Berwisata di Kota Bersejarah di China

Berwisata di Kota Bersejarah di China

Ini enaknya lagi kalau kuliah di Tiongkok. Bisa jalan-jalan ke kota tua, kota bersejarah di Tiongkok! Kali ini kita berwisata di kota bersejarah di China ya, yakni ke Kota Xi’an, salah satu kota tua dan bersejarah di Tiongkok. Nama “Xi’an” (西安) berarti “kedamaian di sebelah barat”. 

Nama lama Xi’an atau Xi-an, atau Hsi-An, adalah Chang-an. Kota Xi’an adalah ibukota dari provinsi Shaanxi. Kota Xi’an, sebagai salah satu kota tua di Tiongkok, sangat terkenal karena ia adalah ibukota Tiongkok Kuno yang pertama! Yakni pada masa dinasti Qin atau kekaisaran Qin (475 – 221 SM). Dinasti Qin adalah dinasti pertama di Tiongkok, sangat berpengaruh disamping dinasti Tiongkok Kuno lain seperti dinasti Zhou, Han, Sui dan Tang.

kota tua Xiankota tua bersejarah xianSatu hal yang paling fenomenal dari kota Xi’an adalah tentara Terakota (Terracotta Army) pada masa dinasti Qin. Tentara  Terakota ini adalah bentukan Kaisar Qin, untuk menjadi pasukan andalannya. Saking diandalkannya oleh sang Kaisar, pasukan ini disamping untuk bertempur, juga dimaksudkan untuk menemani Sang Kaisar  hingga ke akhirat. Nah, inilah mungkin satu-satunya pasukan berani mati yang sesungguhnya.. 😀

Kini, pasukan tentara Terakota peninggalan dinasti Qin ini dapat kita saksikan di museum kota Xi’an. Museum ini berukuran raksasa. Ia menampung lebih dari 8.000 patung tentara Terakota dalam ukuran sama dengan ukuran sesungguhnya. Patung-patung pasukan dibuat berjajar dalam posisi seolah-olah sedang siap bertempur. Bersama dengan patung-patung manusia (tentara) ini juga terdapat ribuan patung kuda yang juga dibuat dalam ukuran sesungguhnya!

tentara terakota dinasti qin di chinaMuseum ini juga menyimpan lebih dari 1.000 senjata dari perunggu! Hal yang menarik dari formasi tentara Terakota ini adalah bahwa “pasukan” yang berjumlah ribuan ini memiliki wajah yang berbeda satu sama lain, dan menghadap ke arah timur, yakni arah tempat musuh Kaisar Qin berada!

Foto-foto ini adalah foto pasukan tentara Terakota beserta kuda dan persenjataan mereka. Foto adalah koleksi kami, KuliahTiongkok.com, dijepret oleh Nikko Akbar, tim kami di Chongqing.

Sedangkan patung miniatur tentara Terakota dari Dinasti Qin, adalah oleh-oleh khas China Kuno.

Dapat dipesan melalui website ini, klik gambar.

 

kota bersejarah xian di china
pasukan terakota pada masa dinasti pertama china
kaisar qin dinasti tiongkok kuno pertama
kota bersejarah di china
sejarah china kuno
peninggalan dinasti qin china
benda bersejarah china kuno dinasti pertama china
Miniatur Tentara Terakota Dinasti Qin (475 - 221 SM)
benda bersejarah dari dinasti pertama china kuno
Box Miniatur Tentara Terakota Dinasti Pertama Tiongkok Kuno, Dinasti Qin
Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 3

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 3

Kita lanjutkan kisah dua bersaudara Nikko dan Nikko berpetualang di Tiongkok ya… Pada bagian ini, masih sekitar Nikko Akbar, sang kakak. Nanti di bagian 4, kisah beralih ke Nikko Reza, sang adik, yang tak kalah hebohnya!

Pada bagian 2, Nikko mengingatkan adik-adik angkatannya, para generasi X milenial untuk melatih sikap mental tangguh, disamping kreatif.

mitra kerja kuliah tiongkokMenurut Niko, jaman ini membutuhkan pribadi tangguh dan kreatif. Di Indonesia tanah air beta sendiri, anak-anak Indonesia harus bersaing tak hanya dengan sesama “anak Indonesia” dalam memperebutkan pekerjaan dan kesempatan berkarir, ataupun berusaha, tetapi juga harus bersaing dengan anak-anak atau orang-orang dari luar Indonesia!

Nikko juga mengingatkan agar memperhatikan trend dan perkembangan situasi global disamping situasi nasional di Indonesia. Mau gak mau, corak berkarir dan berusaha (berbisnis) di masa kini dan mendatang tak lepas dari pengaruh dan situasi global perkenonomian global, bahkan politik global! Artinya apa? Tantangan ke depan dalam hal mencari pekerjaan, tepatnya ‘merancang pekerjaan’, juga berbeda. Apapun itu, hal yang mutlak harus dimiliki adalah: ketangguhan, kreativitas dan relasi / jejaring (networking)!  Dan ia merasakan, bahwa dengan kuliah dan hidup di Tiongkok, ia mendapatkan ketiganya sekaligus! Plus ilmu yang didapatnya di kampus dan di luar kampus yakni dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, Nikko Reza sang adik., juga merasakan secara “lebih riil” saat kuliah di Guangzhou. Nanti di bagian 4 kisah Nikko Reza ini yang lebih tertarik di dunia bisnis.

Karena pertimbangan kondisi global inilah Nikko Akbar mempersiapkan dan membentuk kualifikasi diri di tanah Tiongkok. Ia memanfaatkan benar saat berada dan hidup di Tiongkok dengan segala fasilitas kampus, “fasilitas kota”, “fasilitas budaya” yang ia pelajari dan praktikkan secara langsung! Ia belajar berdisiplin, manajemen waktu, belajar keuletan dan kreatif seperti orang Tiongkok, dsb. Karenanya Nikko senantiasa aktif mengikuti kegiatan di luar perkuliahan, yang mana kegiatan ini juga dilakukan di dalam area kampus. Juga di kampus tetangga, juga di luar kampus. Capek? Naaa… kok  fokus ke capeknya. Salfok tu… Fokuslah ke “kenikmatan berkegiatan” karena “ada manfaat besar di situ”. Apa? Itu tadi: membentuk ketangguhan diri! Juga networking!

