Masalah? Renaturasi Aja!

Masalah? Renaturasi Aja!

Semua orang, siapa pun dan dimana pun, pasti pernah mengalami masalah. Beda orang, beda kebutuhan, beda pula masalah yang dialami. Seiring pertumbuhan dan perkembangan diri kita, masalah yang kita alami pun bervariasi.

Ketika kecil, masalah terbesar kita biasanya berkaitan dengan permainan, entah selalu kalah setiap bermain, selalu dicurangi, dll. Ketika kita beranjak remaja pun, masalah yang dialami pun bertambah kompleks, salah satu contoh paling umum yaitu yang berkaitan dengan asmara. Entah itu bertengkar dengan pacar, ditolak gebetan, maupun baper setelah bertemu mantan yang sudah lama tidak bersua. *Ehm* Begitu pula ketika kita telah mulai menjadi manusia dewasa, masalah yang dialami bukan hanya melulu soal cinta, tetapi juga berkembang menjadi seputar pekerjaan, entah bermasalah dengan bos atau rekan kerja, atau gaji yang dirasa terlalu kecil, dan masih banyak lagi.

Intinya, selama kita hidup kita pasti menghadapi suatu kondisi yang sangat tidak menyenangkan dan selalu merugikan kita: MASALAH. Berkaitan dengan masalah, lain orang lain pula caranya menyelesaikannya.

Reaksi yang paling umum kita lakukan ketika pertama kali mengalami masalah adalah: EMOSI. Ya, percaya atau tidak, kebanyakan orang langsung naik pitam, atau berubah menjadibad moodloyo, tidak semangat, ketika pertama kali mendapat masalah. Bahkan ada yang menjadi stress dan langsung berdampak negatif terhadap pekerjaan maupun kehidupan sosialnya. Hampir tidak ada orang yang langsung tenang atau kalem-kalem saja ketika menghadapi masalah, apalagi senyam-senyum/cengengesan. Minimal pasti langsung kesal atau kecewa.

Hal tersebut sebenarnya lumrah, selama tidak terlalu berlarut-larut dalam perasaan-perasaan negatif tersebut. Selama tidak terlalu terbuai oleh emosi yang, sebenarnya, tidak membantu sama sekali dalam pemecahan masalah kita. Yaah, tentu saja tidak ada satu orang pun yang mau terus menerus berlarut-larut dalam emosi negatif tersebut. Namun apa daya, mengembalikan mood dan semangat untuk beraktivitas saja susah, apalagi mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Susah berkali lipat!

Namun, ternyata kunci penyelesaiannya ada di diri kita sendiri. Lebih tepatnya ada di salah satu komponen yang dimiliki oleh setiap sel kita, dan ternyata kita turunkan ke keturunan kita: DNA.

kuliah tiongkok

DNA merupakan molekul yang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena di dalamnya terdapat informasi genetik, atau yang biasa disebut gen, yang menentukan ciri-ciri kita, seperti warna kulit, jenis rambut, warna mata, dll. Segala ciri-ciri yang ada di diri kita saat ini, sebagian besar berasal dari gen yang diwariskan oleh kedua orangtua kita, dan nantinya akan kita turunkan pula ke anak cucu kita.

Ketika berada di suhu yang cukup tinggi, molekul DNA akan pecah, rusak, tidak dapat berfungsi dengan baik. Namun, ketika suhu diturunkan, atau dengan kata lain, molekul DNA tersebut didinginkan, molekul-molekul DNA yang tadinya rusak bergabung kembali menjadi DNA yang utuh. Molekul DNA yang telah utuh kembali ini pun dapat berfungsi kembali.

Sama seperti DNA yang terdapat di setiap sel tubuh kita, ketika kita terlarut dalam emosi ketika menghadapi masalah, kita akan susah untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang kita alami. Diri kita sedang ter’denaturasi’. Bagaimana bisa mencari jalan keluar, jika kondisi diri kita sendiri saja tidak optimal?

