Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 3

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 3

Kita lanjutkan kisah dua bersaudara Nikko dan Nikko berpetualang di Tiongkok ya… Pada bagian ini, masih sekitar Nikko Akbar, sang kakak. Nanti di bagian 4, kisah beralih ke Nikko Reza, sang adik, yang tak kalah hebohnya!

Pada bagian 2, Nikko mengingatkan adik-adik angkatannya, para generasi X milenial untuk melatih sikap mental tangguh, disamping kreatif.

mitra kerja kuliah tiongkokMenurut Niko, jaman ini membutuhkan pribadi tangguh dan kreatif. Di Indonesia tanah air beta sendiri, anak-anak Indonesia harus bersaing tak hanya dengan sesama “anak Indonesia” dalam memperebutkan pekerjaan dan kesempatan berkarir, ataupun berusaha, tetapi juga harus bersaing dengan anak-anak atau orang-orang dari luar Indonesia!

Nikko juga mengingatkan agar memperhatikan trend dan perkembangan situasi global disamping situasi nasional di Indonesia. Mau gak mau, corak berkarir dan berusaha (berbisnis) di masa kini dan mendatang tak lepas dari pengaruh dan situasi global perkenonomian global, bahkan politik global! Artinya apa? Tantangan ke depan dalam hal mencari pekerjaan, tepatnya ‘merancang pekerjaan’, juga berbeda. Apapun itu, hal yang mutlak harus dimiliki adalah: ketangguhan, kreativitas dan relasi / jejaring (networking)!  Dan ia merasakan, bahwa dengan kuliah dan hidup di Tiongkok, ia mendapatkan ketiganya sekaligus! Plus ilmu yang didapatnya di kampus dan di luar kampus yakni dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, Nikko Reza sang adik., juga merasakan secara “lebih riil” saat kuliah di Guangzhou. Nanti di bagian 4 kisah Nikko Reza ini yang lebih tertarik di dunia bisnis.

Karena pertimbangan kondisi global inilah Nikko Akbar mempersiapkan dan membentuk kualifikasi diri di tanah Tiongkok. Ia memanfaatkan benar saat berada dan hidup di Tiongkok dengan segala fasilitas kampus, “fasilitas kota”, “fasilitas budaya” yang ia pelajari dan praktikkan secara langsung! Ia belajar berdisiplin, manajemen waktu, belajar keuletan dan kreatif seperti orang Tiongkok, dsb. Karenanya Nikko senantiasa aktif mengikuti kegiatan di luar perkuliahan, yang mana kegiatan ini juga dilakukan di dalam area kampus. Juga di kampus tetangga, juga di luar kampus. Capek? Naaa… kok  fokus ke capeknya. Salfok tu… Fokuslah ke “kenikmatan berkegiatan” karena “ada manfaat besar di situ”. Apa? Itu tadi: membentuk ketangguhan diri! Juga networking!

Nikko mem-briefing mahasiswa baru
Pemberian materi kepada mahasiswa baru
Kegiatan sosial di Jakarta

Berikut ini adalah sebagian dari kegiatan akademik Nikko di kampusnya.

kuliah tiongkok seminar
kuliah di tiongkok
kuliah di tiongkok

Ini jalan-jalan…

biaya hidup di tiongkok
pengalaman pertamaku di tiongkok

Ini jalan-jalan bareng Dubes RI untuk Tiongkok, Bapak Jauhari Oratmangun. 

belajar bahasa mandarin

Kegiatan Nikko di klub Diaspora Indonesia di Tiongkok. Ini kegiatan tahun 2018. Tentang diaspora, bisa dibaca di sini ya..

Nikko bersama para mahasiswa Indonesia di Tiongkok juga berpartisipasi aktif dalam upaya memberikan masukan kepada pemerintah RI lho… Konferensi Merancang Visi Indonesia 2045 !

kuliah di tiongkok
Nikko: paling kanan, duduk (baju hitam)
indonesia masa depan
Nikko: 6 dari kanan, baju batik
Nikko: paling kanan, duduk.(baju batik)

Nah… anak Indonesia, pelajar Indonesia, mahasiswa Indonesia, generasi milenial, telah mampu berbuat banyak untuk dirinya dan bangsa dan negaranya. 

Bersambung……

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 4 >>

 

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 2

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 2

Pada bagian 1, kisah dua bersaudara yang berbagi pengalaman kuliah dan hidup mandiri di Tiongkok ini membagikan jurus pertamanya untuk sukses, yakni “keluar dari zona nyaman!”. Ya, harus berani membuat keputusan untuk keluar dari zona nyaman! Sebuah keputusan yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Baik oleh dirinya sendiri, maupun keluarganya. Tetapi, sebuah keputusan harus dibuat. Dan harus dilaksanakan! Akhirnya, berangkatlah dia ke negeri Panda.

Kenikmatan belajar dan berada di negeri yang terkenal dengan etos kerja dan semangat belajar tinggi membuat Nikko menikmati hari-harinya. Belajar dari arti luas, dia dapatkan di sana. Bahkan, pelajaran paling berharga, sementara ini, yang ia dapatkan adalah ‘belajar lebih berdisiplin dan berpikir efektif’

“Ketularan orang China (Tiongkok)”, selorohnya pada suatu ketika.

Kegiatan sehari-harinya adalah belajar, ke perpustakaan, jalan-jalan, berorganisasi dengan sesama mahasiswa asal Indonesia, kegiatan sosial, keagamaan, jalan-jalan lagi… 

 

kuliah di tiongkok pertunjukan budaya
Nikko berbusana khas Madura...
kuliah di tiongkok
menang dalam kompetisi akademik
Nikko berbusana lurik-lurik khas Jawa

Tekadnya, selama berada di negerinya orang-orang pekerja keras ini, harus mendapatkan ilmu yang lengkap… bagi Nikko, ilmu yang lengkap adalah pembentukan pribadi yang kuat, tangguh, kreatif dan mandiri. Ilmu itu adalah yang telah merasuk ke dalam diri, telah menjelma menjadi cara berpikir, cara bekerja dan cara hidup

Sebuah contoh sederhana: “hanya” untuk bisa shalat Jumat, ia harus naik MRT selama 1 jam untuk mencapai masjid besar di pusat kota. Untuk ikut shalat Idul Fitri atau Idul Adha, ia harus naik MRT juga, malah harus menginap dulu di hotel dekat masjid agar tak ketinggalan shalat Id. Nah.. latihan tangguh kan?