Nikko mem-briefing mahasiswa baru
Pemberian materi kepada mahasiswa baru
Kegiatan sosial di Jakarta

Berikut ini adalah sebagian dari kegiatan akademik Nikko di kampusnya.

kuliah tiongkok seminar
kuliah di tiongkok
kuliah di tiongkok

Ini jalan-jalan…

biaya hidup di tiongkok
pengalaman pertamaku di tiongkok

Ini jalan-jalan bareng Dubes RI untuk Tiongkok, Bapak Jauhari Oratmangun. 

belajar bahasa mandarin

Kegiatan Nikko di klub Diaspora Indonesia di Tiongkok. Ini kegiatan tahun 2018. Tentang diaspora, bisa dibaca di sini ya..

Nikko bersama para mahasiswa Indonesia di Tiongkok juga berpartisipasi aktif dalam upaya memberikan masukan kepada pemerintah RI lho… Konferensi Merancang Visi Indonesia 2045 !

kuliah di tiongkok
Nikko: paling kanan, duduk (baju hitam)
indonesia masa depan
Nikko: 6 dari kanan, baju batik
Nikko: paling kanan, duduk.(baju batik)

Nah… anak Indonesia, pelajar Indonesia, mahasiswa Indonesia, generasi milenial, telah mampu berbuat banyak untuk dirinya dan bangsa dan negaranya. 

Bersambung……

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 4 >>

 

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 2

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 2

Pada bagian 1, kisah dua bersaudara yang berbagi pengalaman kuliah dan hidup mandiri di Tiongkok ini membagikan jurus pertamanya untuk sukses, yakni “keluar dari zona nyaman!”. Ya, harus berani membuat keputusan untuk keluar dari zona nyaman! Sebuah keputusan yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Baik oleh dirinya sendiri, maupun keluarganya. Tetapi, sebuah keputusan harus dibuat. Dan harus dilaksanakan! Akhirnya, berangkatlah dia ke negeri Panda.

Kenikmatan belajar dan berada di negeri yang terkenal dengan etos kerja dan semangat belajar tinggi membuat Nikko menikmati hari-harinya. Belajar dari arti luas, dia dapatkan di sana. Bahkan, pelajaran paling berharga, sementara ini, yang ia dapatkan adalah ‘belajar lebih berdisiplin dan berpikir efektif’

“Ketularan orang China (Tiongkok)”, selorohnya pada suatu ketika.

Kegiatan sehari-harinya adalah belajar, ke perpustakaan, jalan-jalan, berorganisasi dengan sesama mahasiswa asal Indonesia, kegiatan sosial, keagamaan, jalan-jalan lagi… 

 

kuliah di tiongkok pertunjukan budaya
Nikko berbusana khas Madura...
kuliah di tiongkok
menang dalam kompetisi akademik
Nikko berbusana lurik-lurik khas Jawa

Tekadnya, selama berada di negerinya orang-orang pekerja keras ini, harus mendapatkan ilmu yang lengkap… bagi Nikko, ilmu yang lengkap adalah pembentukan pribadi yang kuat, tangguh, kreatif dan mandiri. Ilmu itu adalah yang telah merasuk ke dalam diri, telah menjelma menjadi cara berpikir, cara bekerja dan cara hidup

Sebuah contoh sederhana: “hanya” untuk bisa shalat Jumat, ia harus naik MRT selama 1 jam untuk mencapai masjid besar di pusat kota. Untuk ikut shalat Idul Fitri atau Idul Adha, ia harus naik MRT juga, malah harus menginap dulu di hotel dekat masjid agar tak ketinggalan shalat Id. Nah.. latihan tangguh kan?

Lagi: puasa orang muslim di Indonesia berapa jam? Sekedar info, seorang muslim yang berada di Tiongkok puasanya selama 16 jam sehari, karena waktu berbuka puasa adalah jam 20.00 waktu Tiongkok! Nah, gemblengan mana yang lebih mampu membuat seseorang menjadi tangguh? Hoho…

Maka, gemblengan di dalam kampus maupun di luar kampus ketika kuliah di Tiongkok, ia padukan untuk membentuk diri pribadi yang cerdas dan tangguh serta kreatif dan juga mandiri. Memasuki tahun ke-4 kuliah di Tiongkok, Nikko menerima beasiswa penuh (full scholarship) dari pemerintah Tiongkok! Sebelumnya, saat  diterima masuk di kedokteran CQMU, ia menerima partial scholarship yakni beasiswa sebagian, free-SPP. Tepatnya, beasiswa dengan sistem reimburse yakni uang SPP dibayarkan  terlebih dahulu selama 1 tahun, kemudian dikembalikan full pada tahun depannya, masuk ke rekening Nikko. Dengan diterimanya beasiswa penuh, maka semakin lengkaplah kebahagiaan Nikko. Juga orangtuanya.. hehe… 😀

 

Merasakan banyak manfaat dengan menempuh kuliah di Tiongkok, Nikko Akbar pun berniat mengajak adiknya, Nikko Reza yang sedang berkuliah di KDU, Selangor, Malaysia, untuk kuliah di Tiongkok saja. Nikko Akbar juga  berbagi pengalaman dengan para juniornya di kota kelahirannya, juga di kota-kota sekitar tentang kuliah di Tiongkok. Yang lebih penting adalah membentuk pribadi tangguh, kreatif dan mandiri. yakni dengan: keluar dari zona nyaman!

Keluar dari zona nyaman, adalah kata kunci untuk mengajari diri sendiri agar lebih ketat dan efisien dalam berpikir dan bertindak, tidak terbuai oleh kenyamanan.