Namun, jika kita bersedia untuk cooling down sejenak, menenangkan diri kita sendiri walaupun untuk sekejap saja, pasti ditunjukkan jalan keluarnya. Pasti ada saja jalan atau ‘hidayah’ yang kita terima, sehingga kita dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan baik. Intinya, kita harus ‘mendinginkan kepala’ kita terlebih dulu, agar diri kita ini ter-’renaturasi’ kembali, menjadi ‘satu kesatuan yang utuh’ kembali.

Cara me’renaturasi’ diri ini biasanya berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang melakukannya dengan beribadah, meditasi, membaca buku, main games, dan masih banyak lagi, tergantung dari kepribadiannya. Apapun cara yang ditempuh, tujuannya tetap satu: Menenangkan diri agar dapat menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Segala jawaban terhadap pertanyaan, keraguan, atau hal-hal lain yang mengusik kehidupan sehari-hari kita ternyata telah disediakan di dalam diri kita sendiri. Jika kita ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang tubuh kita, ternyata di dalamnya terdapat berbagai macam informasi penting yang mampu membantu kita dalam menjalani hidup sehari-hari.***

 

Tulisan ini pernah diterbitkan di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/02/masalah-renaturasi-aja.html

 

Jadi Tumor Masyarakat, Mau?

Jadi Tumor Masyarakat, Mau?

Setiap orang, terutama anak muda, pastinya kan punya keinginan untuk bebas mengembangkan dirinya. Bebas berkreasi, pengen membuktikan kalo dirinya bisa dan bukan orang sembarangan. Pengen membuktikan kalo dia itu bisa sukses. Termasuk saya, kamu, kalian juga, pasti ada keinginan semacam itu. Intinya aktualisasi diri agar diterima di lingkungan masyarakat.

Caranya ya tentu saja bervariasi, tergantung dari lingkungan mana yang pengen didapatkan pengakuannya. Kalo dia ingin terjun ke lingkungan yang menganggap orang pintar itu keren, tentunya yaa dia akan belajar segiat mungkin agar diterima oleh orang-orang di lingkungan itu. Kalo dia ingin masuk ke lingkungan yang mengaggap orang yang badannya bagus itu keren, pastinya yaa dia bakal lebih sering work out ke gym, bikin badannya jadi bagus, berotot dan ideal, agar diterima dilingkungan tersebut. Dan sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

Cuman, dalam upaya agar diterima di lingkungan masyarakat tertentu, ada orang-orang yang, istilahnya, kebablasan dalam berusaha. Saking kelewat pengennya dia agar diakui oleh masyarakat, dia jadi lose control, lupa diri dan malah melakukan sesuatu yang justru membahayakan dirinya.

kuliah tiongkokKasus-kasus seperti sekelompok pemuda yang overdose karena lagi pesta miras oplosan (itu merekanya yang emang udah gila siih, masa’ iya miras dicampur sama Baygon lah, sol sepatu lah), para muda-mudi yang memamerkan foto mereka sedang beradegan gak senonoh, bikin graffiti di tembok rumah orang pake gambar kemaluan ato bahasa-bahasa kasar, bisa jadi salah satu contohnya.

Biasanya anak-anak yang seperti itu kan mereka yang merasa gak dapet kasih saying di rumah, gak cukup dapet perhatian dari keluarga, ato justru anak-anak yang terlalu dikerasin sama ortunya. Intinya mereka yang gak bisa mengekspresikan diri mereka dengan cara yang bener, jadinya mereka memilih untuk melampiaskannya di luar. Caper ke orang-orang lain, tapi caranya salah. Berusaha untuk tumbuh dengan caranya sendiri, tapi kebablasan.

Persis seperti tumor.

Loh?

Kok tumor?

Iya, tumor kan sel yang tumbuhnya kelewat cepet. Ini bisa terjadi soalnya ada salah satu komponen sel, yang fungsinya cukup penting buat pembelahan sel, Protein Kinase C, kelebihan jumlahnya. Jadi pas sel-sel yang lain masih membelah diri jadi dua, empat sel, si sel tumor ini udah tumbuh jadi puluhan bahkan ratusan sel yang bikin kelompok sendiri.