Lagi: puasa orang muslim di Indonesia berapa jam? Sekedar info, seorang muslim yang berada di Tiongkok puasanya selama 16 jam sehari, karena waktu berbuka puasa adalah jam 20.00 waktu Tiongkok! Nah, gemblengan mana yang lebih mampu membuat seseorang menjadi tangguh? Hoho…

Maka, gemblengan di dalam kampus maupun di luar kampus ketika kuliah di Tiongkok, ia padukan untuk membentuk diri pribadi yang cerdas dan tangguh serta kreatif dan juga mandiri. Memasuki tahun ke-4 kuliah di Tiongkok, Nikko menerima beasiswa penuh (full scholarship) dari pemerintah Tiongkok! Sebelumnya, saat  diterima masuk di kedokteran CQMU, ia menerima partial scholarship yakni beasiswa sebagian, free-SPP. Tepatnya, beasiswa dengan sistem reimburse yakni uang SPP dibayarkan  terlebih dahulu selama 1 tahun, kemudian dikembalikan full pada tahun depannya, masuk ke rekening Nikko. Dengan diterimanya beasiswa penuh, maka semakin lengkaplah kebahagiaan Nikko. Juga orangtuanya.. hehe… 😀

 

Merasakan banyak manfaat dengan menempuh kuliah di Tiongkok, Nikko Akbar pun berniat mengajak adiknya, Nikko Reza yang sedang berkuliah di KDU, Selangor, Malaysia, untuk kuliah di Tiongkok saja. Nikko Akbar juga  berbagi pengalaman dengan para juniornya di kota kelahirannya, juga di kota-kota sekitar tentang kuliah di Tiongkok. Yang lebih penting adalah membentuk pribadi tangguh, kreatif dan mandiri. yakni dengan: keluar dari zona nyaman!

Keluar dari zona nyaman, adalah kata kunci untuk mengajari diri sendiri agar lebih ketat dan efisien dalam berpikir dan bertindak, tidak terbuai oleh kenyamanan.

Pengalaman mengubah diri (personal changing) dengan cara “radikal” ini ditularkannya kepada adik-adik angkatannya.

“Anak Indonesia, jangan sampai kalah tangguh dengan anak-anak luar. Saat ini dan saat mendatang, tantangan kita adalah bersaing dengan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri. Bersaingnya di negeri sendiri! Akankah kita merengek-rengek untuk diprioritaskan? Tidak! Pasar kerja membutuhkan tenaga ahli tangguh, bukan hasil rengekan!” Demikian antara lain Nikko mewanti-wanti adik-adiknya.

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 1

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 1

Hidup mandiri dan bebas berkreasi telah menjadi tekad dua bersaudara ini. Nikkolai Ali Akbar dan Nikkolai Ali Reza, demikian nama mereka, adalah anak-anak Indonesia yang kini tengah kuliah di Tiongkok. Nikkolai Ali Akbar, sang kakak, berada di kota Chongqing, kuliah di jurusan kedokteran di Chongqing Medical University, tahun ke-4. Sedangkan Nikkolai Ali Reza, sang adik, menekuni bidang IT dengan berkuliah di Sun Yat Sen University, Guangzhou, jurusan Software Engineering, pada tahun ke-2. Sebelumnya (2015-2016), ia berkuliah di School of Computers and Multimedia, KDU University, Selangor, Malaysia jurusan Games Development.

Ketekadan, mungkin juga kenekadan, kedua pemuda kakak-beradik yang terpaut usia 1 tahun ini patut diacungi jempol dan patut ditiru. Selepas SMA di SMAN 1 Probolinggo yang ditempuhnya selama 2 tahun, Nikkolai Ali Akbar belajar bahasa Mandarin di kursus bahasa Mandarin yang diselenggarakan oleh kelenteng Eng An Kiong Malang selama 7 bulan, sambil menunggu respons dari 3 universitas di China yang dikontaknya (2013 – 2014). Lama tak kunjung ada respons, tak menyurutkan niat Nikko untuk tetap belajar bahasa Mandarin.

Dia berpikir, jika tak dapat respons kampus yang ia kontak, tak akan ada ruginya belajar bahasa Mandarin. Ia juga telah merancang rencana lain untuk bisa menikmati hidup di tempat yang jauh, agar ia belajar tangguh dan mandiri. Baginya, belajar akademis tak terlalu dipusingkannya. Maklum, secara akademik, ia telah terlalu kenyang prestasi. Ia ingin memacu belajar di arena yang lain: membangun ketangguhan diri di negeri orang! Ia ingin jauh dari orangtuanya, untuk bisa lebih bebas berkreasi dan membangun jaringan seluas-luasnya. 

Keluar dari zona nyaman! Demikian doktrin pribadi yang entah ia dapat dari mana, begitu melekat. Ia berkeyakinan, jika keluar dari zona nyaman, ia akan sukses! Maka, ia pilih luar negeri, yang relatif lebih tak terjangkau zona nyaman-nya! Termasuk jauh dari orangtua? Ya, tentu saja. Tidak berat? Berat, tentu saja. Tetapi, demi cita-cita, dia dan juga orantuanya, siap “mengorbankan” kesenangan sesaat, kesenangan dan kenyamanan sesaat. Induk burung pun akan “mengusir” anak-anaknya jika mereka telah siap terbang!

kuliah di chinaDan ia memilih negeri China! China, atau Tiongkok untuk kuliah. Tiongkok menjadi pilihannya karena ia berpikir ilmu kedokteran Tiongkok sangat maju. Ia terinspirasi kisah Dahlan Iskan yang tertolong lantaran ilmu kedokteran Tiongkok dengan operasi ganti hati yang sempat fenomenal di Indonesia pada sekitar tahun 2012 – 2013.

Di tengah kegalauan menunggu respons universitas yang tak jelas, beruntung, ada teman yang menyarankan untuk minta bantuan konsultan pendidikan China untuk membantu proses pendaftarannya. Maka, dalam waktu yang tak terlalu lama, proses pendaftaran selesai dan menunggu pengumuman.

pengumuman diterima kuliah di tiongkokBeberapa bulan kemudian diterimalah pengumuman pendaftaran di jurusan kedokteran di Chongqing Medical University (CQMU). Nikko diterima kuliah di CQMU! Betapa bahagianya. Kebahagiannya berlipat-lipat tatkala ada pengumuman susulan bahwa ia mendapatkan beasiswa. Ya, meskipun partial scholarship (beasiswa sebagian), itu sudah sangat membantu. Bayangin, bebas SPP kuliah kedokteran di universitas kedokteran negeri di Tiongkok!

Maka, sambil menunggu pengumuman keberangkatan ke Tiongkok, Nikko makin bersemangat belajar bahasa Mandarin, walaupun kelas yang bakal ia masuki menggunakan pengantar bahasa Inggris. Sekira keberangkatan ke Tiongkok kurang 2 bulan, ia menghentikan kursus bahasa Mandarin di Malang dengan melanjutkan kursus intensif di Probolinggo sambil membuat persiapan-persiapan. Hoki juga menghampiri Nikko. Di Probolinggo, ia bertemu dengan seorang laoshi (guru) bahasa Mandarin yang bersedia membimbingnya belajar bahasa Mandarin secara intensif. Beliau adalah laoshi Agus. Dan Agus laoshi ini  memberikan bimbingan privat dan tidak mau dibayar! Melihat kemampuan dasar Nikko yang dianggapnya cukup untuk menerima pelajaran intensif, Agus laoshi memberikan waktunya 2 kali seminggu bagi Nikko. Kira-kira 1 bulan lebih beberapa hari Nikko menerima gemblengan dari suhu Agus sebelum berangkat ke Tiongkok. Agus laoshi juga memberi Nikko kamus bahasa Mandarin – Indonesia. Nah, sudah gratis, dapat kamus tebal pula… Rejeki anak sholeh yang berkemauan keras!

