Pemindahan Ibukota RI Untuk Kepentingan Tiongkok?

Pemindahan Ibukota RI Untuk Kepentingan Tiongkok?

Wacana pemindahan ibukota RI menambah hiruk pikuk galau politik negeri ini di tengah benturan kepentingan. Apalagi jika terkait dengan nama negara yang menjadi isu sexy pro-kontra dari aneka benturan kepentingan tersebut, yakni: Tiongkok, atau Negara Cina. Tak ayal, nama Tiongkok menjadi bulan-bulanan benturan wacana yang bersumber dari benturan kepentingan politik negeri ini. Kini, nama Tiongkok muncul lagi secara sexy di tengah isu pemindahan ibukota RI, yang sempat disebut-sebut sebagai actor tersembunyi di balik rencana (wacana) pemindahan ibukota RI, bahwa pemindahan ibukota RI dilaksanakan demi kepentingan Tiongkok. Benarkah?

Pertarungan Wacana

Tulisan ini tak hendak memberikan klarifikasi atau elaborasi apalagi reasoning, karena di luar kapasitas penulis. Akan tetapi lebih mengarah pada “penjernihan diri” dalam menyikapi isu atau wacana yang berkembang liar di jagad politik online atau jagad medsos. Upaya “penjernihan diri” ini penting karena kita mesti berhadapan dengan aneka berita yang belum tentu dijamin kebenarannya, setidaknya kita tidak tahu persis kebenaran berita itu.

Dan jika pun ternyata benar (valid) di kemudian hari (entah berapa lama), kita tidak kehabisan energi untuk hal-hal yang sia-sia. Inilah gunanya “penjernihan diri”, yakni melalui penggunaan kata-kata dalam pikiran untuk melawan kata-kata yang digelontorkan oleh mereka yang sedang bertempur.

Siapa yang bertempur dan bertempur dengan apa? Mereka yang sedang bertempur adalah para pemilik kepentingan politik dan ekonomi dengan memainkan isu, memproduksi wacana untuk menguasai pikiran publik agar wacananya yang dipercaya. Menggunakan apa? Menggunakan seperangkat alat tempur yang bernama: “kata-kata”, diluncurkan dengan peluncur medsos.

Naga Bonar dan Si Bujang

Nah. Kita, sebagai penonton pertempuran atau pihak yang tidak ikut bertempur, jangan  sampai terseret secara gratis dan bodoh dalam pertempuran mereka yang jelas mengandung kepentingan tertentu yang bermanfaat. Kita harus punya benteng pertahanan jika tak ingin konyol tergerus arus liar pertempuran yang bukan milik kita!

Ingat kata Jenderal Naga Bonar: “Sudah kubilang.. jangan ikut bertempur.. Eh, bertempur pula… matilah kau..!”

Kata-kata Naga Bonar ini untuk Bujang, karibnya yang kemudian menjadi orang dekatnya dalam “dinas militer”. Si Bujang ini diketahui Naga Bonar sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan cukup untuk  bertempur. Benar juga Sang jenderal ini ya…

Personal Discourse dan The Know-Nothing

Nah dalam pertempuran wacana dalam arena kuruksetra bernama medsos, benteng pertahanan kita adalah seperangkat kata-kata juga. Kata-kata ini berasal dari cross-check dan referensi, pengetahuan (knowledge) atas suatu isu. Kata-kata ini kita jelmakan menjadi wacana pribadi atau personal discourse yang memagari pikiran kita. Personal discourse versus social discourse bahkan political discourse milik para petarung politik jalanan yang memanfaatkan medsos! Setidaknya, personal discourse ini menyelamatkan kita dari bahaya tak terduga, menjadi the know-nothing.