Apa bagus?

Tenyata nggak.

Kumpulan sel-sel yang kebablasan pertumbuhannya itu ternyata bisa mengganggu dan menghambat pertumbuhan sel-sel normal di sekitarnya. Si sel-sel normal itu akhirnya jadi ‘kejepit’, gak bisa beraktifitas normal, dan ujung-ujungnya malah mati. Dan parahnya, kalo udah dalam tahap akut, si tumor ini nantinya juga bakal nyebar ke bagian tubuh yang lain, jadi kanker. Aktivitasnya yaa gak beda jauh dengan pas jadi tumor, mengganggu aktivitas sel-sel di sekitarnya.

kuliah tiongkok

Apa tubuh kita gak melakukan sesuatu untuk menghabisi si tumor ini? Tentu iya, cuman karena si sel tumornya ini yang udah kelewat kuat, jadi sel-sel pertahanan tubuh kita sendiri kewalahan.

Cara yang bisa ditempuh yaa akhirnya operasi. Membuang si tumor ini. Daripada mengacau di dalam tubuh, ya kan?

Naahh, sekarang siapa yang mau jadi kaya’ si tumor ini? Tentunya gak ada toh. Jangan sampai karena keinginan egois kita pribadi untuk mengembangkan diri kita, untuk menujukkan/memamerkan jati diri kita, kita jadi lupa diri, lupa untuk mengontrol diri kita sendiri. Emang ingin berkarya itu baik, tapi kudu tetep tau aturannya kan? Tetep harus memperhatikan norma-norma sosial yang ada di masyarakat kita. Kalo gak, yaa siap-siap aja kita disebut Tumor Masyarakat. Siap-siap aja bernasib sama seperti si tumor itu, di’operasi’ dari lingkungan masyarakat, alias dipaksa untuk keluar, dikucilkan. Alih-alih mendapat pengakuan yang kita idam-idamkan, yang kita dapat justru kecaman, hinaan dan caci-makian.

Karena yaa emang kitanya yang gak tau batas, malah mengganggu keamanan dan kenyamanan penduduk sekitar. Berkarya dengan baik, bahkan kalau perlu mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar, seperti ngadain kerja bakti bersihin kali kah, meramaikan langgar di kampung setempat kah.

Kan masih banyak aktivitas positif lain, yang selain bisa membantu kita menunjukkan ke masyarakat “siapa diri kita sebenarnya”, tetapi juga mendapat bantuan & dukungan dari orang-orang. Bikin mereka seneng, ato seenggaknya gak bikin mereka risih.

Bisa kan? Pasti bisa.

NB: Jika kalian merasa konten blog ini menarik, bisa like Facebook: CalonDokter, untuk update postingan berikutnya.

Ditunggu komentar, kritik & sarannya yaa agar CalonDokter semakin berkembang!

Terima kasih ^0^

 

Tulisan ini pernah dimuat di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/02/jadi-tumor-masyarakat-mau.html

 

Cellular Signal ‘Gosipping’ (English)

Hey, did you know? Last night when I was taking a stroll with Manish, suddenly we bumped into Neil and Riri. They were holding hands and then bla bla bla… And, ugh, after that I felt bla blueh bleh…

           The dialog shown above is one of the conversation, which I often heard, from my girl friends (not girlfriends, I don’t even have any at the moment, sadly speaking). The conversation which is, actually, capable to fills the gloomy and lonely days of ours. The conversation which had became a media for us to communicate and gather information. The conversation which, at a glimpse, seems to has no end and, strangely enough, would never run out of topic every day. The conversation which, seems had, became the first to check in our To-Do List, when we’re hanging out with friends, especially for the girls. What kind of conversation am I talking about, anyway?