Singkat cerita, maka berangkatlah Nikko ke Tiongkok! Tanpa diantar orangtua. Mengapa? Ya, sesuai dengan tekad awal: ‘keluar dari zona nyaman. Termasuk dari zona nyaman bersama orangtua. Kenapa pakai diantar? Lagipula, biaya pengantaran yang meliputi tiket pesawat PP Surabaya – Chongqing untuk 2 orang pengantar, biaya hotel, biaya makan minum selama di Tiongkok, dsb, jika dihitung, mending buat sangu anaknya.. haha… 😀

Nikko pun akhirnya bertemu dengan anak-anak Indonesia yang sama-sama akan kuliah di Tiongkok. Jadilah mereka kawanan pelajar Indonesia yang siap merantau! Setelah melewatkan malam saat transit di Guangzhou, maka sampailah di kota tujuan: Chongqing. Sebuah kota pelajar di provinsi Sezhuan, Tiongkok agak ke utara dan agak ke barat.

Nikko menulis pengalamannya ini di tahun 2015 di blognya, https://nikkoakbar.blogspot.com; telah dikutip oleh KuliahTiongkok.com di tahun 2017:

Pengalaman Pertamaku di Tiongkok

Ternyata, dia berbahagia di tanah rantau! Karena ia menemukan fasilitas belajar yang luar biasa di kampusnya! Lingkungan belajar yang kondusif bagi minat belajarnya. Tak hanya secara akademis, tetapi juga non akademis. Juga belajar dari kebiasaan  anak-anak Tiongkok yang rata-rata suka belajar! Pantas, negara Tiongkok maju pesat! Orang-orangnya suka belajar dan bekerja keras!

Ini pengalaman pertama mengikuti ujian kuliah di Tiongkok.

Ujian Pertamaku

Dan ini Ujian Berikutnya..

Jangan dikira kuliah di Tiongkok isinya cuma belajar dan belajar yaa… Jalan-jalan, menikmati pemandangan juga lho…. hehe.. 😀

Ini Salju Pertama Yang Kulihat, Kurasakan dan Kunikmati! Pengen yaa… hahaha….. 😀

Eh… Nikko dan teman-teman Indonesia-nya, juga balap karung lhoh… dan aneka aktivitas budaya Indonesia yang dipamerin di sana….

Balap Karung di Tiongkok !

Nikko juga unjuk kebolehan memainkan jurus-jurus beladirinya selama dipelajarinya di tanah air. Dia berkesempatan main di arena International Culture Exhibition di Tiongkok.

 

gelar budaya Indonesia di Tiongkok
International Culture Exhibition in Tiongkok
belajar bahasa mandarin
Hiii.... dapet cewek tu anak... Dua lagi! haha..
kungfu wushu
Merantau! Nikko siap gantiin Iko Uwais haha...

kuliah tiongkok seminarSelama kuliah di Chongqing Medical University, Nikko disamping aktif di kegiatan-kegiatan akademik selain perkuliahan kelas, ia juga aktif di kegiatan-kegiatan non-akademik. Hobi lama semasa SMA makin subur di kampus Tiongkok. Ia aktif ikut seminar dan kompetisi akedemik, even kebudayaan, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Tiongkok hingga klub-klub hobi seperti olahraga, musik dan akupunktur. Klub-klub sosial dan keagamaan juga tak luput dari warna-warni aktivitas hariannya di Tiongkok, seperti donor darah, pengajian keagamaan setiap akhir pekan hingga Idul Fitri dan Idul Adha. Ya, pernah juga Nikko pulang kampung seusai Idul Fitri, karena libur kampus (libur musim panas) tidak tepat dengan hari H Idul Fitri. Jadi bisa berkesempatan merasakan ber-Idul Fitri di negeri Panda. 

Di sela-sela hari-hari kuliahnya, Nikko dan teman-temannya juga berekreasi ke tempat-tempat wisata di sekitar kotanya. Di areal kampuspun merupakan tempat wisata yang indah. Namun, kurang afdhol jika tak ke tempat-tempat wisata. Mulai dari keliling kota, taman kota, naik MRT sepanjang kota hanya Rp. 14.000,-. Juga ke kota budaya Xi’an. Yang belum sempat, adalah menelusuri situs bersejarah terkait dengan jejak peninggaan Islam di Tiongkok, antara lain Lakshmana Zheng He (Cheng Ho), masjid kuno berkiblat ganda (arah Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa), dan beberapa situs terkait tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Tiongkok yang merupakan asal muasal para aulia penyebar Islam di Nusantara.

Taman Kampus Chongqing Medical University
pengalaman pertamaku di tiongkok
Kota Tua (Kota Lama)
belajar bahasa mandarin untuk kuliah di tiongkok
Jalan-jalan di Bishan

Pengalaman dan pembelajaran terbaik selama hidup dan kuliah di Tiongkok menurut Nikko adalah pembelajaran budaya belajar dan etos kerja masyarakat Tiongkok yang ulet dan tak kenal menyerah. Mahasiswa Tiongkok (anak-anak asli Tiongkok) terkenal gigih dalam belajar dan hobi baca ndak ketulungan.. 🙂

Hampir tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Bahkan sambil jogging dan olah raga lompat tali pun mereka baca buku! Jadi habis lompat-lompat stop sebentar, nengokin buku, baca. Jogging juga demikian. Habis lari, jika lelah, istirahat, duduk, sambil baca buku. Barang bawaan harian juga pasti ada bukunya! Nah loo… hehe… 🙂

 

 

Pengalaman Peserta KuliahTiongkok.com Mendapat Beasiswa Penuh

Pengalaman Peserta KuliahTiongkok.com Mendapat Beasiswa Penuh

Pengalaman Nikkolai Ulyanov, peserta KuliahTiongkok.com kuliah di Tiongkok dan berhasil mendapat beasiswa penuh (full scholarship), menarik untuk dibaca. Berawal dari kegalauannya setelah berkuliah Game Development di KDU, Selangor, Malaysia, ia ingin kuliah di Tiongkok. Guangzhou yang menjadi incarannya. Kenapa? Ia ingin mengembangkan bisnis yang selalu diimpikannya. Selama di Malaysia, ia senantiasa bersinggungan dengan komunitas akademik dan industri yang sangat “berbau” Tiongkok. Bahasa Mandarin paling banyak digunakan di dunia bisnis yang ia saksikan di Malaysia, walaupun di dunia akademik tetap menggunakan bahasa Inggris.

