Pemindahan Ibukota RI Untuk Kepentingan Tiongkok?

Pemindahan Ibukota RI Untuk Kepentingan Tiongkok?

Wacana pemindahan ibukota RI menambah hiruk pikuk galau politik negeri ini di tengah benturan kepentingan. Apalagi jika terkait dengan nama negara yang menjadi isu sexy pro-kontra dari aneka benturan kepentingan tersebut, yakni: Tiongkok, atau Negara Cina. Tak ayal, nama Tiongkok menjadi bulan-bulanan benturan wacana yang bersumber dari benturan kepentingan politik negeri ini. Kini, nama Tiongkok muncul lagi secara sexy di tengah isu pemindahan ibukota RI, yang sempat disebut-sebut sebagai actor tersembunyi di balik rencana (wacana) pemindahan ibukota RI, bahwa pemindahan ibukota RI dilaksanakan demi kepentingan Tiongkok. Benarkah?

Pertarungan Wacana

Tulisan ini tak hendak memberikan klarifikasi atau elaborasi apalagi reasoning, karena di luar kapasitas penulis. Akan tetapi lebih mengarah pada “penjernihan diri” dalam menyikapi isu atau wacana yang berkembang liar di jagad politik online atau jagad medsos. Upaya “penjernihan diri” ini penting karena kita mesti berhadapan dengan aneka berita yang belum tentu dijamin kebenarannya, setidaknya kita tidak tahu persis kebenaran berita itu.

Dan jika pun ternyata benar (valid) di kemudian hari (entah berapa lama), kita tidak kehabisan energi untuk hal-hal yang sia-sia. Inilah gunanya “penjernihan diri”, yakni melalui penggunaan kata-kata dalam pikiran untuk melawan kata-kata yang digelontorkan oleh mereka yang sedang bertempur.

Siapa yang bertempur dan bertempur dengan apa? Mereka yang sedang bertempur adalah para pemilik kepentingan politik dan ekonomi dengan memainkan isu, memproduksi wacana untuk menguasai pikiran publik agar wacananya yang dipercaya. Menggunakan apa? Menggunakan seperangkat alat tempur yang bernama: “kata-kata”, diluncurkan dengan peluncur medsos.

Naga Bonar dan Si Bujang

Nah. Kita, sebagai penonton pertempuran atau pihak yang tidak ikut bertempur, jangan  sampai terseret secara gratis dan bodoh dalam pertempuran mereka yang jelas mengandung kepentingan tertentu yang bermanfaat. Kita harus punya benteng pertahanan jika tak ingin konyol tergerus arus liar pertempuran yang bukan milik kita!

Ingat kata Jenderal Naga Bonar: “Sudah kubilang.. jangan ikut bertempur.. Eh, bertempur pula… matilah kau..!”

Kata-kata Naga Bonar ini untuk Bujang, karibnya yang kemudian menjadi orang dekatnya dalam “dinas militer”. Si Bujang ini diketahui Naga Bonar sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan cukup untuk  bertempur. Benar juga Sang jenderal ini ya…

Personal Discourse dan The Know-Nothing

Nah dalam pertempuran wacana dalam arena kuruksetra bernama medsos, benteng pertahanan kita adalah seperangkat kata-kata juga. Kata-kata ini berasal dari cross-check dan referensi, pengetahuan (knowledge) atas suatu isu. Kata-kata ini kita jelmakan menjadi wacana pribadi atau personal discourse yang memagari pikiran kita. Personal discourse versus social discourse bahkan political discourse milik para petarung politik jalanan yang memanfaatkan medsos! Setidaknya, personal discourse ini menyelamatkan kita dari bahaya tak terduga, menjadi the know-nothing.

The know-nothing (orang yang gak tahu apa-apa) akan menjadi sasaran empuk para petarung wacana yang sedang berjuang demi nasibnya sendiri namun bertindak seolah-olah atas nama nasib banyak orang. The know-nothing ini bukan hanya mereka yang awam, tetapi juga mereka yang tidak tahu apa-apa tentang “apa yang sebenarnya sedang terjadi”, termasuk mereka yang tidak ikut perang, tidak ikut dapat untung tapi siap menjadi martir demi sang jagoan perang egois berwajah empatik yang menjadi aktor pujaannya!