Well, let me give you some clues:

Firstly, This conversation is widely popular among girls

Secondly, This conversation is commonly used by using this kind of system: Source of information/Informant à First Receiver à Second Receiver à Third, Fourth Receiver, and so on

Thirdly, The main function of this kind of conversation is to relay information from one source, which is the informant, to one another continuously. So that the majority of others know about it.

Yepp, the kind of conversation that I’m talking about is: Gossip, a kind of information gathering which depends on the continuously relay of information from one person to the others. Gossiping seems like to have already become something non-unfamiliar for us, whoever we are and wherever we are, it can be stated for sure that we had ever participated in it. No matter if we acknowledge it or not. No matter if we remember in doing so or not.

And, curiously speaking, the stereotype of gossiping had, since many years ago, become a distinct characteristic of females, although, in some cases, males are also willing to take a role in it. Or to be precise, are curious to know some up to date information from our surroundings.

Since the desire to know, based on advanced form of Maslow’s Hierarchy of Needs, is one of the things that we, as humans, considered to be important to be fulfilled. Thus, creating the overwhelming urge in ourselves, consciously or not, to gather as much information as we could. And gossip, for some people, provided the decent fulfillment for that necessity.

Although the authenticity and credibility of the information in gossip is highly questionable, but, well, that’s not the point here actually.

The point is the way or method of how the gossip was spread and being relayed is, in fact, pretty much similar to one of the metabolic process in our body, which called Cellular Signal Transduction/CST.  The main function of this process is to relay the information from the extra-cellular environment into the cell, which will then react accordingly to the information given.

For example: The glucagon hormone in the blood stream will tell the hepatocytes in our liver, whether it should increase the glycogen level or not.

And, the main and unique feature of this process, which is somewhat similar to gossip, is the continuously relay of information from one molecule to the others, which is called cascade. The continuously relay of information, which was started from the outer membrane-receptor, to the intracellular signal transducers (including second messenger and other proteins), then to the effecter protein, which then will have a specific reaction according to the information given, has the role of enhancing and strengthening the information’s signal.

In other words, the longer the cascade is, that means that the more important the information that was being relayed. Pretty much similar to gossip: the more people know about it, then the more interesting and ‘important’ the gossip really is, isn’t it?

Furthermore, the process of CST is somewhat resembled the one that of the gossip:

First, The first process of CST is the binding of information-carrying molecules, which is called ligand, to the specific outer membrane-receptors. There are a lot of ligands in our body, such as: hormones (Glucagon, Angiotensin, Vasopressin etc) Acetylcholine, etc. This process, simply speaking, is the analogy of the relay of gossip information from the informant to the first receiver.

Second, After the ligand has bind to the receptor, it will trigger the next molecules to active:intracellular signal transducers. This molecules, which is consisted of: second messenger, such as cGMP and cAMP (nucleotides), Calcium ion, DAG (lipid), etc; and other protein molecules, such as G-Protein, Adaptor Protein, Schaffold Protein, Protein Kinase/Phosphate, etc, served the role of enhancing and strengthening the information’s signal.  This is similar to the relay of the gossip news from the first receiver to the second receiver, or from the second receiver to the third receiver, and so on.

Third, The activation of the intracellular signal transducers will activate the other molecules, known as the effecter protein, which is functioned to give a response according to the information that has been relayed. This is the final process of the ‘gossip cascade’, when every related components have served their role in relaying the information and the accordingly response has been commenced.

Based on that simple explanation, it can be concluded that thanks to the ‘gossiping’ of the related components which composed our cells, we’re able to maintain our metabolic process, which has supported our life up until now. So, frankly speaking, are we being maintained and supported through gossip? Unfortunately, it seems so. But, as long as we use that ‘gossip’ for the good of others, it’s okay right? Just like how our body is ‘gossiping’ through the Cellular Signal Transduction pathways.

I’m joking, there’s basically no good in gossip.

But anyway, thanks for reading the article!