Pengalaman mengubah diri (personal changing) dengan cara “radikal” ini ditularkannya kepada adik-adik angkatannya.

“Anak Indonesia, jangan sampai kalah tangguh dengan anak-anak luar. Saat ini dan saat mendatang, tantangan kita adalah bersaing dengan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri. Bersaingnya di negeri sendiri! Akankah kita merengek-rengek untuk diprioritaskan? Tidak! Pasar kerja membutuhkan tenaga ahli tangguh, bukan hasil rengekan!” Demikian antara lain Nikko mewanti-wanti adik-adiknya.

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 1

Dua Bersaudara Berbagi Pengalaman Kuliah dan Hidup Mandiri di Tiongkok – 1

Hidup mandiri dan bebas berkreasi telah menjadi tekad dua bersaudara ini. Nikkolai Ali Akbar dan Nikkolai Ali Reza, demikian nama mereka, adalah anak-anak Indonesia yang kini tengah kuliah di Tiongkok. Nikkolai Ali Akbar, sang kakak, berada di kota Chongqing, kuliah di jurusan kedokteran di Chongqing Medical University, tahun ke-4. Sedangkan Nikkolai Ali Reza, sang adik, menekuni bidang IT dengan berkuliah di Sun Yat Sen University, Guangzhou, jurusan Software Engineering, pada tahun ke-2. Sebelumnya (2015-2016), ia berkuliah di School of Computers and Multimedia, KDU University, Selangor, Malaysia jurusan Games Development.

Ketekadan, mungkin juga kenekadan, kedua pemuda kakak-beradik yang terpaut usia 1 tahun ini patut diacungi jempol dan patut ditiru. Selepas SMA di SMAN 1 Probolinggo yang ditempuhnya selama 2 tahun, Nikkolai Ali Akbar belajar bahasa Mandarin di kursus bahasa Mandarin yang diselenggarakan oleh kelenteng Eng An Kiong Malang selama 7 bulan, sambil menunggu respons dari 3 universitas di China yang dikontaknya (2013 – 2014). Lama tak kunjung ada respons, tak menyurutkan niat Nikko untuk tetap belajar bahasa Mandarin.

Dia berpikir, jika tak dapat respons kampus yang ia kontak, tak akan ada ruginya belajar bahasa Mandarin. Ia juga telah merancang rencana lain untuk bisa menikmati hidup di tempat yang jauh, agar ia belajar tangguh dan mandiri. Baginya, belajar akademis tak terlalu dipusingkannya. Maklum, secara akademik, ia telah terlalu kenyang prestasi. Ia ingin memacu belajar di arena yang lain: membangun ketangguhan diri di negeri orang! Ia ingin jauh dari orangtuanya, untuk bisa lebih bebas berkreasi dan membangun jaringan seluas-luasnya. 

Keluar dari zona nyaman! Demikian doktrin pribadi yang entah ia dapat dari mana, begitu melekat. Ia berkeyakinan, jika keluar dari zona nyaman, ia akan sukses! Maka, ia pilih luar negeri, yang relatif lebih tak terjangkau zona nyaman-nya! Termasuk jauh dari orangtua? Ya, tentu saja. Tidak berat? Berat, tentu saja. Tetapi, demi cita-cita, dia dan juga orantuanya, siap “mengorbankan” kesenangan sesaat, kesenangan dan kenyamanan sesaat. Induk burung pun akan “mengusir” anak-anaknya jika mereka telah siap terbang!

kuliah di chinaDan ia memilih negeri China! China, atau Tiongkok untuk kuliah. Tiongkok menjadi pilihannya karena ia berpikir ilmu kedokteran Tiongkok sangat maju. Ia terinspirasi kisah Dahlan Iskan yang tertolong lantaran ilmu kedokteran Tiongkok dengan operasi ganti hati yang sempat fenomenal di Indonesia pada sekitar tahun 2012 – 2013.

Di tengah kegalauan menunggu respons universitas yang tak jelas, beruntung, ada teman yang menyarankan untuk minta bantuan konsultan pendidikan China untuk membantu proses pendaftarannya. Maka, dalam waktu yang tak terlalu lama, proses pendaftaran selesai dan menunggu pengumuman.

pengumuman diterima kuliah di tiongkokBeberapa bulan kemudian diterimalah pengumuman pendaftaran di jurusan kedokteran di Chongqing Medical University (CQMU). Nikko diterima kuliah di CQMU! Betapa bahagianya. Kebahagiannya berlipat-lipat tatkala ada pengumuman susulan bahwa ia mendapatkan beasiswa. Ya, meskipun partial scholarship (beasiswa sebagian), itu sudah sangat membantu. Bayangin, bebas SPP kuliah kedokteran di universitas kedokteran negeri di Tiongkok!

Maka, sambil menunggu pengumuman keberangkatan ke Tiongkok, Nikko makin bersemangat belajar bahasa Mandarin, walaupun kelas yang bakal ia masuki menggunakan pengantar bahasa Inggris. Sekira keberangkatan ke Tiongkok kurang 2 bulan, ia menghentikan kursus bahasa Mandarin di Malang dengan melanjutkan kursus intensif di Probolinggo sambil membuat persiapan-persiapan. Hoki juga menghampiri Nikko. Di Probolinggo, ia bertemu dengan seorang laoshi (guru) bahasa Mandarin yang bersedia membimbingnya belajar bahasa Mandarin secara intensif. Beliau adalah laoshi Agus. Dan Agus laoshi ini  memberikan bimbingan privat dan tidak mau dibayar! Melihat kemampuan dasar Nikko yang dianggapnya cukup untuk menerima pelajaran intensif, Agus laoshi memberikan waktunya 2 kali seminggu bagi Nikko. Kira-kira 1 bulan lebih beberapa hari Nikko menerima gemblengan dari suhu Agus sebelum berangkat ke Tiongkok. Agus laoshi juga memberi Nikko kamus bahasa Mandarin – Indonesia. Nah, sudah gratis, dapat kamus tebal pula… Rejeki anak sholeh yang berkemauan keras!