Impiannya ingin bisa kuliah di Guangzhou, tercapailah. Uniknya, ia memulai kuliah di Tiongkok (Guangzhou) berangkat dengan modal bahasa Mandarin nol, alias tidak bisa sama sekali.

Kampus pilihannya, yang menerimanya, dan sekaligus memberinya beasiswa penuh, yakni Sun Yat Sen University, memberinya kesempatan mengikuti kelas pelajaran bahasa Mandarin selama 1 tahun di Sun Yat Sen University kampus Zhuhai. Alhasil, Nikkolai berhasil menyabet nilai HSK 5 pada ujian akhir tahun untuk bahasa Mandarin. Kemudian ia melanjutkan kuliah jurusannya, yakni Software Engineering di Sun Yat Sen University kampus Guangzhou.

Berikut penuturan Nikolai Ulyanov:

“Saya Nikkolai Ulyanov, mahasiswa Sun Yat Sen University (SYSU) jurusan Software Engineering dengan beasiswa penuh dengan dibantu oleh KuliahTiongkok.com. Saya masuk SYSU pada September 2018. Pada saat mendaftar, saya tidak bisa bahasa Mandarin. Saya mengikuti pelajaran bahasa Mandarin di kampus SYSU Zhuhai selama satu tahun. Alhamdulillah saya lulus HSK 5 dan saat ini saya sudah pindah ke kampus SYSU Guangzhou untuk perkuliahan saya.

Oh ya sebelum ini saya adalah mahasiswa School of Computer & Multimedia jurusan Game Development di KDU Selangor, Malaysia. Saya memilih pindah ke SYSU karena kampus Tiongkok lebih mendukung rancangan keahlian saya. Di samping itu, Guangzhou adalah kota bisnis yang merupakan daya tarik tersendiri bagi saya. Saya ingin mengembangkan bisnis yang ditopang kemampuan IT. Lagian… saya di sini kan dapat beasiswa penuh”. “Saya berterima kasih kepada KuliahTiongkok.com. Maju teruuss… Bantu anak-anak Indonesia!”

Selama di Zhuhai, Nikkolai kadang pergi jalan-jalan ke Macau bersama teman-temannya. Zhuhai – Macau ditempuhnya selama 1 jam dengan bus dengan ongkos Rp. 8.000,- pergi-pulang.

kuliah di tiongkok mainnya ke macau dan hongkong
Nikkolai Ultanov menatap masa depan.. eh, menatap hamparan laut yang memisahkan daratan Zhuhai dengan Macau.. Hayuk kuliah di Tiongkok… tapi mainnya ke Macau dan Hongkong. Murah lagi! Hehe….
Indonesian Connect 2019

Indonesian Connect 2019

   

Indonesian Connect, sebuah program yang digagas Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT), untuk menghubungkan para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Tiongkok. 

Indonesian Connect dibentuk karena trend semakin meningkatnya animo anak-anak Indonesia untuk kuliah di Tiongkok dari tahun ke tahun. Kondisi ini yang  membutuhkan ketersediaan informasi tentang kuliah di Tiongkok, informasi beasiswa di Tiongkok, serta informasi hidup di Tiongkok secara valid. 

“Kesulitan memperoleh informasi valid tentang kuliah di Tiongkok, maka acara ini diharapkan dapat memberi informasi seputar kehidupan di Tiongkok”. Demikian yang dikatakan Ketua Panitia Indonesian Connect 2019, Nikkolai Ali Akbar atau yang sering dipanggil “Nikko Akbar”.

Nikko Akbar, yang juga mahasiswa Chongqing Medical University tahun ke-4, adalah Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok pada kepengurusan pusat, dan Ketua Satgas Penipuan Agen dan Kerja Paksa PPI Kawasan Asia dan Oceania pada kepengurusan PPI Dunia.

Aktivitas di luar akademik formal ini menurutnya, sebagai wujud kepeduliannya kepada pendidikan bagi generasi milenial.

“Setidaknya, ada hal kecil yang bisa saya perbuat untuk rekan-rekan seangkatan saya dan angkatan setelah saya dalam hal penyediaan informasi kuliah di Tiongkok, kehidupan di Tiongkok dan berkreasi di Tiongkok”, ujar Nikko kepada KuliahTiongkok.com.

Pendaftaran Online Kuliah di China

Pendaftaran Online Kuliah di China

Play Video

Pendaftaran Online Kuliah di China

Silakan kunjungi www.KuliahTiongkok.com

Mengapa Kuliah di China?

China atau Tiongkok, adalah negara maju yang memiliki banyak universitas berkualitas serta memiliki kekuatan ekonomi yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia! Negara ini memiliki rekam jejak peradaban yang tangguh sejak zaman Tiongkok kuno hingga modern. Etos kerja manusia Tiongkok yang ulet, disiplin, kuat dan pantang menyerah sangat patut dicontoh. Maka, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina! Kini, terbukti lulusan universitas Tiongkok lebih mudah dan cepat mendapatkan pekerjaan!

Silakan Klik Gambar Untuk Kunjungi Website Kami

our Supporting team

Nikko Akbar

Mahasiswa Chongqing Medical University

Pengurus Pusat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok dan Pengurus PPI Dunia

Nikkolai Ulyanov

Mahasiswa Sun Yat Sen University

Pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Ranting Sun Yat Sen University, Guangzhou

Wawan Kuswandoro

Dosen Universitas Brawijaya

Founder MiracleWays®, Konsultan Pendidikan & Personal Development

Practice makes perfect

We know about your hectic schedule. We also know the only way you truly understand a subject is by practicing it in a real environment. This is why we’ve set a playground area that’s full of hours of exercises, questions and challenges. It even has a gaming section. 

The best campus facilities

In addition to our online classroom, we also offer an option to take part in a live classroom. It takes place in our vast campus throughout China. Here you’ll be able to use the most up-to-date facilities.

KuliahTiongkok.com Articles

Categories

Learn from the very best

Join our experience and start building the most wanted study and career’s supporting campus available today. We make sure every class is easily understood, and that all students reach the same level of expertise needed for today’s industry.

You may choose English or Mandarin class.

Working hours

Monday- Thursday:8:00-18:30 Hrs
(Phone until 17:30 Hrs)
Friday - 8:00-14:00

We are here

Perumahan Kopian Barat B7, Probolinggo 67222, Jawa Timur

Catatan Kongres Diaspora Indonesia

Catatan Kongres Diaspora Indonesia

Gagasan “mengumpulkan” diaspora, yang secara mudah diartikan sebagai “orang-orang Indonesia atau yang memiliki pertalian budaya dengan Indonesia yang tinggal di luar negeri” adalah sebuah kebaikan.

Orang Jawa bilang, “ngumpulke balung pisah” atau “mengumpulkan tulang belulang yang berserakan” supaya tidak “kepaten obor” atau “mengalami kematian obor” yang bermakna terlepas dari jejak leluhur.