Pembelahan Identitas Politik Maya

Trend pembelahan identitas politik maya ini merupakan warisan kolonial identitas politik maya pada saat pilpres. Entah mengapa masih terbawa hingga kini. Tak hanya warna, kini nama-nama, sebutan-sebutan, tag-line, bahkan apa saja, menjadi tidak netral. Seolah mewakili simbol-simbol politik tertentu, terlekati pesan sponsor identitas politik tertentu. Awam pun dengan mudah dan sembrono segera memetakan polarisasi identitas politik menjadi pro-pemerintah cq. Jokowi dan kontra (“oposisi”) pemerintah cq. Prabowo (sisa-sisa The Pilpres Effect siih..). Padahal belum tentu demikian adanya dan kenyataannya.

Demikian pula nasib nama Tiongkok, seolah tersemat pada “kelompok” (kelompok maya) pro Jokowi (pemerintah). Jika diteruskan, “kelompok” pro-Prabowo terlekati dengan symbol “Arab” dan “Islam” (bahkan “Islam radikal”). Tapi bukan itu bahasan tulisan ini. Ilustrasi “pemetaan pikiran” tersebut hanyalah pelengkap penjelasan bahwa wacana yang diproduksi dengan senapan politik berpelurukan ‘kosa kata’ dalam medan perang medsos membutuhkan kehati-hatian kita dalam bersikap.

Di tengah-tengah era medsos yang tak terkendali dan kemalasan cross-check kebenaran berita yang menjadi kebiasaan umumnya pembaca medsos, keliaran berita apapun mengaburkan kebenaran dan kepalsuan.

Tak jarang, kekacauan dan kecampur-adukan kebenaran-kepalsuan ini juga mengacaukan pengambilan keputusan pada level pribadi terkait dengan sesuatu rencana. Acuan pengambilan keputusan: medsos! Kacau dah..

Tak ayal, wacana pemindahan ibukota RI, terlepas itu feasible atau tidak, layak atau tidak, telah ada studi kelayakan atau tidak, telah menjadi konsumsi lezat hidangan medsos dalam perjamuan politik online.

Dari aneka wacana pemindahan ibukota, dari berbagai sumber, terdapat beberapa kalimat atau frasa yang menarik untuk di-highlight (sebagian saja ya..):

Di balik pemindahan ibukota RI tersebut, ada kepentingan Tiongkok yang sedang diperjuangkan;  

Tiongkok siap membantu pembiayaan pemindahan ibukota tersebut;

Rusuh Papua sebagai pengalihan isu atas wacana pemindahan ibukota atau scenario tandingan untuk menggagalkan pemindahan ibukota karena kepentingan Amerika Serikat di Indonesia terganggu oleh kehadiran Tiongkok;

Pemilihan Kalimantan Timur sebagai calon ibukota (baru) adalah strategis bagi kepentingan geopolitik Tiongkok, bagi ekspansi program OBOR Tiongkok di kawasan Asia dan dunia;

Kalimantan juga dekat secara geografis dari Tiongkok;

Dalam peta, Kalimantan dan daratan Tiongkok berada dalam satu garis lurus yang memudahkan tembakan rudal Tiongkok (kalau yang ini terasa aneh bagi penulis.. hehe.. walaupun dalam kajian wacana, penulis sebenarnya tidak boleh mengungkap opini pribadi hehe…. Biarin dah…);

Sumber: KompasTV

Pemindahan ibukota RI ke Kalimantan adalah skenaro Tiongkok;

Sedangkan rusuh Papua untuk target referendum dan Papua merdeka, adalah scenario Amerika Serikat untuk bisa menguasai Papua dengan lebih leluasa untuk memuluskan program TPP (Trans Pacific Partnership) milik Amerika Serikat dkk untuk membendung dominasi Tiongkok di kawasan Asia – Pasifik;