Singkat cerita, maka berangkatlah Nikko ke Tiongkok! Tanpa diantar orangtua. Mengapa? Ya, sesuai dengan tekad awal: ‘keluar dari zona nyaman. Termasuk dari zona nyaman bersama orangtua. Kenapa pakai diantar? Lagipula, biaya pengantaran yang meliputi tiket pesawat PP Surabaya – Chongqing untuk 2 orang pengantar, biaya hotel, biaya makan minum selama di Tiongkok, dsb, jika dihitung, mending buat sangu anaknya.. haha… 😀

Nikko pun akhirnya bertemu dengan anak-anak Indonesia yang sama-sama akan kuliah di Tiongkok. Jadilah mereka kawanan pelajar Indonesia yang siap merantau! Setelah melewatkan malam saat transit di Guangzhou, maka sampailah di kota tujuan: Chongqing. Sebuah kota pelajar di provinsi Sezhuan, Tiongkok agak ke utara dan agak ke barat.

Nikko menulis pengalamannya ini di tahun 2015 di blognya, https://nikkoakbar.blogspot.com; telah dikutip oleh KuliahTiongkok.com di tahun 2017:

Pengalaman Pertamaku di Tiongkok

Ternyata, dia berbahagia di tanah rantau! Karena ia menemukan fasilitas belajar yang luar biasa di kampusnya! Lingkungan belajar yang kondusif bagi minat belajarnya. Tak hanya secara akademis, tetapi juga non akademis. Juga belajar dari kebiasaan  anak-anak Tiongkok yang rata-rata suka belajar! Pantas, negara Tiongkok maju pesat! Orang-orangnya suka belajar dan bekerja keras!

Ini pengalaman pertama mengikuti ujian kuliah di Tiongkok.

Ujian Pertamaku

Dan ini Ujian Berikutnya..

Jangan dikira kuliah di Tiongkok isinya cuma belajar dan belajar yaa… Jalan-jalan, menikmati pemandangan juga lho…. hehe.. 😀

Ini Salju Pertama Yang Kulihat, Kurasakan dan Kunikmati! Pengen yaa… hahaha….. 😀

Eh… Nikko dan teman-teman Indonesia-nya, juga balap karung lhoh… dan aneka aktivitas budaya Indonesia yang dipamerin di sana….

Balap Karung di Tiongkok !

Nikko juga unjuk kebolehan memainkan jurus-jurus beladirinya selama dipelajarinya di tanah air. Dia berkesempatan main di arena International Culture Exhibition di Tiongkok.

 

gelar budaya Indonesia di Tiongkok
International Culture Exhibition in Tiongkok
belajar bahasa mandarin
Hiii.... dapet cewek tu anak... Dua lagi! haha..
kungfu wushu
Merantau! Nikko siap gantiin Iko Uwais haha...

kuliah tiongkok seminarSelama kuliah di Chongqing Medical University, Nikko disamping aktif di kegiatan-kegiatan akademik selain perkuliahan kelas, ia juga aktif di kegiatan-kegiatan non-akademik. Hobi lama semasa SMA makin subur di kampus Tiongkok. Ia aktif ikut seminar dan kompetisi akedemik, even kebudayaan, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Tiongkok hingga klub-klub hobi seperti olahraga, musik dan akupunktur. Klub-klub sosial dan keagamaan juga tak luput dari warna-warni aktivitas hariannya di Tiongkok, seperti donor darah, pengajian keagamaan setiap akhir pekan hingga Idul Fitri dan Idul Adha. Ya, pernah juga Nikko pulang kampung seusai Idul Fitri, karena libur kampus (libur musim panas) tidak tepat dengan hari H Idul Fitri. Jadi bisa berkesempatan merasakan ber-Idul Fitri di negeri Panda. 

Di sela-sela hari-hari kuliahnya, Nikko dan teman-temannya juga berekreasi ke tempat-tempat wisata di sekitar kotanya. Di areal kampuspun merupakan tempat wisata yang indah. Namun, kurang afdhol jika tak ke tempat-tempat wisata. Mulai dari keliling kota, taman kota, naik MRT sepanjang kota hanya Rp. 14.000,-. Juga ke kota budaya Xi’an. Yang belum sempat, adalah menelusuri situs bersejarah terkait dengan jejak peninggaan Islam di Tiongkok, antara lain Lakshmana Zheng He (Cheng Ho), masjid kuno berkiblat ganda (arah Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa), dan beberapa situs terkait tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Tiongkok yang merupakan asal muasal para aulia penyebar Islam di Nusantara.

Taman Kampus Chongqing Medical University
pengalaman pertamaku di tiongkok
Kota Tua (Kota Lama)
belajar bahasa mandarin untuk kuliah di tiongkok
Jalan-jalan di Bishan

Pengalaman dan pembelajaran terbaik selama hidup dan kuliah di Tiongkok menurut Nikko adalah pembelajaran budaya belajar dan etos kerja masyarakat Tiongkok yang ulet dan tak kenal menyerah. Mahasiswa Tiongkok (anak-anak asli Tiongkok) terkenal gigih dalam belajar dan hobi baca ndak ketulungan.. 🙂

Hampir tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Bahkan sambil jogging dan olah raga lompat tali pun mereka baca buku! Jadi habis lompat-lompat stop sebentar, nengokin buku, baca. Jogging juga demikian. Habis lari, jika lelah, istirahat, duduk, sambil baca buku. Barang bawaan harian juga pasti ada bukunya! Nah loo… hehe… 🙂

 

 

Pengalaman Peserta KuliahTiongkok.com Mendapat Beasiswa Penuh

Pengalaman Peserta KuliahTiongkok.com Mendapat Beasiswa Penuh

Pengalaman Nikkolai Ulyanov, peserta KuliahTiongkok.com kuliah di Tiongkok dan berhasil mendapat beasiswa penuh (full scholarship), menarik untuk dibaca. Berawal dari kegalauannya setelah berkuliah Game Development di KDU, Selangor, Malaysia, ia ingin kuliah di Tiongkok. Guangzhou yang menjadi incarannya. Kenapa? Ia ingin mengembangkan bisnis yang selalu diimpikannya. Selama di Malaysia, ia senantiasa bersinggungan dengan komunitas akademik dan industri yang sangat “berbau” Tiongkok. Bahasa Mandarin paling banyak digunakan di dunia bisnis yang ia saksikan di Malaysia, walaupun di dunia akademik tetap menggunakan bahasa Inggris.