Mengumpulkan kaum diaspora, adalah gagasan silaturahim. Bisa jadi mereka yang sedang terpisah secara budaya dan mengalami life-world budaya baru itu sedang mengalami kerinduan akan pertalian “budaya asal” yang sama.

Saya tak hendak berusaha mencurigai apa-apa atau mengkiritik apa-apa, karena sebagaimanapun kekurangan yang ada, aktivitas “ngumpulke balung pisah” adalah baik dan sebuah kebaikan.

Ke depan, aktivitas komunitas diaspora Indonesia ini bisa makin menemukan jati dirinya, dan benar-benar mampu berkontribusi bagi “nenek moyangnya”.

Tahap saat ini adalah tahap permulaan. Sudah baik. Perjalanan 1 li dimulai dari 1 langkah, kata orang bijak zaman dulu di Tiongkok.

Terlepas dari kekurangan yang ada, kiranya patutlah kita berterima kasih kepada Dino Patti Jalal, sang penggagas komunitas diaspora Indonesia.

Berikut, saya hadirkan tulisan menarik tentang diaspora Indonesia, oleh Windu Jusuf, sebagaimana pernah dimuat di Tirto.co.id dengan judul “Salah Kaprah Diaspora”.

Tirto.co.id membuka percakapan dengan sebuah taglineKongres Diaspora Indonesia cenderung menyederhanakan kompleksitas fenomena diaspora”.

Berikut beritanya, sebagaimana asli terbitan Tirto.co.id, tanpa editing.

Sumber Gambar: https://tirto.id/salah-kaprah-diaspora-crRD

Pembicaraan publik seputar Kongres Diaspora Indonesia memunculkan satu pertanyaan: benarkah kata “diaspora” tepat untuk mendeskripksikan jutaan orang Indonesia yang sudah tinggal dan bekerja di luar negeri?

Dalam kajian ilmu sosial, diaspora merupakan lema yang digunakan untuk merujuk kelompok-kelompok etnis atau bangsa yang tinggal jauh dari kampung halaman dan, umumnya, sangat mempertimbangkan sebab-sebab persebaran kelompok tersebut: penindasan politik, persekusi, wabah, dst.

Situs Indonesian Diasporan Network (IDN) menyebutkan bahwa: istilah Diaspora Indonesia sendiri memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah WNI yang tinggal di luar negeri yakni masih memegang paspor Indonesia secara sah. Kelompok kedua adalah warga Indonesia yang telah menjadi warga negara asing karena proses naturalisasi dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia. Sementara bagi warga negara asing yang memiliki orang tua atau leluhur yang berasal dari Indonesia masuk dalam kategori ketiga. Dan kelompok yang terakhir adalah warga negara asing yang tidak memiliki pertalian leluhur dengan Indonesia sama sekali namun memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia.

IDN didirikan pada 2012 oleh Dino Patti Djalal. Dalam sebuah wawancara pada 2013, Dino mengklaim bahwa pembentukan jejaring diaspora Indonesia bermula saat ia menjabat Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat (antara 10 Agustus 2010 – 17 September 2013). Ia mengatakan bertemu banyak sarjana dan pengusaha di antara komunitas Indonesia.

“Saya terkejut oleh kisah-kisah sukses mereka dan fakta bahwa banyak dari mereka saling tidak mengenal. Dari sini muncullah ide untuk menjadikan titik-titik perorangan ini sebuah jejaring global,” ujar Dino yang sempat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri dalam waktu yang cukup singkat (14 Juli 2014 – 20 Oktober 2014).

Kata diaspora diputuskan untuk dipakai untuk, menurut Dino, “[…] menghubungkan bukan saja warganegara Indonesia tapi juga keturunan Indonesia.”

Yang patut digarisbawahi di sini adalah “cerita sukses”. Dino sendiri, pada 2012, pernah menerbitkan buku berjudul Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang, yang berisi pengalaman sejumlah orang Indonesia di luar negeri.

Pertanyaannya adalah: apakah seseorang harus sukses sebelum boleh masuk ke dalam kategori “diaspora”? Tapi lagi-lagi, apa ukuran sukses?

Asal-Usul Diaspora

Sebelum jadi jargon pada era Dino Patti Djalal, bahkan hingga kini di lingkungan akademik, kata “diaspora” jauh dari konotasi yang menyenangkan.

Bahasa Indonesia mengenal lema “perantau” untuk orang-orang yang mencari penghidupan jauh dari kampung halaman; “pengungsi” untuk mereka yang melarikan diri dari konflik atau dipersekusi pemerintah.

Media-media arus-utama menggunakan kata “ekspatriat” untuk menamai orang-orang dari luar negeri (umumnya dari negara maju seperti Amerika utara dan Eropa Barat) yang bekerja di Indonesia. Sedangkan kata “migran” dipakai, biasanya, untuk pekerja-pekerja kasar dari negara-negara Dunia Ketiga. Penggunaan kata “ekspat” belakang sering digugat karena hanya berlaku untuk orang-orang kulit putih. Pekerja rantau atau pekerja tamu, mungkin lebih baik untuk menyebut baik yang biasa disebut “ekspat” maupun “migran”.

Menyoal kesuksesan yang dikatakan Dino, perantau, atau lebih persisnya, perantau sukses, boleh jadi lebih tepat digunakan untuk menggeser penggunaan kata “diaspora” yang, dalam praktiknya, lebih sering digunakan untuk menjelaskan fenomena perpindahan manusia dari karena alasan-alasan yang tidak menyenangkan.

Dalam disertasinya yang dibukukan tentang diaspora Aceh, Separatist Conflict in Indonesia: The long-distance politics of the Acehnese diaspora (2012), peneliti Jerman Antje Missbach menyatakan bahwa sampai tahun 1970an, istilah ini ekslusif hanya digunakan untuk menyebut Diaspora Yahudi, Armenia, Yunani guna menandai persebaran suku-suku bangsa kuno yang telah berlangsung selama berabad-abad.

“Makna konotatif yang diperoleh dari pengalaman mereka negatif, misalnya pengusiran, perlakuan tidak adil, pemiskinan, penganiayaan dan trauma,” tulis Missbach. Diaspora dibedakan dari perantau atau migran dalam artian luas, berdasarkan keinginan kolektif mereka untuk memelihara ikatan kultural dengan tanah air.

Kajian-kajian akademik pada umumnya menyebut “diaspora Yahudi” untuk orang-orang berdarah Yahudi yang tinggal di seluruh dunia guna menghindari persekusi di Eropa hingga Perang Dunia II; atau “diaspora Armenia” untuk orang-orang Armenia beserta keturunannya yang mengungsi akibat pembantaian oleh pasukan Turki Usmani pada Perang Dunia I; “White Russians” untuk simpatisan Tsar pada era Revolusi Bolshevik yang di antaranya mengungsi ke Tiongkok dan Eropa Barat; “diaspora Tiongkok” untuk orang-orang Tionghoa yang kabur dari Revolusi Kebudayaan zaman Mao; “diaspora Iran” untuk orang-orang Iran yang meninggalkan tanah air untuk menghindari penindasan Shah atau kecamuk Revolusi Iran; dan “diaspora orang Kroasia” setelah Perang Balkan.