The know-nothing (orang yang gak tahu apa-apa) akan menjadi sasaran empuk para petarung wacana yang sedang berjuang demi nasibnya sendiri namun bertindak seolah-olah atas nama nasib banyak orang. The know-nothing ini bukan hanya mereka yang awam, tetapi juga mereka yang tidak tahu apa-apa tentang “apa yang sebenarnya sedang terjadi”, termasuk mereka yang tidak ikut perang, tidak ikut dapat untung tapi siap menjadi martir demi sang jagoan perang egois berwajah empatik yang menjadi aktor pujaannya!

Pembelahan Identitas Politik Maya

Trend pembelahan identitas politik maya ini merupakan warisan kolonial identitas politik maya pada saat pilpres. Entah mengapa masih terbawa hingga kini. Tak hanya warna, kini nama-nama, sebutan-sebutan, tag-line, bahkan apa saja, menjadi tidak netral. Seolah mewakili simbol-simbol politik tertentu, terlekati pesan sponsor identitas politik tertentu. Awam pun dengan mudah dan sembrono segera memetakan polarisasi identitas politik menjadi pro-pemerintah cq. Jokowi dan kontra (“oposisi”) pemerintah cq. Prabowo (sisa-sisa The Pilpres Effect siih..). Padahal belum tentu demikian adanya dan kenyataannya.

Demikian pula nasib nama Tiongkok, seolah tersemat pada “kelompok” (kelompok maya) pro Jokowi (pemerintah). Jika diteruskan, “kelompok” pro-Prabowo terlekati dengan symbol “Arab” dan “Islam” (bahkan “Islam radikal”). Tapi bukan itu bahasan tulisan ini. Ilustrasi “pemetaan pikiran” tersebut hanyalah pelengkap penjelasan bahwa wacana yang diproduksi dengan senapan politik berpelurukan ‘kosa kata’ dalam medan perang medsos membutuhkan kehati-hatian kita dalam bersikap.

Di tengah-tengah era medsos yang tak terkendali dan kemalasan cross-check kebenaran berita yang menjadi kebiasaan umumnya pembaca medsos, keliaran berita apapun mengaburkan kebenaran dan kepalsuan.

Tak jarang, kekacauan dan kecampur-adukan kebenaran-kepalsuan ini juga mengacaukan pengambilan keputusan pada level pribadi terkait dengan sesuatu rencana. Acuan pengambilan keputusan: medsos! Kacau dah..

Tak ayal, wacana pemindahan ibukota RI, terlepas itu feasible atau tidak, layak atau tidak, telah ada studi kelayakan atau tidak, telah menjadi konsumsi lezat hidangan medsos dalam perjamuan politik online.

Dari aneka wacana pemindahan ibukota, dari berbagai sumber, terdapat beberapa kalimat atau frasa yang menarik untuk di-highlight (sebagian saja ya..):

Di balik pemindahan ibukota RI tersebut, ada kepentingan Tiongkok yang sedang diperjuangkan;  

Tiongkok siap membantu pembiayaan pemindahan ibukota tersebut;

Rusuh Papua sebagai pengalihan isu atas wacana pemindahan ibukota atau scenario tandingan untuk menggagalkan pemindahan ibukota karena kepentingan Amerika Serikat di Indonesia terganggu oleh kehadiran Tiongkok;

Pemilihan Kalimantan Timur sebagai calon ibukota (baru) adalah strategis bagi kepentingan geopolitik Tiongkok, bagi ekspansi program OBOR Tiongkok di kawasan Asia dan dunia;

Kalimantan juga dekat secara geografis dari Tiongkok;

Dalam peta, Kalimantan dan daratan Tiongkok berada dalam satu garis lurus yang memudahkan tembakan rudal Tiongkok (kalau yang ini terasa aneh bagi penulis.. hehe.. walaupun dalam kajian wacana, penulis sebenarnya tidak boleh mengungkap opini pribadi hehe…. Biarin dah…);

Sumber: KompasTV

Pemindahan ibukota RI ke Kalimantan adalah skenaro Tiongkok;