Papua, merupakan ladang subur Amerika Serikat, dan Amerika  Serikat pun tak rela jika harta karunnya ini jatuh juga ke tangan Tiongkok;

Statemen Presiden RI bahwa pemindahan ibukota RI untuk mengurangi beban pulau Jawa dan Jakarta dan ditarget terlaksana pada tahun 2024;

Pemilihan pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Timur, menurut sumber di kepresidenan adalah karena pertimbangan dekat dengan pantai yang memiliki infrastruktur relatif memadai, untuk mendukung Negara maritime;

https://www.kompasiana.com/milisinasionalisback/5cc83c7895760e5ce44b9887/pemindahan-ibukota-demi-obor-china

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyatakan tidak membutuhkan bantuan Tiongkok untuk pemindahan ibukota RI;

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4053931/menko-luhut-indonesia-tak-butuh-china-buat-bangun-ibu-kota-baru

Amin Rais menyatakan pemindahan ibukota RI merupakan hasil kajian China, bukan Bappenas;

https://tirto.id/amien-rais-pemindahan-ibu-kota-hasil-kajian-cina-bukan-bappenas-ehr9

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190903131213-32-427107/amien-tuding-pemerintah-tunggu-kajian-china-soal-ibu-kota

Pemindahan ibukota merupakan proyek ambisius, mengingat keuangan Negara dalam APBN tidak memadai untuk itu;

Pemerintah Cina bisa memanfaatkan celah keterbatasan APBN untuk masuk dengan membiayai proyek pemindahan ibukota berikut pembangunan infrastrukturnya;

https://news.detik.com/berita/d-4692390/soal-pemindahan-ibu-kota-dradjad-wibowo-bicara-skenario-dibiayai-china

Telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara pengusaha Indonesia dan Tiongkok setelah pembukaan KTT Belt and Road Initiatives di Beijing (Kompas, 26/4/2019);

Beberapa high-light tersebut hanya cuplikan saja, tidak mewakili wacana secara keseluruhan yang diproduksi.  Namun dari situ tampak bahwa wacana tersebut masih mengikuti pola patron-klien berdasarkan pembelahan identitas politik puing-puing The Pilpres Effect. Pandangan pro berasal dari mereka yang pro-Jokowi dan yang kontra berasal dari yang kontra-Jokowi.

Yang di situ juga sarat dengan pertempuran wacana politik. Bahkan lebih dari itu, telah menjadi komoditas wacana politik! Masing-masing actor memperjuangkan kepentingannya masing-masing.

Nah…

Bagaimana Dengan Kita?

indonesia masa depanKita?? Kamu kaleee… hehe…

Gak usah ikut-ikutan galau… Emang kamu mau apa dan bisa apa?

Ikut-ikutan patron ya…. Sesuaikan aja dengan urusan kamu, kepentingan kamu ya gaess….

Ini semua bicara kepentingan kok. Jangan salah ya…

Pemindahan ibukota itu kepentingan siapa? Rakyat? Kamu? Elit politik? Partai politik? Presiden? Pengusaha? Tiongkok?

Kabur air…

Bahkan isu pemindahan ibukota ini tidak hanya berbunyi  “pemindahan ibukota itu untuk kepentingan apa dan siapa”, tetapi “mewacanakan pemindahan ibukota ini untuk kepentingan apa dan siapa”.

Kabur air pula…

Namun dari kekaburan ini, terdapat beberapa yang terang:

Indonesia sedang menjadi rebutan;

Tak perlu fokus ke Tiongkok, dari dulu Amerika Serikat dkk, Australia, Jepang, juga telah merambah tanah air beta ini;

Trend ekonomi-politik global, telah memunculkan Tiongkok sebagai actor baru yang berpengaruh;

Tiongkok, dengan proyek OBOR (One Belt One Road) atau Belt & Road Initiatives sedang berupaya membangun jejaring internasional dengan proyek infrastruktur untuk memperpendek alur dan biaya distribusi barang dalam perdagangan internasional;

Proyek infrastruktur Tiongkok juga merambah Indonesia;

Menguatnya bisnis internasional Tiongkok di Indonesia, kawasan Asia Pasifik dan dunia;

Sikap dan kemampuan pemerintah RI dalam bidang geopolitik dan ekonomi sedang dipertaruhkan di tengah isu disintegrasi dan kemandirian ekonomi;

Dari ke-7 highlight tersebut, kamu punya ide apa? Rencana apa? Adakah peluang di situ?