Impiannya ingin bisa kuliah di Guangzhou, tercapailah. Uniknya, ia memulai kuliah di Tiongkok (Guangzhou) berangkat dengan modal bahasa Mandarin nol, alias tidak bisa sama sekali.

Kampus pilihannya, yang menerimanya, dan sekaligus memberinya beasiswa penuh, yakni Sun Yat Sen University, memberinya kesempatan mengikuti kelas pelajaran bahasa Mandarin selama 1 tahun di Sun Yat Sen University kampus Zhuhai. Alhasil, Nikkolai berhasil menyabet nilai HSK 5 pada ujian akhir tahun untuk bahasa Mandarin. Kemudian ia melanjutkan kuliah jurusannya, yakni Software Engineering di Sun Yat Sen University kampus Guangzhou.

Berikut penuturan Nikolai Ulyanov:

“Saya Nikkolai Ulyanov, mahasiswa Sun Yat Sen University (SYSU) jurusan Software Engineering dengan beasiswa penuh dengan dibantu oleh KuliahTiongkok.com. Saya masuk SYSU pada September 2018. Pada saat mendaftar, saya tidak bisa bahasa Mandarin. Saya mengikuti pelajaran bahasa Mandarin di kampus SYSU Zhuhai selama satu tahun. Alhamdulillah saya lulus HSK 5 dan saat ini saya sudah pindah ke kampus SYSU Guangzhou untuk perkuliahan saya.

Oh ya sebelum ini saya adalah mahasiswa School of Computer & Multimedia jurusan Game Development di KDU Selangor, Malaysia. Saya memilih pindah ke SYSU karena kampus Tiongkok lebih mendukung rancangan keahlian saya. Di samping itu, Guangzhou adalah kota bisnis yang merupakan daya tarik tersendiri bagi saya. Saya ingin mengembangkan bisnis yang ditopang kemampuan IT. Lagian… saya di sini kan dapat beasiswa penuh”. “Saya berterima kasih kepada KuliahTiongkok.com. Maju teruuss… Bantu anak-anak Indonesia!”

Selama di Zhuhai, Nikkolai kadang pergi jalan-jalan ke Macau bersama teman-temannya. Zhuhai – Macau ditempuhnya selama 1 jam dengan bus dengan ongkos Rp. 8.000,- pergi-pulang.

kuliah di tiongkok mainnya ke macau dan hongkong
Nikkolai Ultanov menatap masa depan.. eh, menatap hamparan laut yang memisahkan daratan Zhuhai dengan Macau.. Hayuk kuliah di Tiongkok… tapi mainnya ke Macau dan Hongkong. Murah lagi! Hehe….
Indonesian Connect 2019

Indonesian Connect 2019

   

Indonesian Connect, sebuah program yang digagas Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT), untuk menghubungkan para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Tiongkok. 

Indonesian Connect dibentuk karena trend semakin meningkatnya animo anak-anak Indonesia untuk kuliah di Tiongkok dari tahun ke tahun. Kondisi ini yang  membutuhkan ketersediaan informasi tentang kuliah di Tiongkok, informasi beasiswa di Tiongkok, serta informasi hidup di Tiongkok secara valid. 

“Kesulitan memperoleh informasi valid tentang kuliah di Tiongkok, maka acara ini diharapkan dapat memberi informasi seputar kehidupan di Tiongkok”. Demikian yang dikatakan Ketua Panitia Indonesian Connect 2019, Nikkolai Ali Akbar atau yang sering dipanggil “Nikko Akbar”.

Nikko Akbar, yang juga mahasiswa Chongqing Medical University tahun ke-4, adalah Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok pada kepengurusan pusat, dan Ketua Satgas Penipuan Agen dan Kerja Paksa PPI Kawasan Asia dan Oceania pada kepengurusan PPI Dunia.

Aktivitas di luar akademik formal ini menurutnya, sebagai wujud kepeduliannya kepada pendidikan bagi generasi milenial.

“Setidaknya, ada hal kecil yang bisa saya perbuat untuk rekan-rekan seangkatan saya dan angkatan setelah saya dalam hal penyediaan informasi kuliah di Tiongkok, kehidupan di Tiongkok dan berkreasi di Tiongkok”, ujar Nikko kepada KuliahTiongkok.com.

Pendaftaran Online Kuliah di China

Pendaftaran Online Kuliah di China

Play Video

Pendaftaran Online Kuliah di China

Silakan kunjungi www.KuliahTiongkok.com

Mengapa Kuliah di China?

China atau Tiongkok, adalah negara maju yang memiliki banyak universitas berkualitas serta memiliki kekuatan ekonomi yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia! Negara ini memiliki rekam jejak peradaban yang tangguh sejak zaman Tiongkok kuno hingga modern. Etos kerja manusia Tiongkok yang ulet, disiplin, kuat dan pantang menyerah sangat patut dicontoh. Maka, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina! Kini, terbukti lulusan universitas Tiongkok lebih mudah dan cepat mendapatkan pekerjaan!

Silakan Klik Gambar Untuk Kunjungi Website Kami

our Supporting team

Nikko Akbar

Mahasiswa Chongqing Medical University

Pengurus Pusat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok dan Pengurus PPI Dunia

Nikkolai Ulyanov

Mahasiswa Sun Yat Sen University

Pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Ranting Sun Yat Sen University, Guangzhou

Wawan Kuswandoro

Dosen Universitas Brawijaya

Founder MiracleWays®, Konsultan Pendidikan & Personal Development

Practice makes perfect

We know about your hectic schedule. We also know the only way you truly understand a subject is by practicing it in a real environment. This is why we’ve set a playground area that’s full of hours of exercises, questions and challenges. It even has a gaming section. 