Sedangkan rusuh Papua untuk target referendum dan Papua merdeka, adalah scenario Amerika Serikat untuk bisa menguasai Papua dengan lebih leluasa untuk memuluskan program TPP (Trans Pacific Partnership) milik Amerika Serikat dkk untuk membendung dominasi Tiongkok di kawasan Asia – Pasifik;

Papua, merupakan ladang subur Amerika Serikat, dan Amerika  Serikat pun tak rela jika harta karunnya ini jatuh juga ke tangan Tiongkok;

Statemen Presiden RI bahwa pemindahan ibukota RI untuk mengurangi beban pulau Jawa dan Jakarta dan ditarget terlaksana pada tahun 2024;

Pemilihan pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Timur, menurut sumber di kepresidenan adalah karena pertimbangan dekat dengan pantai yang memiliki infrastruktur relatif memadai, untuk mendukung Negara maritime;

https://www.kompasiana.com/milisinasionalisback/5cc83c7895760e5ce44b9887/pemindahan-ibukota-demi-obor-china

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyatakan tidak membutuhkan bantuan Tiongkok untuk pemindahan ibukota RI;

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4053931/menko-luhut-indonesia-tak-butuh-china-buat-bangun-ibu-kota-baru

Amin Rais menyatakan pemindahan ibukota RI merupakan hasil kajian China, bukan Bappenas;

https://tirto.id/amien-rais-pemindahan-ibu-kota-hasil-kajian-cina-bukan-bappenas-ehr9

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190903131213-32-427107/amien-tuding-pemerintah-tunggu-kajian-china-soal-ibu-kota

Pemindahan ibukota merupakan proyek ambisius, mengingat keuangan Negara dalam APBN tidak memadai untuk itu;

Pemerintah Cina bisa memanfaatkan celah keterbatasan APBN untuk masuk dengan membiayai proyek pemindahan ibukota berikut pembangunan infrastrukturnya;

https://news.detik.com/berita/d-4692390/soal-pemindahan-ibu-kota-dradjad-wibowo-bicara-skenario-dibiayai-china

Telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara pengusaha Indonesia dan Tiongkok setelah pembukaan KTT Belt and Road Initiatives di Beijing (Kompas, 26/4/2019);

Beberapa high-light tersebut hanya cuplikan saja, tidak mewakili wacana secara keseluruhan yang diproduksi.  Namun dari situ tampak bahwa wacana tersebut masih mengikuti pola patron-klien berdasarkan pembelahan identitas politik puing-puing The Pilpres Effect. Pandangan pro berasal dari mereka yang pro-Jokowi dan yang kontra berasal dari yang kontra-Jokowi.

Yang di situ juga sarat dengan pertempuran wacana politik. Bahkan lebih dari itu, telah menjadi komoditas wacana politik! Masing-masing actor memperjuangkan kepentingannya masing-masing.

Nah…

Bagaimana Dengan Kita?

indonesia masa depanKita?? Kamu kaleee… hehe…

Gak usah ikut-ikutan galau… Emang kamu mau apa dan bisa apa?

Ikut-ikutan patron ya…. Sesuaikan aja dengan urusan kamu, kepentingan kamu ya gaess….

Ini semua bicara kepentingan kok. Jangan salah ya…

Pemindahan ibukota itu kepentingan siapa? Rakyat? Kamu? Elit politik? Partai politik? Presiden? Pengusaha? Tiongkok?

Kabur air…

Bahkan isu pemindahan ibukota ini tidak hanya berbunyi  “pemindahan ibukota itu untuk kepentingan apa dan siapa”, tetapi “mewacanakan pemindahan ibukota ini untuk kepentingan apa dan siapa”.