Ya tentu saja, ide, rencana dan pembacaan peluang yang selevel kamu laah.. selevel kita aja… Kita mah bukan pebisnis besar, tetapi calon pebisnis besar. Setuju?

Sekedar pengingat: tidak perlu Tiongkok-phobia...

Fakta bahwa hubungan dan kerjasama  Indonesia – Tiongkok kian mesra dan baik, tak terbantahkan. Bahwa Tiongkok sebagai aktor ekonomi global turut berpengaruh pada perkembangan ekonomi-politik Indonesia, juga tak terbantahkan. Trend bisnis internasional yang makin bernuansa Tiongkok, juga fakta.

So what....

Terserah elu, mau ngapain… Ikut-ikutan netijen +62 yang pintar nyinyir gak jelas tanpa memedulikan dirinya sendiri, juga monggoBagaya bak pengamat kesiangan yang ikutan meramaikan jagad medsos, juga gak ada ngelarang… Apapun boleh… Gw cuma mau bilangin elu gini aja: elu dapet ape ikutan heboh macam tu…. Elu ikutan perang? Itu perang punya elu atau perang punya siape? Cuma jadi follower GJ (gak jelas)? Hehe… Gw mah sibuk nyiapin kualitas diri gw aja… Biar kalau suatu saat ikutan perang, gw lebih siap. Biar Tiongkok menguasai Asia – Pasifik dan Indonesia, gw bisa ape? Ngusir mereka dari Indonesia? Jokowi aje kagak bisa. Ya karena memang tidak perlu ngusir siapa-siapa. Yang gw perlukan adalah: membikin diri gw berkualitas sehingga mampu bersaing dengan pasar kerja dan pasar bisnis yang berisi orang-orang berkualitas. 

Gw sekarang kuliah di Tiongkok. Belajar untuk menjadi cerdas, ulet, tangguh, kreatif dan mandiri. Kayak orang-orang Tiongkok. Gw salut ama cara mereka belajar dan berkarya untuk negerinya. Gw pengen gw dan adik gw, juga adik-adik angkatan gw untuk mau belajar cerdas, kreatif, ulet, tangguh dan mandiri. Sehingga kelak siap bertarung. Bukan merengek minta perlindungan sambil menunjuk-nunjuk orang lain dengan tudingan mau menjarah Indonesia!

Gw mau buktiin bahwa generasi milenial bukan generasi micin, cengeng dan bisanya cuman nyalah-nyalahin orang lain untuk nutupin ketidakmampuan dirinya. Gw pengen ngajak generasi milenial untuk bangkit demi negeri kita tercinta! Bangun kualitas diri kalian sekarang! Gw tunggu kalian di sini!

Indonesian Connect 2019

Indonesian Connect 2019

   

Indonesian Connect, sebuah program yang digagas Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT), untuk menghubungkan para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Tiongkok. 

Indonesian Connect dibentuk karena trend semakin meningkatnya animo anak-anak Indonesia untuk kuliah di Tiongkok dari tahun ke tahun. Kondisi ini yang  membutuhkan ketersediaan informasi tentang kuliah di Tiongkok, informasi beasiswa di Tiongkok, serta informasi hidup di Tiongkok secara valid. 

“Kesulitan memperoleh informasi valid tentang kuliah di Tiongkok, maka acara ini diharapkan dapat memberi informasi seputar kehidupan di Tiongkok”. Demikian yang dikatakan Ketua Panitia Indonesian Connect 2019, Nikkolai Ali Akbar atau yang sering dipanggil “Nikko Akbar”.