 

This article was also published in:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/01/cellular-signal-gosipping-english.html

 

Cellular Signal ‘Gossiping’

Cellular Signal ‘Gossiping’

 Eh La, lu tau gak siih semalem kan gue jalan sama si Manish. Eh, tiba-tiba ketemu sama si Riri & Neil gandengan tangan trus mereka bla bla bla.. Iiihh kan gue jadinya blueh blueh bleh…”



Kutipan dialog di atas merupakan percakapan, yang seringkali saya dengar, dari teman-teman saya, terutama perempuan, yang kerap kali mengisi hari-hari kami yang terkesan sunyi dan monoton. Percakapan yang acap kali menjadi media kita untuk berkomunikasi dan mengumpulkan informasi. Percakapan yang, sekilas, terkesan tiada henti dan, anehnya, tidak pernah kehabisan bahan setiap harinya. Percakapan yang, seolah, menjadi menu wajib yang pasti dilakukan setiap berkumpul bersama kawan, terutama oleh ibu-ibu arisan, dari kalangan mana pun. Percakapan apa sih yang dimaksud?

 

Well, mari saya beri petunjuk:

Satu, Percakapan tersebut umumnya dilakukan oleh perempuan;

Dua, Percakapan ini biasa dilakukan dengan sistem seperti berikut: Sumber informasi à Penerima pertama à Penerima kedua à Penerima ketiga, keempat dst.

Tiga, Fungsi dari percakapan sejenis dengan sistem seperti itu adalah penyampaian informasi dari satu sumber (informan) ke pihak-pihak lain secara beruntun, sehingga (hampir) semua orang mengetahuinya.

Yapp, percakapan yang saya maksud adalah: GosipGosip-menggosip seakan sudah menjadi hal yang tidak asing di keseharian kita, siapa pun dan di mana pun kita berada, sudah bisa dipastikan kita pasti pernah terlibat di dalamnya. Hayoo, akui saja sudah. Dan entah kenapa stereotip gosip selalu ‘dituduhkan’ kepada kaum Hawa, padahal tidak menutup kemungkinan beberapa golongan dari kaum Adam pun menyukainya. Atau lebih tepatnya, menyukai informasi yang dibawa melalui gosip tersebut, karena biasanya hal yang biasa digosipkan adalah informasi-informasi ter-up to date dari lingkungan sekitar. Tentu saja tidak ada yang mau dibilang kudet kan?

Salah satu karakteristik utama dari gosip, selain dari pelaku, yaitu dari mekanisme penyampaian informasinya, yang umumnya melibatkan: Sumber informasi/informan, Penerima Pertama, Penerima Kedua, Penerima Ketiga, Keempat, dst. Intinya adalah: Menyampaikan informasi secara beruntun dari satu pihak ke pihak lain, sehingga informasi tersebut dapat dengan mudah diketahui dan diakses oleh semua orang. Yaah, walaupun keabsahan informasi gosip memang patut dipertanyakan. But, well, that’s not the point.

 

Dan ternyata, dengan menggunakan prinsip yang sama, komponen-komponen penyusun sel-sel tubuh kita pun ber’gosip’ untuk menerima dan menyampaikan informasi dari luar sel. Proses ini dinamakan Transduksi Sinya Sel (Cellular Signal Transduction/CST). Fungsi dari proses ini adalah, tentu saja, menyampaikan informasi yang berasal dari lingkungan di luar sel (extracellular) ke protein terkait, sehingga menghasilkan reaksi yang sesuai dengan informasi yang diterima.

Contoh: Hormon Glukagon akan mengirimkan informasi ke dalam sel-sel hati (Hepatocytes) terkait kadar glikogen di dalam hati, apakah sebaiknya ditingkatkan atau diturunkan.

Dan, fitur unik dari proses ini adalah adanya serangkaian reaksi beruntun dalam penyampaian informasinya, atau yang biasa disebut dengan cascade. Penyampaian informasi secara beruntun, yang bermula dari reseptor/penerima yang terletak di membran luar sel,intracellular signal transducers (meliputi second messenger & protein lainnya), protein efektor, hingga menghasilkan respon yang sesuai, ini berfungsi untuk memperkuat sinyal informasi yang dibawa.