Kabur air pula…

Namun dari kekaburan ini, terdapat beberapa yang terang:

Indonesia sedang menjadi rebutan;

Tak perlu fokus ke Tiongkok, dari dulu Amerika Serikat dkk, Australia, Jepang, juga telah merambah tanah air beta ini;

Trend ekonomi-politik global, telah memunculkan Tiongkok sebagai actor baru yang berpengaruh;

Tiongkok, dengan proyek OBOR (One Belt One Road) atau Belt & Road Initiatives sedang berupaya membangun jejaring internasional dengan proyek infrastruktur untuk memperpendek alur dan biaya distribusi barang dalam perdagangan internasional;

Proyek infrastruktur Tiongkok juga merambah Indonesia;

Menguatnya bisnis internasional Tiongkok di Indonesia, kawasan Asia Pasifik dan dunia;

Sikap dan kemampuan pemerintah RI dalam bidang geopolitik dan ekonomi sedang dipertaruhkan di tengah isu disintegrasi dan kemandirian ekonomi;

Dari ke-7 highlight tersebut, kamu punya ide apa? Rencana apa? Adakah peluang di situ?

Ya tentu saja, ide, rencana dan pembacaan peluang yang selevel kamu laah.. selevel kita aja… Kita mah bukan pebisnis besar, tetapi calon pebisnis besar. Setuju?

Sekedar pengingat: tidak perlu Tiongkok-phobia...

Fakta bahwa hubungan dan kerjasama  Indonesia – Tiongkok kian mesra dan baik, tak terbantahkan. Bahwa Tiongkok sebagai aktor ekonomi global turut berpengaruh pada perkembangan ekonomi-politik Indonesia, juga tak terbantahkan. Trend bisnis internasional yang makin bernuansa Tiongkok, juga fakta.

So what....

Terserah elu, mau ngapain… Ikut-ikutan netijen +62 yang pintar nyinyir gak jelas tanpa memedulikan dirinya sendiri, juga monggoBagaya bak pengamat kesiangan yang ikutan meramaikan jagad medsos, juga gak ada ngelarang… Apapun boleh… Gw cuma mau bilangin elu gini aja: elu dapet ape ikutan heboh macam tu…. Elu ikutan perang? Itu perang punya elu atau perang punya siape? Cuma jadi follower GJ (gak jelas)? Hehe… Gw mah sibuk nyiapin kualitas diri gw aja… Biar kalau suatu saat ikutan perang, gw lebih siap. Biar Tiongkok menguasai Asia – Pasifik dan Indonesia, gw bisa ape? Ngusir mereka dari Indonesia? Jokowi aje kagak bisa. Ya karena memang tidak perlu ngusir siapa-siapa. Yang gw perlukan adalah: membikin diri gw berkualitas sehingga mampu bersaing dengan pasar kerja dan pasar bisnis yang berisi orang-orang berkualitas. 

Gw sekarang kuliah di Tiongkok. Belajar untuk menjadi cerdas, ulet, tangguh, kreatif dan mandiri. Kayak orang-orang Tiongkok. Gw salut ama cara mereka belajar dan berkarya untuk negerinya. Gw pengen gw dan adik gw, juga adik-adik angkatan gw untuk mau belajar cerdas, kreatif, ulet, tangguh dan mandiri. Sehingga kelak siap bertarung. Bukan merengek minta perlindungan sambil menunjuk-nunjuk orang lain dengan tudingan mau menjarah Indonesia!

Gw mau buktiin bahwa generasi milenial bukan generasi micin, cengeng dan bisanya cuman nyalah-nyalahin orang lain untuk nutupin ketidakmampuan dirinya. Gw pengen ngajak generasi milenial untuk bangkit demi negeri kita tercinta! Bangun kualitas diri kalian sekarang! Gw tunggu kalian di sini!

Kuliah Tiongkok Blog

Kuliah Tiongkok Blog

Kuliah tiongkok blog

KUMPULAN ARTIKEL KULIAHTIONGKOK.COM

"What really turned me over was the ability to understand how everything works without any prior knowledge."
John Doe
Designer

GO TO HOMEPAGE

www.KuliahTiongkok.com

Categories
Play Video

Ingin Kuliah di Tiongkok?