Nikko Akbar, yang juga mahasiswa Chongqing Medical University tahun ke-4, adalah Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok pada kepengurusan pusat, dan Ketua Satgas Penipuan Agen dan Kerja Paksa PPI Kawasan Asia dan Oceania pada kepengurusan PPI Dunia.

Aktivitas di luar akademik formal ini menurutnya, sebagai wujud kepeduliannya kepada pendidikan bagi generasi milenial.

“Setidaknya, ada hal kecil yang bisa saya perbuat untuk rekan-rekan seangkatan saya dan angkatan setelah saya dalam hal penyediaan informasi kuliah di Tiongkok, kehidupan di Tiongkok dan berkreasi di Tiongkok”, ujar Nikko kepada KuliahTiongkok.com.

Pendaftaran Online Kuliah di China

Pendaftaran Online Kuliah di China

Play Video

Pendaftaran Online Kuliah di China

Silakan kunjungi www.KuliahTiongkok.com

Mengapa Kuliah di China?

China atau Tiongkok, adalah negara maju yang memiliki banyak universitas berkualitas serta memiliki kekuatan ekonomi yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia! Negara ini memiliki rekam jejak peradaban yang tangguh sejak zaman Tiongkok kuno hingga modern. Etos kerja manusia Tiongkok yang ulet, disiplin, kuat dan pantang menyerah sangat patut dicontoh. Maka, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina! Kini, terbukti lulusan universitas Tiongkok lebih mudah dan cepat mendapatkan pekerjaan!

Silakan Klik Gambar Untuk Kunjungi Website Kami

our Supporting team

Nikko Akbar

Mahasiswa Chongqing Medical University

Pengurus Pusat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok dan Pengurus PPI Dunia

Nikkolai Ulyanov

Mahasiswa Sun Yat Sen University

Pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Ranting Sun Yat Sen University, Guangzhou

Wawan Kuswandoro

Dosen Universitas Brawijaya

Founder MiracleWays®, Konsultan Pendidikan & Personal Development

Practice makes perfect

We know about your hectic schedule. We also know the only way you truly understand a subject is by practicing it in a real environment. This is why we’ve set a playground area that’s full of hours of exercises, questions and challenges. It even has a gaming section. 

The best campus facilities

In addition to our online classroom, we also offer an option to take part in a live classroom. It takes place in our vast campus throughout China. Here you’ll be able to use the most up-to-date facilities.

KuliahTiongkok.com Articles

Categories

Learn from the very best

Join our experience and start building the most wanted study and career’s supporting campus available today. We make sure every class is easily understood, and that all students reach the same level of expertise needed for today’s industry.

You may choose English or Mandarin class.

Working hours

Monday- Thursday:8:00-18:30 Hrs
(Phone until 17:30 Hrs)
Friday - 8:00-14:00

We are here

Perumahan Kopian Barat B7, Probolinggo 67222, Jawa Timur

Kuliah Tiongkok Blog

Kuliah Tiongkok Blog

Kuliah tiongkok blog

KUMPULAN ARTIKEL KULIAHTIONGKOK.COM

"What really turned me over was the ability to understand how everything works without any prior knowledge."
John Doe
Designer

GO TO HOMEPAGE

www.KuliahTiongkok.com

Categories
Play Video

Ingin Kuliah di Tiongkok?

Ingin dapat beasiswa? Atau, bisnis sambil kuliah?

Silakan kunjungi www.KuliahTiongkok.com

Indonesia Membutuhkan Tiongkok Daripada Tiongkok Membutuhkan Indonesia?

Indonesia Membutuhkan Tiongkok Daripada Tiongkok Membutuhkan Indonesia?

Bacaan ringan sambil ngopi… Bacalah dengan perasaan tenang tanpa prasangka apalagi menyimpan keberpihakan…

Kunjungan Perdana Menteri Cina Li Keqiang dan sikap bermusuhan dari banyak orang Indonesia, terutama politisi, ke hubungan ekonomi antara Indonesia dan Cina, muncul di benak saya setelah mendengarkan pandangan tiga cendekiawan yang diakui secara internasional dan diplomat veteran ASEAN yang luar biasa.