Namun bukan berarti diaspora Indonesia tidak ada. Dalam definisi akademik di atas, diaspora Indonesia sungguh-sungguh eksis.

Dari wilayah Indonesia sendiri, setidaknya terdapat lima kelompok besar diaspora: diaspora penyintas 1965, yakni orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri dan tak bisa kembali setelah pembantaian 1965-66; diaspora Timor, yaitu orang-orang Timur Leste (di antaranya Ramos Horta dan Mari Alkatiri) yang terpaksa menyingkir dari kampung halaman sejak invasi Orde Baru ke Timor (1975); diaspora Aceh, yang lahir akibat konflik dengan pemerintah pusat pada era Soekarno, Soeharto, hingga Megawati; diaspora orang-orang Maluku pendukung Republik Maluku Selatan di Belanda; serta diaspora Papua yang terdiri dari jejaring aktivis pro-kemerdekaan Papua di luar tanah Papua.

Missbach menyebutkan bahwa ketertarikan atas topik diaspora juga meningkat bukan hanya karena semakin tumbuhnya komunitas-komunitas serupa, tapi juga “karena peran mereka semakin diakui dalam politik global.”

Demikianlah, diaspora orang Rusia pasca revolusi 1917 ikut membantu kemenangan Soviet dan Sekutu atas Blok fasis pada Perang Dunia II; kalangan Yahudi liberal di New York didengar suaranya di forum-forum dunia terkait konflik Israel-Palestina; komunitas Kuba yang tinggal di Florida (salah satunya Marco Rubio, kandidat presiden dari Partai Republik AS), selama bertahun-tahun aktif melobi pemerintah AS untuk mendorong terciptanya kebijakan-kebijakan anti-Castro.

Terkait politik global kelompok-kelompok diaspora dari wilayah Indonesia, tercatat Gerakan Aceh Merdeka memperoleh dukungan finansial yang sangat besar dari sumbangan para tenaga kerja Aceh di Malaysia. Tekanan internasional terhadap Timor Leste bertambah besar dengan aksi-aksi solidaritas di luar negeri yang digalang oleh kalangan diaspora Timor—salah satunya adalah demo di Dresden, Jerman, menyambut lawatan Soeharto pada 1995.

Seiring lengsernya Soeharto, selesainya konflik di Aceh, dan kemerdekaan untuk Timor Leste, sebagian dari anggota diaspora kembali ke kampung halaman. Sebagian lainnya, misalnya sejumlah diaspora 1965, sejenak pulang dengan paspor asing—kewarganegaraan mereka dicabut dan tak pernah dipulihkan.

Kelompok terakhir inilah yang lazim dipanggil sebagai “orang-orang eksil”.

 

Ditulis oleh: Windu Jusuf

Pengantar tulisan di website ini: Wawan Kuswandoro

Gambar ilustrasi utama: dokumen pribadi Nikko Akbar.

Sumber tulisan: https://tirto.id/salah-kaprah-diaspora-crRD

 

Masalah? Renaturasi Aja!

Masalah? Renaturasi Aja!

Semua orang, siapa pun dan dimana pun, pasti pernah mengalami masalah. Beda orang, beda kebutuhan, beda pula masalah yang dialami. Seiring pertumbuhan dan perkembangan diri kita, masalah yang kita alami pun bervariasi.

Ketika kecil, masalah terbesar kita biasanya berkaitan dengan permainan, entah selalu kalah setiap bermain, selalu dicurangi, dll. Ketika kita beranjak remaja pun, masalah yang dialami pun bertambah kompleks, salah satu contoh paling umum yaitu yang berkaitan dengan asmara. Entah itu bertengkar dengan pacar, ditolak gebetan, maupun baper setelah bertemu mantan yang sudah lama tidak bersua. *Ehm* Begitu pula ketika kita telah mulai menjadi manusia dewasa, masalah yang dialami bukan hanya melulu soal cinta, tetapi juga berkembang menjadi seputar pekerjaan, entah bermasalah dengan bos atau rekan kerja, atau gaji yang dirasa terlalu kecil, dan masih banyak lagi.

Intinya, selama kita hidup kita pasti menghadapi suatu kondisi yang sangat tidak menyenangkan dan selalu merugikan kita: MASALAH. Berkaitan dengan masalah, lain orang lain pula caranya menyelesaikannya.

Reaksi yang paling umum kita lakukan ketika pertama kali mengalami masalah adalah: EMOSI. Ya, percaya atau tidak, kebanyakan orang langsung naik pitam, atau berubah menjadibad moodloyo, tidak semangat, ketika pertama kali mendapat masalah. Bahkan ada yang menjadi stress dan langsung berdampak negatif terhadap pekerjaan maupun kehidupan sosialnya. Hampir tidak ada orang yang langsung tenang atau kalem-kalem saja ketika menghadapi masalah, apalagi senyam-senyum/cengengesan. Minimal pasti langsung kesal atau kecewa.

Hal tersebut sebenarnya lumrah, selama tidak terlalu berlarut-larut dalam perasaan-perasaan negatif tersebut. Selama tidak terlalu terbuai oleh emosi yang, sebenarnya, tidak membantu sama sekali dalam pemecahan masalah kita. Yaah, tentu saja tidak ada satu orang pun yang mau terus menerus berlarut-larut dalam emosi negatif tersebut. Namun apa daya, mengembalikan mood dan semangat untuk beraktivitas saja susah, apalagi mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Susah berkali lipat!

Namun, ternyata kunci penyelesaiannya ada di diri kita sendiri. Lebih tepatnya ada di salah satu komponen yang dimiliki oleh setiap sel kita, dan ternyata kita turunkan ke keturunan kita: DNA.

kuliah tiongkok

DNA merupakan molekul yang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena di dalamnya terdapat informasi genetik, atau yang biasa disebut gen, yang menentukan ciri-ciri kita, seperti warna kulit, jenis rambut, warna mata, dll. Segala ciri-ciri yang ada di diri kita saat ini, sebagian besar berasal dari gen yang diwariskan oleh kedua orangtua kita, dan nantinya akan kita turunkan pula ke anak cucu kita.

Ketika berada di suhu yang cukup tinggi, molekul DNA akan pecah, rusak, tidak dapat berfungsi dengan baik. Namun, ketika suhu diturunkan, atau dengan kata lain, molekul DNA tersebut didinginkan, molekul-molekul DNA yang tadinya rusak bergabung kembali menjadi DNA yang utuh. Molekul DNA yang telah utuh kembali ini pun dapat berfungsi kembali.

Sama seperti DNA yang terdapat di setiap sel tubuh kita, ketika kita terlarut dalam emosi ketika menghadapi masalah, kita akan susah untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang kita alami. Diri kita sedang ter’denaturasi’. Bagaimana bisa mencari jalan keluar, jika kondisi diri kita sendiri saja tidak optimal?