Ingin dapat beasiswa? Atau, bisnis sambil kuliah?

Silakan kunjungi www.KuliahTiongkok.com

Catatan Kongres Diaspora Indonesia

Catatan Kongres Diaspora Indonesia

Gagasan “mengumpulkan” diaspora, yang secara mudah diartikan sebagai “orang-orang Indonesia atau yang memiliki pertalian budaya dengan Indonesia yang tinggal di luar negeri” adalah sebuah kebaikan.

Orang Jawa bilang, “ngumpulke balung pisah” atau “mengumpulkan tulang belulang yang berserakan” supaya tidak “kepaten obor” atau “mengalami kematian obor” yang bermakna terlepas dari jejak leluhur.

Mengumpulkan kaum diaspora, adalah gagasan silaturahim. Bisa jadi mereka yang sedang terpisah secara budaya dan mengalami life-world budaya baru itu sedang mengalami kerinduan akan pertalian “budaya asal” yang sama.

Saya tak hendak berusaha mencurigai apa-apa atau mengkiritik apa-apa, karena sebagaimanapun kekurangan yang ada, aktivitas “ngumpulke balung pisah” adalah baik dan sebuah kebaikan.

Ke depan, aktivitas komunitas diaspora Indonesia ini bisa makin menemukan jati dirinya, dan benar-benar mampu berkontribusi bagi “nenek moyangnya”.

Tahap saat ini adalah tahap permulaan. Sudah baik. Perjalanan 1 li dimulai dari 1 langkah, kata orang bijak zaman dulu di Tiongkok.

Terlepas dari kekurangan yang ada, kiranya patutlah kita berterima kasih kepada Dino Patti Jalal, sang penggagas komunitas diaspora Indonesia.

Berikut, saya hadirkan tulisan menarik tentang diaspora Indonesia, oleh Windu Jusuf, sebagaimana pernah dimuat di Tirto.co.id dengan judul “Salah Kaprah Diaspora”.

Tirto.co.id membuka percakapan dengan sebuah taglineKongres Diaspora Indonesia cenderung menyederhanakan kompleksitas fenomena diaspora”.

Berikut beritanya, sebagaimana asli terbitan Tirto.co.id, tanpa editing.

Sumber Gambar: https://tirto.id/salah-kaprah-diaspora-crRD

Pembicaraan publik seputar Kongres Diaspora Indonesia memunculkan satu pertanyaan: benarkah kata “diaspora” tepat untuk mendeskripksikan jutaan orang Indonesia yang sudah tinggal dan bekerja di luar negeri?

Dalam kajian ilmu sosial, diaspora merupakan lema yang digunakan untuk merujuk kelompok-kelompok etnis atau bangsa yang tinggal jauh dari kampung halaman dan, umumnya, sangat mempertimbangkan sebab-sebab persebaran kelompok tersebut: penindasan politik, persekusi, wabah, dst.

Situs Indonesian Diasporan Network (IDN) menyebutkan bahwa: istilah Diaspora Indonesia sendiri memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah WNI yang tinggal di luar negeri yakni masih memegang paspor Indonesia secara sah. Kelompok kedua adalah warga Indonesia yang telah menjadi warga negara asing karena proses naturalisasi dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia. Sementara bagi warga negara asing yang memiliki orang tua atau leluhur yang berasal dari Indonesia masuk dalam kategori ketiga. Dan kelompok yang terakhir adalah warga negara asing yang tidak memiliki pertalian leluhur dengan Indonesia sama sekali namun memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia.

IDN didirikan pada 2012 oleh Dino Patti Djalal. Dalam sebuah wawancara pada 2013, Dino mengklaim bahwa pembentukan jejaring diaspora Indonesia bermula saat ia menjabat Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat (antara 10 Agustus 2010 – 17 September 2013). Ia mengatakan bertemu banyak sarjana dan pengusaha di antara komunitas Indonesia.