The best campus facilities

In addition to our online classroom, we also offer an option to take part in a live classroom. It takes place in our vast campus throughout China. Here you’ll be able to use the most up-to-date facilities.

KuliahTiongkok.com Articles

Categories

Learn from the very best

Join our experience and start building the most wanted study and career’s supporting campus available today. We make sure every class is easily understood, and that all students reach the same level of expertise needed for today’s industry.

You may choose English or Mandarin class.

Working hours

Monday- Thursday:8:00-18:30 Hrs
(Phone until 17:30 Hrs)
Friday - 8:00-14:00

We are here

Perumahan Kopian Barat B7, Probolinggo 67222, Jawa Timur

Kuliah Tiongkok Blog

Kuliah Tiongkok Blog

Kuliah tiongkok blog

KUMPULAN ARTIKEL KULIAHTIONGKOK.COM

"What really turned me over was the ability to understand how everything works without any prior knowledge."
John Doe
Designer

GO TO HOMEPAGE

www.KuliahTiongkok.com

Categories
Play Video

Ingin Kuliah di Tiongkok?

Ingin dapat beasiswa? Atau, bisnis sambil kuliah?

Silakan kunjungi www.KuliahTiongkok.com

Catatan Kongres Diaspora Indonesia

Catatan Kongres Diaspora Indonesia

Gagasan “mengumpulkan” diaspora, yang secara mudah diartikan sebagai “orang-orang Indonesia atau yang memiliki pertalian budaya dengan Indonesia yang tinggal di luar negeri” adalah sebuah kebaikan.

Orang Jawa bilang, “ngumpulke balung pisah” atau “mengumpulkan tulang belulang yang berserakan” supaya tidak “kepaten obor” atau “mengalami kematian obor” yang bermakna terlepas dari jejak leluhur.

Mengumpulkan kaum diaspora, adalah gagasan silaturahim. Bisa jadi mereka yang sedang terpisah secara budaya dan mengalami life-world budaya baru itu sedang mengalami kerinduan akan pertalian “budaya asal” yang sama.

Saya tak hendak berusaha mencurigai apa-apa atau mengkiritik apa-apa, karena sebagaimanapun kekurangan yang ada, aktivitas “ngumpulke balung pisah” adalah baik dan sebuah kebaikan.

Ke depan, aktivitas komunitas diaspora Indonesia ini bisa makin menemukan jati dirinya, dan benar-benar mampu berkontribusi bagi “nenek moyangnya”.

Tahap saat ini adalah tahap permulaan. Sudah baik. Perjalanan 1 li dimulai dari 1 langkah, kata orang bijak zaman dulu di Tiongkok.

Terlepas dari kekurangan yang ada, kiranya patutlah kita berterima kasih kepada Dino Patti Jalal, sang penggagas komunitas diaspora Indonesia.

Berikut, saya hadirkan tulisan menarik tentang diaspora Indonesia, oleh Windu Jusuf, sebagaimana pernah dimuat di Tirto.co.id dengan judul “Salah Kaprah Diaspora”.

Tirto.co.id membuka percakapan dengan sebuah taglineKongres Diaspora Indonesia cenderung menyederhanakan kompleksitas fenomena diaspora”.

Berikut beritanya, sebagaimana asli terbitan Tirto.co.id, tanpa editing.

Sumber Gambar: https://tirto.id/salah-kaprah-diaspora-crRD

Pembicaraan publik seputar Kongres Diaspora Indonesia memunculkan satu pertanyaan: benarkah kata “diaspora” tepat untuk mendeskripksikan jutaan orang Indonesia yang sudah tinggal dan bekerja di luar negeri?

Dalam kajian ilmu sosial, diaspora merupakan lema yang digunakan untuk merujuk kelompok-kelompok etnis atau bangsa yang tinggal jauh dari kampung halaman dan, umumnya, sangat mempertimbangkan sebab-sebab persebaran kelompok tersebut: penindasan politik, persekusi, wabah, dst.

Situs Indonesian Diasporan Network (IDN) menyebutkan bahwa: istilah Diaspora Indonesia sendiri memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah WNI yang tinggal di luar negeri yakni masih memegang paspor Indonesia secara sah. Kelompok kedua adalah warga Indonesia yang telah menjadi warga negara asing karena proses naturalisasi dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia. Sementara bagi warga negara asing yang memiliki orang tua atau leluhur yang berasal dari Indonesia masuk dalam kategori ketiga. Dan kelompok yang terakhir adalah warga negara asing yang tidak memiliki pertalian leluhur dengan Indonesia sama sekali namun memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia.

IDN didirikan pada 2012 oleh Dino Patti Djalal. Dalam sebuah wawancara pada 2013, Dino mengklaim bahwa pembentukan jejaring diaspora Indonesia bermula saat ia menjabat Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat (antara 10 Agustus 2010 – 17 September 2013). Ia mengatakan bertemu banyak sarjana dan pengusaha di antara komunitas Indonesia.

“Saya terkejut oleh kisah-kisah sukses mereka dan fakta bahwa banyak dari mereka saling tidak mengenal. Dari sini muncullah ide untuk menjadikan titik-titik perorangan ini sebuah jejaring global,” ujar Dino yang sempat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri dalam waktu yang cukup singkat (14 Juli 2014 – 20 Oktober 2014).

Kata diaspora diputuskan untuk dipakai untuk, menurut Dino, “[…] menghubungkan bukan saja warganegara Indonesia tapi juga keturunan Indonesia.”

Yang patut digarisbawahi di sini adalah “cerita sukses”. Dino sendiri, pada 2012, pernah menerbitkan buku berjudul Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang, yang berisi pengalaman sejumlah orang Indonesia di luar negeri.