Namun, jika kita bersedia untuk cooling down sejenak, menenangkan diri kita sendiri walaupun untuk sekejap saja, pasti ditunjukkan jalan keluarnya. Pasti ada saja jalan atau ‘hidayah’ yang kita terima, sehingga kita dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan baik. Intinya, kita harus ‘mendinginkan kepala’ kita terlebih dulu, agar diri kita ini ter-’renaturasi’ kembali, menjadi ‘satu kesatuan yang utuh’ kembali.

Cara me’renaturasi’ diri ini biasanya berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang melakukannya dengan beribadah, meditasi, membaca buku, main games, dan masih banyak lagi, tergantung dari kepribadiannya. Apapun cara yang ditempuh, tujuannya tetap satu: Menenangkan diri agar dapat menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Segala jawaban terhadap pertanyaan, keraguan, atau hal-hal lain yang mengusik kehidupan sehari-hari kita ternyata telah disediakan di dalam diri kita sendiri. Jika kita ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang tubuh kita, ternyata di dalamnya terdapat berbagai macam informasi penting yang mampu membantu kita dalam menjalani hidup sehari-hari.***

 

Tulisan ini pernah diterbitkan di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/02/masalah-renaturasi-aja.html

 

Cellular Signal ‘Gosipping’ (English)

Hey, did you know? Last night when I was taking a stroll with Manish, suddenly we bumped into Neil and Riri. They were holding hands and then bla bla bla… And, ugh, after that I felt bla blueh bleh…

           The dialog shown above is one of the conversation, which I often heard, from my girl friends (not girlfriends, I don’t even have any at the moment, sadly speaking). The conversation which is, actually, capable to fills the gloomy and lonely days of ours. The conversation which had became a media for us to communicate and gather information. The conversation which, at a glimpse, seems to has no end and, strangely enough, would never run out of topic every day. The conversation which, seems had, became the first to check in our To-Do List, when we’re hanging out with friends, especially for the girls. What kind of conversation am I talking about, anyway?

Well, let me give you some clues:

Firstly, This conversation is widely popular among girls

Secondly, This conversation is commonly used by using this kind of system: Source of information/Informant à First Receiver à Second Receiver à Third, Fourth Receiver, and so on

Thirdly, The main function of this kind of conversation is to relay information from one source, which is the informant, to one another continuously. So that the majority of others know about it.

Yepp, the kind of conversation that I’m talking about is: Gossip, a kind of information gathering which depends on the continuously relay of information from one person to the others. Gossiping seems like to have already become something non-unfamiliar for us, whoever we are and wherever we are, it can be stated for sure that we had ever participated in it. No matter if we acknowledge it or not. No matter if we remember in doing so or not.

And, curiously speaking, the stereotype of gossiping had, since many years ago, become a distinct characteristic of females, although, in some cases, males are also willing to take a role in it. Or to be precise, are curious to know some up to date information from our surroundings.

Since the desire to know, based on advanced form of Maslow’s Hierarchy of Needs, is one of the things that we, as humans, considered to be important to be fulfilled. Thus, creating the overwhelming urge in ourselves, consciously or not, to gather as much information as we could. And gossip, for some people, provided the decent fulfillment for that necessity.

Although the authenticity and credibility of the information in gossip is highly questionable, but, well, that’s not the point here actually.

The point is the way or method of how the gossip was spread and being relayed is, in fact, pretty much similar to one of the metabolic process in our body, which called Cellular Signal Transduction/CST.  The main function of this process is to relay the information from the extra-cellular environment into the cell, which will then react accordingly to the information given.

For example: The glucagon hormone in the blood stream will tell the hepatocytes in our liver, whether it should increase the glycogen level or not.

And, the main and unique feature of this process, which is somewhat similar to gossip, is the continuously relay of information from one molecule to the others, which is called cascade. The continuously relay of information, which was started from the outer membrane-receptor, to the intracellular signal transducers (including second messenger and other proteins), then to the effecter protein, which then will have a specific reaction according to the information given, has the role of enhancing and strengthening the information’s signal.

In other words, the longer the cascade is, that means that the more important the information that was being relayed. Pretty much similar to gossip: the more people know about it, then the more interesting and ‘important’ the gossip really is, isn’t it?

Furthermore, the process of CST is somewhat resembled the one that of the gossip:

First, The first process of CST is the binding of information-carrying molecules, which is called ligand, to the specific outer membrane-receptors. There are a lot of ligands in our body, such as: hormones (Glucagon, Angiotensin, Vasopressin etc) Acetylcholine, etc. This process, simply speaking, is the analogy of the relay of gossip information from the informant to the first receiver.

Second, After the ligand has bind to the receptor, it will trigger the next molecules to active:intracellular signal transducers. This molecules, which is consisted of: second messenger, such as cGMP and cAMP (nucleotides), Calcium ion, DAG (lipid), etc; and other protein molecules, such as G-Protein, Adaptor Protein, Schaffold Protein, Protein Kinase/Phosphate, etc, served the role of enhancing and strengthening the information’s signal.  This is similar to the relay of the gossip news from the first receiver to the second receiver, or from the second receiver to the third receiver, and so on.

Third, The activation of the intracellular signal transducers will activate the other molecules, known as the effecter protein, which is functioned to give a response according to the information that has been relayed. This is the final process of the ‘gossip cascade’, when every related components have served their role in relaying the information and the accordingly response has been commenced.

Based on that simple explanation, it can be concluded that thanks to the ‘gossiping’ of the related components which composed our cells, we’re able to maintain our metabolic process, which has supported our life up until now. So, frankly speaking, are we being maintained and supported through gossip? Unfortunately, it seems so. But, as long as we use that ‘gossip’ for the good of others, it’s okay right? Just like how our body is ‘gossiping’ through the Cellular Signal Transduction pathways.

I’m joking, there’s basically no good in gossip.

But anyway, thanks for reading the article!

 

This article was also published in:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/01/cellular-signal-gosipping-english.html

 

Cellular Signal ‘Gossiping’

Cellular Signal ‘Gossiping’

 Eh La, lu tau gak siih semalem kan gue jalan sama si Manish. Eh, tiba-tiba ketemu sama si Riri & Neil gandengan tangan trus mereka bla bla bla.. Iiihh kan gue jadinya blueh blueh bleh…”



Kutipan dialog di atas merupakan percakapan, yang seringkali saya dengar, dari teman-teman saya, terutama perempuan, yang kerap kali mengisi hari-hari kami yang terkesan sunyi dan monoton. Percakapan yang acap kali menjadi media kita untuk berkomunikasi dan mengumpulkan informasi. Percakapan yang, sekilas, terkesan tiada henti dan, anehnya, tidak pernah kehabisan bahan setiap harinya. Percakapan yang, seolah, menjadi menu wajib yang pasti dilakukan setiap berkumpul bersama kawan, terutama oleh ibu-ibu arisan, dari kalangan mana pun. Percakapan apa sih yang dimaksud?