“Saya terkejut oleh kisah-kisah sukses mereka dan fakta bahwa banyak dari mereka saling tidak mengenal. Dari sini muncullah ide untuk menjadikan titik-titik perorangan ini sebuah jejaring global,” ujar Dino yang sempat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri dalam waktu yang cukup singkat (14 Juli 2014 – 20 Oktober 2014).

Kata diaspora diputuskan untuk dipakai untuk, menurut Dino, “[…] menghubungkan bukan saja warganegara Indonesia tapi juga keturunan Indonesia.”

Yang patut digarisbawahi di sini adalah “cerita sukses”. Dino sendiri, pada 2012, pernah menerbitkan buku berjudul Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang, yang berisi pengalaman sejumlah orang Indonesia di luar negeri.

Pertanyaannya adalah: apakah seseorang harus sukses sebelum boleh masuk ke dalam kategori “diaspora”? Tapi lagi-lagi, apa ukuran sukses?

Asal-Usul Diaspora

Sebelum jadi jargon pada era Dino Patti Djalal, bahkan hingga kini di lingkungan akademik, kata “diaspora” jauh dari konotasi yang menyenangkan.

Bahasa Indonesia mengenal lema “perantau” untuk orang-orang yang mencari penghidupan jauh dari kampung halaman; “pengungsi” untuk mereka yang melarikan diri dari konflik atau dipersekusi pemerintah.

Media-media arus-utama menggunakan kata “ekspatriat” untuk menamai orang-orang dari luar negeri (umumnya dari negara maju seperti Amerika utara dan Eropa Barat) yang bekerja di Indonesia. Sedangkan kata “migran” dipakai, biasanya, untuk pekerja-pekerja kasar dari negara-negara Dunia Ketiga. Penggunaan kata “ekspat” belakang sering digugat karena hanya berlaku untuk orang-orang kulit putih. Pekerja rantau atau pekerja tamu, mungkin lebih baik untuk menyebut baik yang biasa disebut “ekspat” maupun “migran”.

Menyoal kesuksesan yang dikatakan Dino, perantau, atau lebih persisnya, perantau sukses, boleh jadi lebih tepat digunakan untuk menggeser penggunaan kata “diaspora” yang, dalam praktiknya, lebih sering digunakan untuk menjelaskan fenomena perpindahan manusia dari karena alasan-alasan yang tidak menyenangkan.

Dalam disertasinya yang dibukukan tentang diaspora Aceh, Separatist Conflict in Indonesia: The long-distance politics of the Acehnese diaspora (2012), peneliti Jerman Antje Missbach menyatakan bahwa sampai tahun 1970an, istilah ini ekslusif hanya digunakan untuk menyebut Diaspora Yahudi, Armenia, Yunani guna menandai persebaran suku-suku bangsa kuno yang telah berlangsung selama berabad-abad.

“Makna konotatif yang diperoleh dari pengalaman mereka negatif, misalnya pengusiran, perlakuan tidak adil, pemiskinan, penganiayaan dan trauma,” tulis Missbach. Diaspora dibedakan dari perantau atau migran dalam artian luas, berdasarkan keinginan kolektif mereka untuk memelihara ikatan kultural dengan tanah air.

Kajian-kajian akademik pada umumnya menyebut “diaspora Yahudi” untuk orang-orang berdarah Yahudi yang tinggal di seluruh dunia guna menghindari persekusi di Eropa hingga Perang Dunia II; atau “diaspora Armenia” untuk orang-orang Armenia beserta keturunannya yang mengungsi akibat pembantaian oleh pasukan Turki Usmani pada Perang Dunia I; “White Russians” untuk simpatisan Tsar pada era Revolusi Bolshevik yang di antaranya mengungsi ke Tiongkok dan Eropa Barat; “diaspora Tiongkok” untuk orang-orang Tionghoa yang kabur dari Revolusi Kebudayaan zaman Mao; “diaspora Iran” untuk orang-orang Iran yang meninggalkan tanah air untuk menghindari penindasan Shah atau kecamuk Revolusi Iran; dan “diaspora orang Kroasia” setelah Perang Balkan.