Pertanyaannya adalah: apakah seseorang harus sukses sebelum boleh masuk ke dalam kategori “diaspora”? Tapi lagi-lagi, apa ukuran sukses?

Asal-Usul Diaspora

Sebelum jadi jargon pada era Dino Patti Djalal, bahkan hingga kini di lingkungan akademik, kata “diaspora” jauh dari konotasi yang menyenangkan.

Bahasa Indonesia mengenal lema “perantau” untuk orang-orang yang mencari penghidupan jauh dari kampung halaman; “pengungsi” untuk mereka yang melarikan diri dari konflik atau dipersekusi pemerintah.

Media-media arus-utama menggunakan kata “ekspatriat” untuk menamai orang-orang dari luar negeri (umumnya dari negara maju seperti Amerika utara dan Eropa Barat) yang bekerja di Indonesia. Sedangkan kata “migran” dipakai, biasanya, untuk pekerja-pekerja kasar dari negara-negara Dunia Ketiga. Penggunaan kata “ekspat” belakang sering digugat karena hanya berlaku untuk orang-orang kulit putih. Pekerja rantau atau pekerja tamu, mungkin lebih baik untuk menyebut baik yang biasa disebut “ekspat” maupun “migran”.

Menyoal kesuksesan yang dikatakan Dino, perantau, atau lebih persisnya, perantau sukses, boleh jadi lebih tepat digunakan untuk menggeser penggunaan kata “diaspora” yang, dalam praktiknya, lebih sering digunakan untuk menjelaskan fenomena perpindahan manusia dari karena alasan-alasan yang tidak menyenangkan.

Dalam disertasinya yang dibukukan tentang diaspora Aceh, Separatist Conflict in Indonesia: The long-distance politics of the Acehnese diaspora (2012), peneliti Jerman Antje Missbach menyatakan bahwa sampai tahun 1970an, istilah ini ekslusif hanya digunakan untuk menyebut Diaspora Yahudi, Armenia, Yunani guna menandai persebaran suku-suku bangsa kuno yang telah berlangsung selama berabad-abad.

“Makna konotatif yang diperoleh dari pengalaman mereka negatif, misalnya pengusiran, perlakuan tidak adil, pemiskinan, penganiayaan dan trauma,” tulis Missbach. Diaspora dibedakan dari perantau atau migran dalam artian luas, berdasarkan keinginan kolektif mereka untuk memelihara ikatan kultural dengan tanah air.

Kajian-kajian akademik pada umumnya menyebut “diaspora Yahudi” untuk orang-orang berdarah Yahudi yang tinggal di seluruh dunia guna menghindari persekusi di Eropa hingga Perang Dunia II; atau “diaspora Armenia” untuk orang-orang Armenia beserta keturunannya yang mengungsi akibat pembantaian oleh pasukan Turki Usmani pada Perang Dunia I; “White Russians” untuk simpatisan Tsar pada era Revolusi Bolshevik yang di antaranya mengungsi ke Tiongkok dan Eropa Barat; “diaspora Tiongkok” untuk orang-orang Tionghoa yang kabur dari Revolusi Kebudayaan zaman Mao; “diaspora Iran” untuk orang-orang Iran yang meninggalkan tanah air untuk menghindari penindasan Shah atau kecamuk Revolusi Iran; dan “diaspora orang Kroasia” setelah Perang Balkan.

Namun bukan berarti diaspora Indonesia tidak ada. Dalam definisi akademik di atas, diaspora Indonesia sungguh-sungguh eksis.

Dari wilayah Indonesia sendiri, setidaknya terdapat lima kelompok besar diaspora: diaspora penyintas 1965, yakni orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri dan tak bisa kembali setelah pembantaian 1965-66; diaspora Timor, yaitu orang-orang Timur Leste (di antaranya Ramos Horta dan Mari Alkatiri) yang terpaksa menyingkir dari kampung halaman sejak invasi Orde Baru ke Timor (1975); diaspora Aceh, yang lahir akibat konflik dengan pemerintah pusat pada era Soekarno, Soeharto, hingga Megawati; diaspora orang-orang Maluku pendukung Republik Maluku Selatan di Belanda; serta diaspora Papua yang terdiri dari jejaring aktivis pro-kemerdekaan Papua di luar tanah Papua.

Missbach menyebutkan bahwa ketertarikan atas topik diaspora juga meningkat bukan hanya karena semakin tumbuhnya komunitas-komunitas serupa, tapi juga “karena peran mereka semakin diakui dalam politik global.”

Demikianlah, diaspora orang Rusia pasca revolusi 1917 ikut membantu kemenangan Soviet dan Sekutu atas Blok fasis pada Perang Dunia II; kalangan Yahudi liberal di New York didengar suaranya di forum-forum dunia terkait konflik Israel-Palestina; komunitas Kuba yang tinggal di Florida (salah satunya Marco Rubio, kandidat presiden dari Partai Republik AS), selama bertahun-tahun aktif melobi pemerintah AS untuk mendorong terciptanya kebijakan-kebijakan anti-Castro.

Terkait politik global kelompok-kelompok diaspora dari wilayah Indonesia, tercatat Gerakan Aceh Merdeka memperoleh dukungan finansial yang sangat besar dari sumbangan para tenaga kerja Aceh di Malaysia. Tekanan internasional terhadap Timor Leste bertambah besar dengan aksi-aksi solidaritas di luar negeri yang digalang oleh kalangan diaspora Timor—salah satunya adalah demo di Dresden, Jerman, menyambut lawatan Soeharto pada 1995.

Seiring lengsernya Soeharto, selesainya konflik di Aceh, dan kemerdekaan untuk Timor Leste, sebagian dari anggota diaspora kembali ke kampung halaman. Sebagian lainnya, misalnya sejumlah diaspora 1965, sejenak pulang dengan paspor asing—kewarganegaraan mereka dicabut dan tak pernah dipulihkan.

Kelompok terakhir inilah yang lazim dipanggil sebagai “orang-orang eksil”.