 

Well, mari saya beri petunjuk:

Satu, Percakapan tersebut umumnya dilakukan oleh perempuan;

Dua, Percakapan ini biasa dilakukan dengan sistem seperti berikut: Sumber informasi à Penerima pertama à Penerima kedua à Penerima ketiga, keempat dst.

Tiga, Fungsi dari percakapan sejenis dengan sistem seperti itu adalah penyampaian informasi dari satu sumber (informan) ke pihak-pihak lain secara beruntun, sehingga (hampir) semua orang mengetahuinya.

Yapp, percakapan yang saya maksud adalah: GosipGosip-menggosip seakan sudah menjadi hal yang tidak asing di keseharian kita, siapa pun dan di mana pun kita berada, sudah bisa dipastikan kita pasti pernah terlibat di dalamnya. Hayoo, akui saja sudah. Dan entah kenapa stereotip gosip selalu ‘dituduhkan’ kepada kaum Hawa, padahal tidak menutup kemungkinan beberapa golongan dari kaum Adam pun menyukainya. Atau lebih tepatnya, menyukai informasi yang dibawa melalui gosip tersebut, karena biasanya hal yang biasa digosipkan adalah informasi-informasi ter-up to date dari lingkungan sekitar. Tentu saja tidak ada yang mau dibilang kudet kan?

Salah satu karakteristik utama dari gosip, selain dari pelaku, yaitu dari mekanisme penyampaian informasinya, yang umumnya melibatkan: Sumber informasi/informan, Penerima Pertama, Penerima Kedua, Penerima Ketiga, Keempat, dst. Intinya adalah: Menyampaikan informasi secara beruntun dari satu pihak ke pihak lain, sehingga informasi tersebut dapat dengan mudah diketahui dan diakses oleh semua orang. Yaah, walaupun keabsahan informasi gosip memang patut dipertanyakan. But, well, that’s not the point.

 

Dan ternyata, dengan menggunakan prinsip yang sama, komponen-komponen penyusun sel-sel tubuh kita pun ber’gosip’ untuk menerima dan menyampaikan informasi dari luar sel. Proses ini dinamakan Transduksi Sinya Sel (Cellular Signal Transduction/CST). Fungsi dari proses ini adalah, tentu saja, menyampaikan informasi yang berasal dari lingkungan di luar sel (extracellular) ke protein terkait, sehingga menghasilkan reaksi yang sesuai dengan informasi yang diterima.

Contoh: Hormon Glukagon akan mengirimkan informasi ke dalam sel-sel hati (Hepatocytes) terkait kadar glikogen di dalam hati, apakah sebaiknya ditingkatkan atau diturunkan.

Dan, fitur unik dari proses ini adalah adanya serangkaian reaksi beruntun dalam penyampaian informasinya, atau yang biasa disebut dengan cascade. Penyampaian informasi secara beruntun, yang bermula dari reseptor/penerima yang terletak di membran luar sel,intracellular signal transducers (meliputi second messenger & protein lainnya), protein efektor, hingga menghasilkan respon yang sesuai, ini berfungsi untuk memperkuat sinyal informasi yang dibawa.

Dengan kata lain, semakin panjang dan rumit cascade yang ada, maka bisa dibilang semakin penting informasi yang dibawa. Kurang lebih sama kan dengan gosip: Semakin panjang rantai penerima berita gosip, berarti semakin menarik dan ‘penting’ lah gosip tersebut. Bukan begitu?

Selain itu, proses CST ini ternyata kurang lebih beti (beda tipis) loh dengan sistem gosip.

Satu, Proses pertama dari CST yaitu menempelnya molekul pembawa informasi dari luar sel, atau yang biasa disebut dengan ligan, ke reseptor yang terletak di membrane luar sel. Tahap ini bisa dianalogikan dengan penyampaian gosip dari Informan ke Penerima Pertama.

Dua, Melekatnya molekul ligan ke reseptor, akan mengaktifkan ‘pihak’ berikutnya yang disebutintracellular signal tranducers. Molekul ini, terdiri dari: second messenger, seperti ion kalsium/ Ca2+, DAG (lipid/lemak), cAMP & cGMP (nukleotid), dll;  serta protein lainnya seperti: G-Protein, Protein Adaptor, Protein Kinase/Phosphatase, dll, berfungsi untuk memperkuat sinyal informasi yang sedang disampaikan. Atau, dengan kata lain, tahap ini merupakan tahap penyampaian gosip dari Pihak Pertama ke Pihak Kedua, atau dari Pihak Kedua ke Pihak Ketiga, dst

Tiga, Aktivasi dari intracellular signal tranducers ini kemudian akan mengaktivasi senyawa protein efektor, yang berfungsi untuk menghasilkan reaksi terkait dengan informasi yang telah diterima. Senyawa ini dapat berupa enzim metabolik, protein regulator gen, atau pun protein cytoskeleton. Pada tahap ini, ‘gosip’ telah mencapai tahapan final ketika seluruh komponen terkait telah menerima informasi dan, bisa dipastikan, respon yang diinginkan telah terwujud.

Nah, berdasarkan penjelasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa komponen penyusun sel tubuh kita pun, ber’gosip’ untuk menyampaikan dan memperkuat informasi, sehingga terjadilah serangkaian proses metabolik yang menunjang kehidupan kita. Berarti, kita bisa tetap hidup dan beraktivitas, berkat gosip donk? Sayangnya, berdasarkan pengetahuan yang saya terima, iya. Namun, tetap lah perhatikan penggunaan dan penempatan gosip yang tepat. Marilah kita ‘bergosip’ untuk menyebarkan berita baik dan membawa manfaat bagi sesama, sama halnya dengan proses Cellular Signal Transduction di dalam tubuh kita.

Salam Ilmu Pengetahuan!

 

NB: Jika kalian merasa konten blog ini menarik, bisa like Facebook: CalonDokter, untuk update postingan berikutnya.

Ditunggu komentar, kritik & sarannya agar CalonDokter semakin berkembang!

Terima kasih ^0^

 

Tulisan ini pernah terbit di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/01/cellular-signal-gossiping.html

 

  • Terms of Service
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Copyright 2017 KuliahTiongkok.com
Design By: ZonaWeb.Co.Id

Perlu Bantuan? Silakan Chat Kami

Hallo. Selamat Datang di Website KuliahTiongkok.com. Silakan chat Customer Support kami di sini.

Bagian Penjemputan & Perbantuan di Tiongkok

Nikko

Online

Bagian Pendaftaran & Administrasi

Wawan

Online

Nikko

Hallo, saya Nikko. Ada yang bisa saya bantu terkait PENJEMPUTAN & PERBANTUAN DI TIONGKOK? 00.00

Wawan

Hallo, saya Wawan. Ada yang bisa saya bantu terkait PENDAFTARAN & ADMINISTRASI? 00.00