Kita harus memahami bahwa ekonomi Tiongkok begitu besar sehingga 100 negara, termasuk Indonesia, harus menerima kenyataan bahwa China telah menjadi mitra ekonomi terpenting mereka. Biarkan saya membuatnya sederhana: Tidak peduli seberapa strategis posisi Indonesia di dunia – kami selalu bangga dengan posisi geografis strategis kami – untuk Cina, kami hanyalah mitra dagang penting lainnya.

Dalam waktu kurang dari dua dekade, Cina akan mengambil alih posisi AS sebagai ekonomi terbesar di dunia. Hubungan antara Cina dan AS akan terus memburuk, meskipun perang dagang total tidak mungkin, dampaknya pada dunia akan terlalu dahsyat. Secara militer, juga akan sangat sulit bagi AS untuk mempertahankan hegemoni. Presiden AS Donald Trump yang tidak dapat diprediksi akan menjadi faktor yang mengganggu, karena kepemimpinannya yang eksentrik tampaknya tidak jauh berbeda dari mantan pemimpin Libya, almarhum Qadaffi, atau mantan pemimpin Kuba Fidel Castro.

Prof. Kishore Mahbubani dan Prof. Tommy Koh memperingatkan bahwa ASEAN, yang Indonesia sebagai pemimpin de facto, akan melewati periode yang sangat berbahaya dalam 10 tahun ke depan. Mahbubani berbicara tentang kekuatan China yang meningkat sementara AS menurun, dan ada sentimen umum bahwa Cina adalah ancaman serius bagi AS.

Koh menunjukkan bahwa situasi di Laut Cina Selatan akan memburuk dan Cina akan menjadi lebih tegas. Mantan menteri luar negeri Marty Natalegawa mendesak Indonesia untuk meningkatkan kepemimpinannya di ASEAN dalam menavigasi jalan yang sulit. Tidak ada perubahan keseimbangan kekuatan, hanya dinamika kekuatan, katanya.

Indonesia perlu meningkatkan ketangkasan diplomatiknya. Tidak ada gunanya mencoba mengendalikan China, melainkan untuk memperkenalkan dinamika yang berbeda, untuk menciptakan keseimbangan.

Pertanyaannya adalah bagaimana Indonesia dapat mengambil peran utama selama navigasi ASEAN ketika secara internal banyak orang Indonesia masih berpikir bahwa Indonesia sangat penting bagi Cina sehingga tidak berani menghadapi kita? Kebanggaan chauvinistik yang tak berdasar dan perasaan keliru bahwa kita adalah bangsa yang hebat sering dan akan terus mengganggu kita ketika kita tidak siap untuk menerima posisi kita.

Kita, orang Indonesia, harus menyadari bahwa Cina jauh lebih penting bagi kita daripada kita bagi mereka, meskipun kita sering percaya sebaliknya. Tiongkok akan segera menjadi penyedia Bantuan Pembangunan Resmi (ODA) terbesar di dunia dan hampir tidak ada peluang untuk mengurangi aliran ekspor dan investasi Tiongkok. Tiongkok tampak mengancam karena pengeluaran militernya terus meningkat sejalan dengan PDB yang tumbuh cepat.

Para penentang mengkritik keras Presiden Joko “Jokowi” Widodo karena mengeluarkan Peraturan Presiden No. 20/2018 tentang pekerja asing. Para kritikus berpendapat kebijakan baru akan memicu masuknya pekerja asing ke Indonesia. Puluhan ribu pekerja Tiongkok yang tidak trampil sekarang bekerja, menurut mereka, dalam proyek-proyek yang didanai China, banyak di antara mereka yang merupakan kontrak kunci.