Dengan kata lain, semakin panjang dan rumit cascade yang ada, maka bisa dibilang semakin penting informasi yang dibawa. Kurang lebih sama kan dengan gosip: Semakin panjang rantai penerima berita gosip, berarti semakin menarik dan ‘penting’ lah gosip tersebut. Bukan begitu?

Selain itu, proses CST ini ternyata kurang lebih beti (beda tipis) loh dengan sistem gosip.

Satu, Proses pertama dari CST yaitu menempelnya molekul pembawa informasi dari luar sel, atau yang biasa disebut dengan ligan, ke reseptor yang terletak di membrane luar sel. Tahap ini bisa dianalogikan dengan penyampaian gosip dari Informan ke Penerima Pertama.

Dua, Melekatnya molekul ligan ke reseptor, akan mengaktifkan ‘pihak’ berikutnya yang disebutintracellular signal tranducers. Molekul ini, terdiri dari: second messenger, seperti ion kalsium/ Ca2+, DAG (lipid/lemak), cAMP & cGMP (nukleotid), dll;  serta protein lainnya seperti: G-Protein, Protein Adaptor, Protein Kinase/Phosphatase, dll, berfungsi untuk memperkuat sinyal informasi yang sedang disampaikan. Atau, dengan kata lain, tahap ini merupakan tahap penyampaian gosip dari Pihak Pertama ke Pihak Kedua, atau dari Pihak Kedua ke Pihak Ketiga, dst

Tiga, Aktivasi dari intracellular signal tranducers ini kemudian akan mengaktivasi senyawa protein efektor, yang berfungsi untuk menghasilkan reaksi terkait dengan informasi yang telah diterima. Senyawa ini dapat berupa enzim metabolik, protein regulator gen, atau pun protein cytoskeleton. Pada tahap ini, ‘gosip’ telah mencapai tahapan final ketika seluruh komponen terkait telah menerima informasi dan, bisa dipastikan, respon yang diinginkan telah terwujud.

Nah, berdasarkan penjelasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa komponen penyusun sel tubuh kita pun, ber’gosip’ untuk menyampaikan dan memperkuat informasi, sehingga terjadilah serangkaian proses metabolik yang menunjang kehidupan kita. Berarti, kita bisa tetap hidup dan beraktivitas, berkat gosip donk? Sayangnya, berdasarkan pengetahuan yang saya terima, iya. Namun, tetap lah perhatikan penggunaan dan penempatan gosip yang tepat. Marilah kita ‘bergosip’ untuk menyebarkan berita baik dan membawa manfaat bagi sesama, sama halnya dengan proses Cellular Signal Transduction di dalam tubuh kita.

Salam Ilmu Pengetahuan!

 

NB: Jika kalian merasa konten blog ini menarik, bisa like Facebook: CalonDokter, untuk update postingan berikutnya.

Ditunggu komentar, kritik & sarannya agar CalonDokter semakin berkembang!

Terima kasih ^0^

 

Tulisan ini pernah terbit di:

http://nikkoakbar.blogspot.com/2016/01/cellular-signal-gossiping.html

 

  • Terms of Service
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Copyright 2017 KuliahTiongkok.com
Design By: ZonaWeb.Co.Id

Perlu Bantuan? Silakan Chat Kami

Hallo. Selamat Datang di Website KuliahTiongkok.com. Silakan chat Customer Support kami di sini.

Bagian Penjemputan & Perbantuan di Tiongkok

Nikko

Online

Bagian Pendaftaran & Administrasi

Wawan

Online

Nikko

Hallo, saya Nikko. Ada yang bisa saya bantu terkait PENJEMPUTAN & PERBANTUAN DI TIONGKOK? 00.00

Wawan

Hallo, saya Wawan. Ada yang bisa saya bantu terkait PENDAFTARAN & ADMINISTRASI? 00.00