 

Ditulis oleh: Windu Jusuf

Pengantar tulisan di website ini: Wawan Kuswandoro

Gambar ilustrasi utama: dokumen pribadi Nikko Akbar.

Sumber tulisan: https://tirto.id/salah-kaprah-diaspora-crRD

 

Kerja Seusai Kuliah

Ini kisah teman-teman yang kuliah di universitas di Tiongkok, langsung kerja seusai kuliah S1. Lulus S1 maksudnya. Kalau aku sih secara umum, menurut kamus umum kebanyakan orang, selama kuliah ini mungkin belum bisa dikatakan ‘bekerja’. Walaupun dari aktivitasku itu aku mendapatkan insentif lumayan yang membuat hidupku di rantau ini lumayan menyenangkan hehe… Bukan bekerja ya? Gak pa pa… Bagiku yang penting bukan sebutannya, tapi substansinya… hoho….

Kalau selama kuliah di Tiongkok, memang tidak boleh kerja (baca tulisan terdahulu ya) dalam arti kerja dalam ikatan kontrak kerja dengan institusi pemberi kerja. Tetapi kalau melakukan aktivitas freelance yang dapat bernilai uang atau menghasilkan uang (dan itu banyak peluang di Tiongkok), ya boleh boleh saja. Apalagi era digital begini. Hampir seluruh “aktivitas berbau uang” tersebut dapat dilakukan secara online.

Dalam tulisan ini, aku bagikan sekilas saja, pengalaman teman-temanku, para seniorku yang lulus duluan dan kerja di Indonesia. Denger-denger sih dapat gaji yang lumayan gede, untuk ukuran fresh graduate. Kebanyakan mereka ini direkrut oleh pasar kerja karena pertimbangan bahasa Mandarin yang bagus. Ya iyalah, kuliah dan hidup di Tiongkok. Bahasa Mandarinnya sudah tak diragukan lagi. Inilah keunggulan minimalis kuliah di Tiongkok sodara-sodara…

Sebagian dari mereka sih bekerja di luar disiplin ilmunya. Pemberi kerja membutuhkan kecakapan bahasa Mandarin saja. Jika soal ini, lulusan universitas di Indonesia juga demikian. Misalnya, lulusan jurusan teknik sipil kerja di bank hehe..

Nah.. sebagian teman-temanku, seniorku juga gitu. Kadang yang seperti ini juga karena mereka kuliah di Tiongkok supaya mendapat “gelar ekstra” lulusan Tiongkok  dan ingin memperdalam bahasa Mandarin saja. Hitung-hitung, dapat bahasa, dapat ilmu. Ada tuh seniorku, G (perempuan), lulus universitas kedokteran di Chongqing, kerja sebagai interpreter bahasa Mandarin di Indonesia. Gajinya lumayan gede. Anaknya seneng banget ternyata. Nah..

Ada pula, Calin, lulus dari teknik informatika universitas di Zhengzhou University, langsung mendapat tawaran kerja di bank terkemuka Indonesia berkedudukan di kantor pusat (headquarter), di Jakarta. Tanpa tes pula, “hanya” memperlihatkan ijazah universitas di Tiongkok tersebut. Pihak bank tersebut sudah langsung percaya kualifikasi yang dibutuhkan begitu melihat ijazah dari universitas di Tiongkok. Lagi-lagi, bahasa Mandarin yang diutamakan.

Lho… kenapa gak kuliah jurusan bahasa Mandarin saja?

Jusru dengan kuliah jurusan teknik, informatika, kedokteran, psikologi, dll, bisa dapat ilmu-ilmu tersebut disamping bahasa Mandarin yang pasti didapatnya pula!

Kecuali kalau memmang mau mempelajari bahasa Mandarin hingga ke akar-akarnya, ke aspek sastra Mandarin misalnya atau kebudayaan Tiongkok misalnya. Lain soal. Kalau “hanya” ingin menguasai bahasa Mandarin, kuliahlah di jurusan yang kamu sukai, dapat ilmu dobel deh… dapat ilmu yang kamu sukai itu, dapat pula bahasa Mandarin! 

Masih banyak contoh lain kisah sukses kerja seusai kuliah. Begitu lulus kuliah langsung dapat kerja. Lapangan kerja yang paling “mudah” adalah guide bahasa Mandarin dan penerjemah bahasa Mandarin.

Menurut penuturan beberapa pelaku usaha tour and travel, dan dibenarkan oleh tour leader-nya, bahwa honor untuk guide bahasa Mandarin lebih mahal daripada guide bahasa Inggris! Mungkin bahasa Inggris sudah dianggap pasaran kali yaa…. 🙁 🙂

Dan, penerjemah bahasa Mandarin juga lumayan gede gajinya… wuih wuih… hehe…

Kisah-kisah kerja seusai kuliah, akan kutulis lagi di tulisan mendatang ya gaess… Akan kucari nara sumber lain nanti, yakni mereka yang kerja selulus kuliah. Kalau mereka ada waktu, mereka sendiri yang kuminta menuliskan pengalaman mereka sendiri untuk diterbitin di sini. Gimana gaes….

Okay gaess… sampai ketemu di tulisan mendatang ya….

Tetap semangat… jia you ! 加油 !

  • Terms of Service
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Copyright 2017 KuliahTiongkok.com
Design By: ZonaWeb.Co.Id

Perlu Bantuan? Silakan Chat Kami

Hallo. Selamat Datang di Website KuliahTiongkok.com. Silakan chat Customer Support kami di sini.

Bagian Penjemputan & Perbantuan di Tiongkok

Nikko

Online

Bagian Pendaftaran & Administrasi

Wawan

Online

Nikko

Hallo, saya Nikko. Ada yang bisa saya bantu terkait PENJEMPUTAN & PERBANTUAN DI TIONGKOK? 00.00

Wawan

Hallo, saya Wawan. Ada yang bisa saya bantu terkait PENDAFTARAN & ADMINISTRASI? 00.00