Para kritikus ada benarnya, tetapi mereka tidak melihat gambaran yang lebih besar. Hantu komunisme terus menghantui Indonesia dengan banyak orang bermerek komunis, termasuk Jokowi sendiri. Mengakui atau tidak, ini sering merujuk pada Partai Komunis Tiongkok (CPP), meskipun Cina sekarang telah menjadi penggerak prinsip pasar bebas terbesar di dunia. Jangan lupa bahwa semua partai politik besar, termasuk Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), memiliki hubungan baik dengan CPP.

Karena suatu alasan, kengerian kerusuhan Mei 1998 tiba-tiba muncul di benak saya. Ribuan orang Indonesia dibakar hingga mati di Jakarta hanya beberapa hari sebelum jatuhnya presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Ratusan orang Indonesia keturunan Tionghoa dilecehkan dan diperkosa secara seksual pada waktu itu. Bahkan sekarang kita berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi 20 tahun yang lalu. Pejabat Cina dalam percakapan pribadi mereka sering mengungkapkan ketakutan mereka bahwa sentimen anti-Cina akan meletus dari waktu ke waktu di Indonesia.

Mereka akan dijadikan kambing hitam untuk semuanya. Kekhawatiran serupa juga sering diajukan oleh orang-orang Cina biasa. Jutaan dari mereka mengunjungi Indonesia sebagai turis, dan kita tidak boleh lupa banyak dari mereka masih mengingat tragedi 1998. Perdana Menteri Li, yang bersama dengan Presiden Xi Jinping memenangkan mandat lima tahun lagi pada Maret tahun lalu, sedang dalam kunjungan kenegaraan tiga hari ke Indonesia hingga Selasa. Nantinya, Li akan berangkat ke Jepang untuk menghadiri pertemuan puncak tiga pihak dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

Tujuan resmi dari kunjungan perdana menteri adalah untuk memperingati Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-Cina. Hubungan diplomatik kedua negara hanya dipulihkan pada 8 Agustus 1990, ketika Perdana Menteri Li Peng bertemu dengan Soeharto di Jakarta. Jakarta tiba-tiba memutuskan hubungan dengan Beijing, setelah Indonesia menuduh Cina mendalangi (dugaan) 30 September 1965, upaya kudeta, yang Beijing tolak total.

Dalam pertemuannya dengan Jokowi, Li dilaporkan akan menyampaikan keprihatinannya atas lambatnya pembangunan proyek kereta api Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer. China dan Indonesia menandatangani kontrak untuk ini pada 16 Oktober 2016, setelah Jepang kehilangan proyek ke China. Awalnya biayanya adalah $ 5,1 miliar, tetapi sejak itu naik menjadi $ 5,9 miliar sebagai akibat dari berbagai teknis, termasuk komplikasi pembebasan lahan.

Tampaknya tidak mungkin batas waktu Oktober 2020 untuk menyelesaikan proyek akan dipenuhi. Sekali lagi, kita harus menyadari bahwa Indonesia membutuhkan Cina lebih dari yang mereka butuhkan. Maka berperilaku diri sendiri dan mengakomodasi diri sendiri sesuai dengan posisi Anda. Hubungan kita dengan Cina didasarkan pada kesetaraan dan saling menguntungkan, tapi tolong terimalah kenyataan, setidaknya untuk sementara waktu.

Selamat datang di Jakarta, Perdana Menteri Li.

 

Disadur dari Tulisan Kornelius Purba, Jakarta Post, 7 Mei 2018

Sumber: https://www.thejakartapost.com/academia/2018/05/07/commentary-indonesia-needs-china-more-than-china-needs-indonesia.html

Gambar Ilustrasi: dokumen pribadi Nikko Akbar.

Tiongkok Siapkan Beasiswa S1-S3 Untuk Mahasiswa Indonesia

Tiongkok Siapkan Beasiswa S1-S3 Untuk Mahasiswa Indonesia

Jakarta – Antusias pelajar Indonesia belajar ke Republik Rakyat China dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kedutaan China menyiapkan ratusan beasiswa jenjang S1 hingga S3 dari Pemerintah China tahun 2017.