Namun bukan berarti diaspora Indonesia tidak ada. Dalam definisi akademik di atas, diaspora Indonesia sungguh-sungguh eksis.

Dari wilayah Indonesia sendiri, setidaknya terdapat lima kelompok besar diaspora: diaspora penyintas 1965, yakni orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri dan tak bisa kembali setelah pembantaian 1965-66; diaspora Timor, yaitu orang-orang Timur Leste (di antaranya Ramos Horta dan Mari Alkatiri) yang terpaksa menyingkir dari kampung halaman sejak invasi Orde Baru ke Timor (1975); diaspora Aceh, yang lahir akibat konflik dengan pemerintah pusat pada era Soekarno, Soeharto, hingga Megawati; diaspora orang-orang Maluku pendukung Republik Maluku Selatan di Belanda; serta diaspora Papua yang terdiri dari jejaring aktivis pro-kemerdekaan Papua di luar tanah Papua.

Missbach menyebutkan bahwa ketertarikan atas topik diaspora juga meningkat bukan hanya karena semakin tumbuhnya komunitas-komunitas serupa, tapi juga “karena peran mereka semakin diakui dalam politik global.”

Demikianlah, diaspora orang Rusia pasca revolusi 1917 ikut membantu kemenangan Soviet dan Sekutu atas Blok fasis pada Perang Dunia II; kalangan Yahudi liberal di New York didengar suaranya di forum-forum dunia terkait konflik Israel-Palestina; komunitas Kuba yang tinggal di Florida (salah satunya Marco Rubio, kandidat presiden dari Partai Republik AS), selama bertahun-tahun aktif melobi pemerintah AS untuk mendorong terciptanya kebijakan-kebijakan anti-Castro.

Terkait politik global kelompok-kelompok diaspora dari wilayah Indonesia, tercatat Gerakan Aceh Merdeka memperoleh dukungan finansial yang sangat besar dari sumbangan para tenaga kerja Aceh di Malaysia. Tekanan internasional terhadap Timor Leste bertambah besar dengan aksi-aksi solidaritas di luar negeri yang digalang oleh kalangan diaspora Timor—salah satunya adalah demo di Dresden, Jerman, menyambut lawatan Soeharto pada 1995.

Seiring lengsernya Soeharto, selesainya konflik di Aceh, dan kemerdekaan untuk Timor Leste, sebagian dari anggota diaspora kembali ke kampung halaman. Sebagian lainnya, misalnya sejumlah diaspora 1965, sejenak pulang dengan paspor asing—kewarganegaraan mereka dicabut dan tak pernah dipulihkan.

Kelompok terakhir inilah yang lazim dipanggil sebagai “orang-orang eksil”.

 

Ditulis oleh: Windu Jusuf

Pengantar tulisan di website ini: Wawan Kuswandoro

Gambar ilustrasi utama: dokumen pribadi Nikko Akbar.

Sumber tulisan: https://tirto.id/salah-kaprah-diaspora-crRD

 

  • Terms of Service
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Copyright 2017 KuliahTiongkok.com
Design By: ZonaWeb.Co.Id

Perlu Bantuan? Silakan Chat Kami

Hallo. Selamat Datang di Website KuliahTiongkok.com. Silakan chat Customer Support kami di sini.

Bagian Penjemputan & Perbantuan di Tiongkok

Nikko

Online

Bagian Pendaftaran & Administrasi

Wawan

Online

Nikko

Hallo, saya Nikko. Ada yang bisa saya bantu terkait PENJEMPUTAN & PERBANTUAN DI TIONGKOK? 00.00

Wawan

Hallo, saya Wawan. Ada yang bisa saya bantu terkait PENDAFTARAN & ADMINISTRASI? 00.00