hoho… Yaa.. rasa rindu masa kecil di tanah air membuat kami makin kreatif. Hmm… Omong-omong, pernahkah kalian merasa rindu dengan masa kecil? Ketika kita masih berupa sekumpulan bocah-bocah innocent yang kerap asyik dengan dunia kita sendiri? Dunia dan seisinya seolah hanya numpang lewat di hadapan kita? Bermain, tertawa dan bercanda bersama seolah kita lah yang menguasai ruang dan waktu lingkungan sekitar. Masih begitu polos hingga tidak mengetahui, bahkan tidak mau tahu tentang segala macam hiruk-pikuk dan keruwetan dunia beserta segala macam drama dan problematika yang ada. Dan, tentu saja yang paling dirindukan dari masa kecil adalah: bermain. Karena dunia anak adalah dunia bermain, dan beberapa orang berkata bahwa dunia anak zaman dulu lebih seru dan ‘hidup’ daripada dunia anak zaman sekarang yang hanya berkutat di handphone, tablet atau iPad masing-masing.

Ya, itu lah yang kami, sekumpulan pelajar rantau di Chongqing, Tiongkok rasakan. Hingga akhirnya tercetuslah sebuah ide bagi kami untuk kembali menghidupkan dunia anak ala zaman dulu, yaitu dengan mengadakan sebuah event yang secara eksklusif memainkan permainan anak-anak jadul, sebuah event yang kami beri nama “Indonesian Traditional Games Day”. Dalam acara ini, terdapat dua rangkaian acara utama, yaitu:

Acara pertama, yaitu pemainan Benteng atau Petak Benteng. Permainan yang dimainkan oleh dua tim ini menjadi pilihan karena selain seru, tetapi juga memerlukan strategi yang tepat untuk memenangkannya. Inti dari permainan ini adalah merebut benteng lawan dengan menyentuhnya, tim yang mampu menyentuh banteng lawan terlebih dulu dinyatakan sebagai pemenang. Benteng merupakan objek-objek sekitar yang terlihat mencolok dan mudah dikenali oleh semua pemain. Selama permainan, masing-masing tim lawan diperbolehkan untuk menawan anggota tim lawan dengan menyentuhnya, menjadikannya sebagai Tawanan tim. Anggota tim lain dari Tawanan tersebut bisa membebaskan rekan setimnya yang tertangkap dengan menyentuh tangan si Tawanan.

kuliah di tiongkok

Permainan ini berlangsung cukup seru dan sengit, karena selain kondisi lapangan yang becek setelah hujan, menyebabkan para pemain kesulitan berlari dan berkali-kali terpeleset hingga terjatuh, tetapi juga masing-masing tim tidak ada yang ingin mengalah. Namun, satu hal yang bisa kami pelajari dari permainan ini yaitu, kerjasama tim dan kemampuan menyelinap ke Benteng lawan tanpa terdekteksi dengan memanfaatkan hiruk-pikuk yang ada selama permainan lah yang menjadi penentu pemenang dalam permainan ini.

Acara kedua, yaitu estafet lomba ala 17-an. Lomba-lombanya yaitu, secara berurutan: Balap Karung, Memasukkan Paku ke Botol, Balap Kelereng, Makan Kerupuk. Peserta dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 3 orang di masing-masing kelompok. Masing-masing orang di masing-masing kelompok memilih satu lomba dari 3 lomba pertama (Balap Karung, Memasukkan Paku ke Botol atau Balap Kelereng). Begitu 3 orang tersebut telah menyelesaikan lombanya masing-masing secara berurutan, ketiganya harus menuju tempat lomba Memakan Kerupuk dan diwajibkan menghabiskan kerupuk yang telah disediakan secara bersama-sama.

Pemenang ditentukan dengan kecepatan masing-masing kelompok dalam menyelesaikan rangkaian lomba dari awal estafet hingga akhir dan jumlah remahan kerupuk yang terbuang. Dalam lomba ini, kepercayaan terhadap masing-masing anggota kelompok dan pembagian tugas antar anggota menjadi faktor utama untuk menang.

kuliah di tiongkok

Selain mampu mengobati rasa rindu kami terhadap masa kecil (maklum kami semua MKKB alias Masa Kecil Kurang Bahagia), tetapi juga kesempatan untuk saling mengenal dan bersilaturrahmi antar sesama pelajar Indonesia di Chongqing lah yang membuat acara ini sungguh berkesan.

Karena Chongqing merupakan kota terluas di Tiongkok dan pelajar Indonesia yang ada tersebar di penjuru kota yang saling berjauhan, event seperti inilah yang ditunggu demi memperkuat ikatan kami selaku sesama pemuda-pemudi rantau.

Semoga ikatan yang kami bangun ini tetap solid sehingga kami pun mampu membawa nama Indonesia harum di kancah internasional, terutama di Negeri Tirai Bambu ini.***

Salam Pelajar Indonesia!

NB: Jika kalian merasa konten blog ini menarik, bisa like Facebook: CalonDokter, untuk update postingan berikutnya.

Ditunggu komentar, kritik & sarannya agar CalonDokter semakin berkembang!

Terima kasih ^0^

Pernah terbit di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2015/12/indonesian-traditional-games-day-by.html

 

  • Terms of Service
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Copyright 2017 KuliahTiongkok.com
Design By: ZonaWeb.Co.Id

Perlu Bantuan? Silakan Chat Kami

Hallo. Selamat Datang di Website KuliahTiongkok.com. Silakan chat Customer Support kami di sini.

Bagian Penjemputan & Perbantuan di Tiongkok

Nikko

Online

Bagian Pendaftaran & Administrasi

Wawan

Online

Nikko

Hallo, saya Nikko. Ada yang bisa saya bantu terkait PENJEMPUTAN & PERBANTUAN DI TIONGKOK? 00.00

Wawan

Hallo, saya Wawan. Ada yang bisa saya bantu terkait PENDAFTARAN & ADMINISTRASI? 00.00