“Sejak dari tahun 2015, jumlah beasiswa pemerintah Tiongkok ditambah dari 15 sampai 187, telah bertambah sebelas kali lipat. Pada tahun ini, pemerintah Tiongkok menyiapkan 197,” kata Konselor Budaya Kedutaan Besar China, Zhou Bin di Universitas Al-Azhar Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/3/17).

Zhou mengatakan beasiswa yang dibuka yakni kuliah jenjang S1, S2, S3, serta scholar umum dan scholar senior yang bisa diikuti oleh dosen atau pengajar yang ingin penelitian atau disertasi. Program scholar umum adalah program non degree untuk mahasiswa kunjungan namun tetap mendapatkan ijazah.

Mahasiswa bisa mengajukan program beasiswa sesuai kebutuhannya dengan 279 pilihan Universitas di China. Ada 12 disiplin ilmu yang dibuka di antaranya ilmu sains, teknik, agronomi, kedokteran, ekonomi, hukum, manajemen, pendidikan, sejarah, sastra, filsafat dan llmu kesenian.

“Beasiswa penuh akan menanggung seluruh biaya kuliah, tunjangan biaya hidup, biaya akomodasi dan asuransi kesehatan komprehensif,” kata Zhou.

Tak hanya itu untuk memfasilitasi pelajar yang tidak bisa berbahasa Mandarin, pemerintah China juga menyiapkan kursus bahasa di universitas selama satu tahun. Zhou mengatakan seluruh biaya kuliah ditanggung oleh pemerintah China.

“Jika kemampuan bahasa Mandarin belum cukup, pemenang beasiswa akan dimasukkan ke perguruan tinggi Tiongkok yang ditentukan untuk belajar bahasa mandarin selama 1 tahun, biaya kuliahnya ditanggung oleh beasiswa pemerintah Tiongkok,” ungkap Zhou.

Zhou menyebut sudah ada kerja sama antara perguruan tinggi China dengan Indonesia. “Misalnya, Peking University dan Universitas Indonesia, Tsinghua University dan Institut Teknologi Bandung, Beijing Jiaotong University dan Universitas Surabaya serta universitas-universitas lainnya di Tiongkok dan Indonesia sudah menjalin hubungan kerja sama,” ucap Zhou.

“Sekarang Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Universitas Indonesia, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok dan lain-Iain membantu kami mempromosikan informasi pendaftaran Beasiswa Pemerintah Tiongkok,” tuturnya.

Dia berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia memanfaatkan program Beasiswa Pemerintah China. Harapannya begitu lulus para mahasiswa ini bisa kembali ke Indonesia dan memberi sumbangsih untuk negara.

“Juga mahasiswa Indonesia belajar di Tiongkok bisa banyak mengenal kebudayaan Tiongkok dan bersahabat dengan mahasiswa Tiongkok, pada masa depan sebagai utusan mewarisi dan mengembangkan persahabatan Tiongkok dan Indonesia,” urainya.

Untuk bisa melihat persyaratan penerima beasiswa pemerintah China ini bisa mengunjungi website resmi Kedubes Republik Rakyat China di Indonesia http://id.chineseembassy.org/eng/whjy/lxxx/.

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-3447396/china-siapkan-197-beasiswa-dari-s1-s3-untuk-mahasiswa-ri

 

  • Terms of Service
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Copyright 2017 KuliahTiongkok.com
Design By: ZonaWeb.Co.Id

Perlu Bantuan? Silakan Chat Kami

Hallo. Selamat Datang di Website KuliahTiongkok.com. Silakan chat Customer Support kami di sini.

Bagian Penjemputan & Perbantuan di Tiongkok

Nikko

Online

Bagian Pendaftaran & Administrasi

Wawan

Online

Nikko

Hallo, saya Nikko. Ada yang bisa saya bantu terkait PENJEMPUTAN & PERBANTUAN DI TIONGKOK? 00.00

Wawan

Hallo, saya Wawan. Ada yang bisa saya bantu terkait PENDAFTARAN & ADMINISTRASI? 00.00